JAKARTA - Banyak pelanggan listrik prabayar masih menyamakan token listrik dengan pulsa telepon seluler.
Padahal, mekanisme keduanya sangat berbeda, terutama dalam hal perhitungan dan pemanfaatannya. Menyikapi hal tersebut, PT PLN (Persero) memberikan penjelasan agar pelanggan memahami cara kerja token listrik prabayar secara tepat dan tidak keliru dalam memaknai nominal pembelian.
Token listrik prabayar bukanlah saldo rupiah yang bisa dipakai fleksibel seperti pulsa komunikasi. Token merupakan pembelian energi listrik yang dihitung dalam satuan kilowatt hour atau kWh. Energi inilah yang kemudian digunakan untuk mengoperasikan seluruh peralatan listrik di rumah hingga jumlah kWh tersebut habis.
Melalui pemahaman yang benar, pelanggan diharapkan dapat lebih bijak dalam mengatur konsumsi listrik sehari-hari. Selain itu, transparansi perhitungan yang diterapkan PLN juga menjadi bagian dari upaya edukasi agar masyarakat merasa aman dan nyaman menggunakan layanan listrik prabayar.
Perbedaan Token Listrik Dengan Pulsa Seluler
PLN menegaskan bahwa token listrik prabayar sering disalahartikan sebagai pulsa, padahal keduanya memiliki konsep yang berbeda. Pulsa seluler berbentuk saldo rupiah untuk layanan komunikasi, sedangkan token listrik merupakan pembelian energi listrik dalam jumlah tertentu.
Pada sistem prabayar, pelanggan membeli energi listrik di awal. Energi tersebut kemudian tersimpan di meteran listrik dan akan terus berkurang seiring pemakaian seluruh peralatan listrik di rumah. Ketika energi habis, pelanggan perlu kembali membeli token untuk melanjutkan penggunaan listrik.
Dengan sistem ini, pelanggan dapat mengetahui secara langsung berapa banyak energi listrik yang tersedia dan digunakan. Hal ini berbeda dengan sistem pascabayar yang baru menampilkan total pemakaian setelah periode tertentu.
Sistem Prabayar Dirancang Untuk Kendali Konsumsi
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PT PLN (Persero), Gregorius Adi Trianto, menjelaskan bahwa sistem listrik prabayar dirancang untuk memberikan kendali penuh kepada pelanggan. Dengan membeli energi di awal, pelanggan dapat mengatur penggunaan listrik sesuai kebutuhan dan kemampuan.
“Pelanggan pas sistem prabayar, membeli alokasi energi listrik dalam jumlah tertentu. Alokasi itu digunakan seluruh peralatan listrik di rumah dan berkurang seiring pemakaian, karena itu, total energi tersedia dalam satuan kilowatt hour,” ujar Gregorius.
Menurutnya, sistem ini membuat pelanggan lebih sadar terhadap konsumsi listrik harian. Pelanggan bisa memantau sisa kWh di meteran dan menyesuaikan penggunaan peralatan listrik agar lebih efisien.
Penggunaan Listrik Dihitung Secara Keseluruhan
Gregorius menambahkan bahwa pemakaian listrik tidak dapat dipisahkan berdasarkan fungsi atau jenis peralatan. Seluruh peralatan rumah tangga menggunakan sumber energi yang sama, sehingga pengurangannya dihitung dari total energi yang terpakai.
Artinya, penggunaan lampu, televisi, pendingin ruangan, hingga peralatan dapur semuanya mengurangi jumlah kWh yang tersedia di meteran. Tidak ada pemisahan perhitungan untuk masing-masing perangkat listrik.
Dengan memahami hal ini, pelanggan diharapkan tidak lagi bingung ketika merasa token cepat habis. Pola pemakaian dan jumlah peralatan yang digunakan secara bersamaan sangat memengaruhi kecepatan berkurangnya energi listrik.
Komponen Potongan Dalam Pembelian Token
PLN juga menjelaskan bahwa dalam setiap pembelian token listrik prabayar, terdapat beberapa komponen yang dipotong di awal. Salah satunya adalah Pajak Penerangan Jalan atau PPJ yang besarannya ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat.
Selain PPJ, terdapat pula biaya administrasi yang besarnya menyesuaikan dengan kanal pembelian token. Untuk pembelian dengan nominal tertentu, misalnya di atas Rp5 juta, juga dikenakan bea meterai sesuai ketentuan yang berlaku.
Komponen potongan ini menyebabkan nilai rupiah yang dibeli pelanggan tidak seluruhnya dikonversi menjadi energi listrik. Namun, seluruh perhitungan dilakukan secara transparan dan tercatat dalam sistem PLN.
Contoh Perhitungan Token Listrik Prabayar
Sebagai ilustrasi, pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 volt ampere yang membeli token listrik senilai Rp100.000 akan dikenakan potongan PPJ dan biaya administrasi. Setelah dipotong, nilai yang dikonversi menjadi energi listrik berkisar antara Rp90.000 hingga Rp94.000.
Dengan tarif listrik rumah tangga daya 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, nominal tersebut setara dengan sekitar 63 hingga 65 kWh. Jumlah kWh inilah yang masuk ke meteran listrik dan akan terus berkurang sesuai pemakaian listrik di rumah.
“Tarif listrik rumah tangga daya 1.300 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, nominal itu setara dengan sekitar 63 hingga 65 kWh. Jumlah itu lah yang masuk ke meteran listrik dan terus berkurang sesuai pemakaian listrik di lingkungan rumah,” jelas Gregorius.
Token Listrik Adalah Pembelian Energi
PLN menekankan bahwa token listrik prabayar merupakan pembelian energi, bukan sekadar nominal rupiah. Setiap kWh yang dibeli akan digunakan hingga habis sesuai pemakaian, sehingga pelanggan dapat melihat secara nyata hubungan antara konsumsi dan sisa energi.
Melalui pemahaman ini, pelanggan diharapkan mampu merencanakan penggunaan listrik dengan lebih bijak. Pengaturan pemakaian peralatan listrik yang efisien dapat membantu menghemat energi dan mengontrol pengeluaran.
Dengan sistem prabayar yang transparan dan mudah dipantau, PLN berharap pelanggan semakin sadar akan pentingnya penggunaan listrik secara bertanggung jawab, sekaligus memahami perbedaan mendasar antara nilai pembelian dan jumlah energi yang diterima.