IHSG

Fenomena IHSG Anjlok Kembali Menkeu Jelaskan Sentimen Pasar Dan Fundamental Ekonomi Nasional

Fenomena IHSG Anjlok Kembali Menkeu Jelaskan Sentimen Pasar Dan Fundamental Ekonomi Nasional
Fenomena IHSG Anjlok Kembali Menkeu Jelaskan Sentimen Pasar Dan Fundamental Ekonomi Nasional

JAKARTA - Tekanan kembali menyelimuti pasar saham domestik setelah Indeks Harga Saham Gabungan mencatatkan penurunan tajam pada awal Februari 2026. 

Kondisi ini terjadi meskipun pemerintah dan otoritas pasar modal telah bergerak cepat mengisi kekosongan sejumlah posisi strategis. Fenomena koreksi mendalam tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar mengenai faktor pemicu dan arah pergerakan IHSG ke depan.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai gejolak yang terjadi tidak lepas dari dinamika sentimen pasar. Menurutnya, reaksi investor lebih dipengaruhi oleh sikap menunggu kepastian di tengah perubahan kepemimpinan lembaga keuangan. Namun demikian, pemerintah menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur yang kuat dan terkendali.

Tekanan Pasar Warnai Awal Februari

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia melalui RTI, IHSG pada penutupan perdagangan Senin (2/2/2026) ditutup melemah 406,87 poin atau turun 4,88% ke level 7.922,73. Sejak awal perdagangan, tekanan jual mendominasi pergerakan indeks sehingga menandai awal bulan yang cukup berat bagi pasar saham nasional.

Pelemahan tersebut terjadi di tengah upaya cepat pemerintah dan otoritas terkait dalam mengisi kekosongan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan serta pimpinan PT Bursa Efek Indonesia. Langkah-langkah ini sebelumnya diharapkan mampu meredam kekhawatiran investor, namun pasar masih menunjukkan reaksi negatif.

Volume dan nilai transaksi tetap mencerminkan aktivitas yang tinggi, tetapi mayoritas saham bergerak di zona merah. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi bersifat luas dan tidak hanya terbatas pada saham tertentu.

Seluruh Sektor Alami Koreksi

Penurunan IHSG sejalan dengan koreksi yang terjadi pada seluruh indeks sektoral. Sektor barang baku menjadi yang paling tertekan dengan penurunan mencapai 10,74%. Koreksi tajam ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi global.

Sektor barang konsumer non primer juga mengalami penurunan signifikan sebesar 7,67%. Diikuti sektor energi yang melemah 7,66%, serta sektor properti dan real estate yang terkoreksi 6,27%. Pelemahan merata ini menunjukkan bahwa sentimen negatif bersifat menyeluruh.

Kondisi tersebut menandakan bahwa pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual secara luas. Investor tampak memilih untuk mengurangi eksposur risiko sambil menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kepastian kebijakan dan kepemimpinan.

Pasar Menunggu Kepastian OJK

Menanggapi kondisi pasar yang bergejolak, Purbaya menilai pelaku pasar masih berada dalam fase wait and see. Ia menilai ketidakpastian terkait kepemimpinan OJK yang masih bersifat sementara menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor.

“Biar saja sih, habis naik turun-naik turun itu kan. Ada pergantian baru lagi, pergantian ketua OJK-nya. Mungkin market masih menunggu,” ujar Purbaya. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa fluktuasi jangka pendek dianggap sebagai reaksi wajar pasar.

Ia menambahkan bahwa belum adanya sosok Ketua OJK definitif membuat sebagian investor memilih menahan diri. “Ini kan masih sementara, siapa ketua OJK-nya. Mungkin market masih menunggu ketidakpastian itu,” lanjutnya.

Menurut Purbaya, kondisi tersebut tidak mencerminkan perubahan mendasar pada perekonomian. Lebih kepada respons psikologis pasar terhadap dinamika institusional yang sedang berlangsung.

Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Meski IHSG mengalami koreksi tajam, Purbaya menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Ia menyebut tidak ada perubahan signifikan pada indikator utama ekonomi nasional yang dapat memicu kekhawatiran jangka panjang.

Pemerintah, kata dia, tetap fokus menjaga stabilitas makroekonomi melalui kebijakan fiskal dan koordinasi dengan otoritas moneter. Langkah-langkah tersebut diyakini mampu menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global.

Purbaya bahkan melihat koreksi pasar sebagai peluang bagi investor yang memiliki pandangan jangka menengah dan panjang. Menurutnya, pergerakan pasar saham sering kali bersifat siklikal dan tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental secara langsung.

Koreksi Dipandang Sebagai Peluang

Dalam pandangan Purbaya, koreksi yang terjadi justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum investasi. Ia menekankan pentingnya melihat pasar dengan perspektif fundamental, bukan semata-mata pergerakan jangka pendek.

“Tapi harusnya kalau saya sih, saya akan serok ke bawah. Kenapa? Fondasi ekonominya masih bagus, tidak ada yang berubah, dan akan membaik terus ke depan,” pungkas Purbaya. Pernyataan ini menunjukkan keyakinannya terhadap prospek ekonomi nasional.

Ia menilai investor perlu membedakan antara volatilitas jangka pendek dan kekuatan ekonomi jangka panjang. Dengan pendekatan tersebut, fluktuasi pasar tidak selalu dipersepsikan sebagai ancaman.

Ke depan, pemerintah berharap kepastian kepemimpinan di OJK dan BEI dapat segera terwujud. Dengan demikian, sentimen pasar diharapkan kembali membaik dan IHSG dapat bergerak lebih stabil seiring dengan fundamental ekonomi yang tetap terjaga.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index