Properti

Pasar Properti Indonesia Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Masih Menjanjikan Bagi Investor

Pasar Properti Indonesia Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Masih Menjanjikan Bagi Investor
Pasar Properti Indonesia Tahun Dua Ribu Dua Puluh Enam Masih Menjanjikan Bagi Investor

JAKARTA - Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, sektor properti nasional tetap menunjukkan daya tariknya. 

Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode yang masih memberi peluang bagi masyarakat dan investor untuk menanamkan modal di bidang properti. 

Meski harga emas terus mengalami kenaikan dan nilai tukar rupiah cenderung melemah, properti dinilai tetap relevan sebagai instrumen investasi jangka panjang.

Pandangan tersebut mencerminkan optimisme pelaku industri yang melihat properti bukan sekadar aset fisik, tetapi juga sarana menjaga nilai kekayaan. 

Permintaan riil dari masyarakat, terutama di lokasi strategis, menjadi faktor utama yang menopang prospek pasar. Dengan pendekatan yang tepat, properti diyakini masih mampu memberikan imbal hasil yang stabil.

Co-Founder Linktown, Winaldo, menilai kondisi makroekonomi saat ini justru menegaskan posisi properti sebagai pilihan investasi yang rasional. Ia menyebutkan bahwa perubahan variabel ekonomi tidak serta-merta menggeser minat terhadap properti. Menurutnya, pasar memang menjadi lebih selektif, namun peluang tetap terbuka lebar.

Properti Tetap Relevan di Tengah Tekanan Ekonomi

Menurut Winaldo, jika melihat gambaran ekonomi secara menyeluruh, properti masih memiliki tempat penting di portofolio investasi masyarakat. Melemahnya rupiah dan naiknya harga emas menjadi indikator bahwa investor membutuhkan aset yang relatif stabil. Properti, dengan karakter jangka panjangnya, masih mampu menjawab kebutuhan tersebut.

“Pasar properti Indonesia di 2026 masih menarik, namun lebih selektif dan dipengaruhi oleh biaya pendanaan serta permintaan riil. Investasi properti tetap layak, terutama untuk jangka panjang dan di lokasi yang tepat,” tuturnya, Minggu.

Ia menambahkan, tantangan utama justru terletak pada kemampuan pelaku usaha membaca kebutuhan pasar. Properti yang ditawarkan harus sesuai dengan daya beli dan kebutuhan nyata masyarakat. Dengan strategi tersebut, risiko dapat ditekan dan potensi keuntungan tetap terjaga.

Prospek Pertumbuhan Tidak Merata di Semua Segmen

Dari sisi prospek, Linktown menilai pertumbuhan pasar properti pada 2026 masih terbuka, meski tidak merata di seluruh sektor. Beberapa segmen diperkirakan bergerak lebih cepat dibandingkan yang lain. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan pola konsumsi dan kebutuhan industri.

Segmen industri dan logistik diproyeksikan memiliki momentum yang cukup kuat. Aktivitas perdagangan dan distribusi yang terus berkembang mendorong kebutuhan lahan serta bangunan pendukung. Sementara itu, sektor hunian, perkantoran, dan apartemen diperkirakan tumbuh lebih stabil dengan laju moderat.

Kondisi tersebut menuntut pelaku bisnis untuk lebih selektif dalam menentukan fokus pengembangan. Pemilihan lokasi dan segmentasi pasar menjadi kunci agar proyek tetap diminati. Dengan strategi yang tepat, peluang pertumbuhan tetap dapat dimanfaatkan secara optimal.

Strategi Digital dan Kepercayaan Jadi Andalan

Dalam menghadapi dinamika pasar yang semakin kompetitif, Linktown mengandalkan strategi pemasaran berbasis digital. Pendekatan digital-first dinilai lebih efektif menjangkau konsumen yang kini semakin kritis dan teredukasi. Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam setiap proses pemasaran.

“Strategi ini dijalankan dengan fokus pada solusi yang tepat sasaran, didukung oleh konten yang edukatif serta proses tindak lanjut yang konsisten,” ungkap Winaldo. Ia menegaskan bahwa edukasi pasar menjadi bagian penting dalam membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Dengan memanfaatkan teknologi digital, proses pemasaran dapat berjalan lebih efisien. Selain itu, pendekatan ini memungkinkan perusahaan untuk memahami kebutuhan konsumen secara lebih mendalam. Hasilnya, penawaran produk dapat disesuaikan dengan preferensi pasar.

Target Penjualan dan Ekspansi Wilayah Baru

Memasuki 2026, Linktown akan menitikberatkan strategi pada efisiensi dan optimalisasi anggaran. Perusahaan juga melanjutkan sejumlah program penjualan yang terbukti efektif sepanjang 2025. Langkah ini diambil untuk menjaga kinerja bisnis tetap positif di tengah pasar yang selektif.

“Dengan strategi tersebut, Linktown menargetkan nilai penjualan sebesar Rp 3,5 triliun pada 2026,” jelas Winaldo. Target ini mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap potensi pasar properti nasional.

Selain itu, Linktown juga berencana melanjutkan ekspansi bisnis dengan meresmikan cabang Jawa Tengah setelah Lebaran 2026. Wilayah yang akan dicakup meliputi Yogyakarta, Solo, dan Semarang. Meski peresmian fisik dilakukan tahun ini, aktivitas penjualan di kawasan tersebut telah berjalan sebelumnya.

Kinerja Penjualan Positif Sepanjang Tahun Sebelumnya

Sementara itu, Co-Founder Linktown Abel Kurniajaya menyampaikan capaian perusahaan sepanjang 2025. Ia menyebutkan bahwa Linktown berhasil memasarkan sekitar 1.800 unit properti dengan total nilai penjualan mencapai Rp 3,1 triliun. Capaian tersebut menunjukkan tingginya minat pasar terhadap produk properti.

“Capaian tersebut didorong oleh tingginya minat pasar terhadap berbagai produk properti, baik hunian maupun komersial,” terangnya. Permintaan yang kuat menjadi indikator bahwa properti masih menjadi pilihan utama masyarakat.

Dari sisi wilayah, Tangerang tercatat sebagai kawasan dengan peminat tertinggi, disusul oleh Bekasi. Kisaran harga yang paling banyak diminati berada di rentang Rp 800 juta hingga Rp 5 miliar. Hal ini mencerminkan kuatnya permintaan di segmen menengah hingga atas.

Atas kinerja tersebut, Linktown meraih One Smile Club Award 2026 dari Sinar Mas Land. Penghargaan ini diberikan kepada agen properti yang berkontribusi besar dalam pencapaian penjualan sepanjang 2025. Capaian tersebut sekaligus menegaskan bahwa pasar properti masih menyimpan potensi menjanjikan di tahun 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index