JAKARTA - Pasar kripto mengawali pekan ini dengan suasana yang masih dibayangi kehati-hatian.
Bitcoin, sebagai aset digital terbesar dunia, sempat menunjukkan upaya pemulihan terbatas setelah melewati tekanan tajam dalam beberapa hari sebelumnya. Pergerakan ini menjadi perhatian karena terjadi usai Bitcoin jatuh ke bawah level psikologis penting yang jarang tersentuh dalam setahun terakhir.
Pada perdagangan Senin waktu Amerika Serikat, harga Bitcoin tercatat mulai bergerak stabil meski belum sepenuhnya pulih. Investor global mencermati perkembangan ini sebagai sinyal awal apakah tekanan jual telah mereda atau justru masih menyisakan risiko lanjutan di pasar kripto.
Pergerakan Harga Bitcoin Awal Februari
Mengacu pada data CoinMetrics yang dikutip dari CNBC, Selasa, Bitcoin diperdagangkan di level USD 78.233,92 pada Senin sore waktu AS. Angka tersebut mencerminkan penguatan sekitar 1 persen dalam 24 jam terakhir, meski belum cukup untuk menutup kerugian yang terjadi sepanjang pekan sebelumnya.
Sebelumnya, harga Bitcoin sempat merosot hingga menyentuh USD 74.876 sebelum akhirnya memangkas sebagian penurunannya. Secara mingguan, Bitcoin tercatat telah terkoreksi sekitar 12 persen dan menghapus nilai kapitalisasi pasar lebih dari USD 200 miliar, berdasarkan data CoinMarketCap.
Penurunan ini menjadi yang paling dalam sejak April 2025, ketika Bitcoin terakhir kali berada di bawah level USD 80.000. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru di kalangan investor ritel maupun institusi.
Sentimen Global Dan Likuiditas Tipis
Analis riset di bursa kripto Nexo, Dessislava Ianeva, menilai bahwa pelemahan Bitcoin tidak dipicu oleh persoalan fundamental di pasar kripto. Menurutnya, tekanan harga lebih banyak dipengaruhi oleh pergeseran sentimen global menuju aset berisiko rendah atau risk-off.
“Penurunan Bitcoin bertepatan dengan perubahan sentimen global ke arah risk-off dan diperparah oleh likuiditas akhir pekan yang sangat tipis, bukan oleh isu spesifik kripto atau tekanan fundamental,” ujar Ianeva.
Kondisi likuiditas yang menipis selama akhir pekan membuat pergerakan harga menjadi lebih tajam. Dalam situasi seperti ini, volume transaksi yang relatif kecil dapat memicu fluktuasi besar, sehingga memperdalam tekanan di pasar kripto.
Korelasi Bitcoin Dengan Pasar Saham
Bitcoin selama ini dikenal memiliki korelasi dengan aset berisiko lainnya, termasuk saham. Tekanan yang terjadi di pasar saham global turut memberi dampak signifikan terhadap pergerakan harga kripto. Pada Jumat lalu, Wall Street mengalami tekanan besar, terutama pada saham teknologi.
Saham Microsoft tercatat anjlok hingga 10 persen setelah merilis laporan kinerja yang dinilai mengecewakan. Sentimen negatif tersebut kemudian menyebar ke bursa Eropa dan Asia, memperkuat tekanan pada aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Di saat yang sama, harga emas dan perak juga melanjutkan pelemahan. Bahkan, perak sempat jatuh hingga 30 persen dalam satu hari, mencatatkan penurunan harian terburuk sejak Maret 1980. Situasi ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.
Aksi Likuidasi Memperdalam Tekanan
Tekanan terhadap harga Bitcoin juga diperparah oleh aksi likuidasi paksa di pasar derivatif kripto. Likuidasi terjadi ketika posisi perdagangan otomatis ditutup karena harga menyentuh level tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya.
Data Coinglass mencatat lebih dari USD 2 miliar posisi long dan short Bitcoin telah terlikuidasi sejak Kamis lalu. Pada Sabtu saja, total likuidasi di pasar kripto mencapai USD 2,56 miliar, menjadikannya salah satu dari 10 peristiwa likuidasi terbesar sepanjang sejarah kripto.
Aksi likuidasi berskala besar ini menciptakan efek domino, di mana tekanan jual semakin meningkat dan mempercepat penurunan harga dalam waktu singkat.
Kebijakan Moneter Dan Arus Dana Keluar
Investor juga mencermati perkembangan kebijakan moneter global, terutama setelah Kevin Warsh ditunjuk untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve. Pergantian ini memicu spekulasi baru terkait arah kebijakan suku bunga dan likuiditas global ke depan.
Di sisi lain, minat investor terhadap aset kripto tercatat mengalami penurunan. CoinShares melaporkan bahwa produk investasi aset digital mencatat arus keluar dana sebesar USD 1,7 miliar dalam dua pekan terakhir. Dengan demikian, total arus keluar sepanjang tahun ini telah mencapai sekitar USD 1 miliar.
“Ini menandakan penurunan signifikan dalam sentimen investor terhadap kelas aset ini,” kata Kepala Riset CoinShares, James Butterfill. Data tersebut memperkuat gambaran bahwa tekanan di pasar kripto masih cukup besar.
Risiko Geopolitik Dan Proyeksi Ke Depan
Analis Bitbank, Yuya Hasegawa, menyebut aksi jual Bitcoin dipicu oleh kombinasi meningkatnya risiko geopolitik, pelemahan saham teknologi, serta runtuhnya harga logam mulia yang sebelumnya berperan sebagai aset lindung nilai.
Meski kerap disebut sebagai pelindung nilai saat gejolak pasar, Bitcoin tercatat telah turun sekitar 22 persen dalam setahun terakhir. Mata uang kripto lain seperti Ether dan XRP juga mengalami pelemahan seiring dengan tekanan yang melanda pasar secara luas.
Ke depan, volatilitas Bitcoin diperkirakan masih akan tinggi. Hasegawa menilai Bitcoin berpotensi menemukan level dasar jangka pendek di kisaran USD 70.000. Namun, pandangan lebih pesimistis disampaikan Kepala Strategi Ekuitas Zacks, John Blank, yang memperkirakan harga Bitcoin bisa turun hingga USD 40.000 tahun ini.
“Kita bisa mencapainya dengan sangat cepat, atau lebih mungkin dalam enam hingga delapan bulan ke depan,” ujarnya. Sebagai catatan, dalam siklus sebelumnya Bitcoin pernah terkoreksi hingga 70 persen sampai 80 persen dari level tertingginya, sehingga risiko penurunan lanjutan tetap perlu diwaspadai oleh investor.