JAKARTA - Keberhasilan Xiaomi menyalip Tesla di pasar mobil listrik China menjadi sinyal perubahan besar dalam peta persaingan kendaraan listrik global.
Setelah bertahun-tahun didominasi merek asing, khususnya Tesla, produsen lokal kini menunjukkan taringnya. Melalui Xiaomi SU7, perusahaan teknologi asal China itu membuktikan bahwa inovasi, harga kompetitif, dan kekuatan merek lokal mampu menggeser dominasi lama di segmen premium.
Capaian penjualan Xiaomi SU7 sepanjang tahun lalu menjadi bukti konkret. Dengan angka penjualan yang melampaui Tesla Model 3, Xiaomi tidak hanya mencetak rekor, tetapi juga mengangkat kebanggaan industri otomotif nasional China. Momentum ini sekaligus menandai babak baru persaingan EV yang semakin ketat dan dinamis.
Penjualan Xiaomi SU7 Melampaui Tesla Model Tiga
Data Asosiasi Mobil Penumpang China menunjukkan Xiaomi SU7 mencatat penjualan 258.164 unit sepanjang tahun lalu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Tesla Model 3 yang membukukan 200.361 unit. Informasi ini dikutip dari South China Morning Post pada Minggu.
Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting bagi produsen kendaraan listrik lokal. Selama beberapa tahun terakhir, Tesla Model 3 dikenal sebagai sedan listrik premium terlaris di China. Namun, kehadiran Xiaomi SU7 berhasil mematahkan dominasi tersebut secara signifikan.
Keberhasilan ini juga mencerminkan perubahan preferensi konsumen China. Merek lokal kini dinilai mampu menghadirkan kualitas, teknologi, dan desain yang tidak kalah dengan produk asing. Bahkan, dalam beberapa aspek, Xiaomi dianggap lebih relevan dengan kebutuhan pasar domestik.
Dominasi Tesla Mulai Tergerus Persaingan Lokal
Sejak diluncurkan di pasar China pada akhir 2019, Tesla Model 3 yang dirakit di Gigafactory Shanghai sempat memimpin segmen sedan listrik premium. Namun, persaingan mulai memanas sejak 2024. Sejumlah merek lokal seperti Nio, Xpeng, IM Motors, hingga Xiaomi terus meluncurkan produk baru dengan fitur canggih.
Menurut Eric Han, manajer senior di perusahaan konsultan Suolei berbasis di Shanghai, dominasi Tesla perlahan terkikis. “Dominasi Tesla di segmen EV premium terkikis oleh para pesaingnya dari China yang mampu memproduksi kendaraan setara dengan standar teknologi Tesla, sambil menawarkan harga lebih rendah,” ujarnya.
Han menambahkan bahwa kesuksesan Xiaomi menjadi dorongan besar bagi industri otomotif China. Produsen lokal kini semakin percaya diri untuk menghadirkan kendaraan dengan nilai tambah lebih tinggi. Kondisi ini membuat persaingan semakin tajam, terutama di segmen premium.
Strategi Harga Dan Teknologi Jadi Kunci Xiaomi
Xiaomi SU7 pertama kali dirilis pada Maret 2024. Nama besar Xiaomi di industri ponsel pintar berperan besar dalam mendongkrak minat konsumen. Mobil ini dibekali teknologi kokpit digital serta sistem bantuan pengemudi otonom tahap awal yang menarik perhatian pasar.
Dari sisi harga, Xiaomi SU7 tampil sangat kompetitif. Varian dasar dibanderol 235.500 yuan atau sekitar Rp 568,5 juta. Harga ini sekitar 9 persen lebih murah dibandingkan Tesla Model 3, sehingga menjadi daya tarik utama bagi konsumen kelas menengah atas.
Kombinasi teknologi pintar dan harga yang lebih terjangkau membuat SU7 cepat diterima pasar. Konsumen melihat Xiaomi sebagai merek teknologi yang memahami kebutuhan digital, lalu menerjemahkannya ke dalam kendaraan listrik modern.
Tekanan Besar Di Tengah Pertumbuhan Pasar EV
Meski Xiaomi mencuri perhatian, tekanan di industri kendaraan listrik China tetap tinggi. Dari sekitar 50 produsen EV di negara tersebut, hanya sedikit yang mampu mencetak laba. Tingginya biaya riset dan pengembangan, ditambah perang harga, membuat margin keuntungan terus tertekan.
Tesla sendiri masih memiliki kekuatan besar melalui Model Y. Mobil ini menjadi SUV terlaris di China sepanjang 2025, mengungguli semua pesaing di segmen bensin maupun listrik. Namun, secara keseluruhan, penjualan Tesla di China turun 4,8 persen pada 2025 menjadi 625.698 unit.
Pangsa pasar Tesla juga terus menyusut. Pada 2020, perusahaan ini sempat menguasai lebih dari 16 persen pasar EV China. Empat tahun kemudian, angkanya turun menjadi sekitar 6,9 persen, seiring maraknya model premium lokal dengan fitur pintar serupa.
Isu Keselamatan Dan Tantangan Ke Depan
Di balik kesuksesan penjualan, Xiaomi SU7 juga menghadapi sorotan terkait isu keselamatan. Pada Maret 2025, kecelakaan fatal terjadi di Tongling, Provinsi Anhui, saat fitur bantuan pengemudi SU7 diaktifkan. Insiden tersebut menewaskan tiga orang dan memicu perhatian otoritas.
Kecelakaan lain terjadi pada Oktober 2025 di Chengdu, Provinsi Sichuan. Seorang pengemudi diduga mabuk saat mengendarai SU7 Ultra, yang kemudian terbakar. Media lokal melaporkan adanya kesulitan membuka pintu mobil untuk penyelamatan.
Menanggapi hal tersebut, pendiri dan CEO Xiaomi, Lei Jun, menegaskan bahwa keselamatan menjadi prioritas utama. Otoritas China pun memperketat pengawasan terhadap teknologi pengemudian otonom tahap awal.
Untuk menjaga momentum, Xiaomi meluncurkan versi terbaru SU7 pada awal tahun ini. Varian baru diklaim mampu menempuh jarak lebih dari 900 kilometer dalam sekali pengisian daya. Harga awalnya ditetapkan 229.900 yuan atau sekitar Rp 555 juta, dengan edisi teratas menawarkan jarak tempuh hingga 902 kilometer.