JAKARTA - AC Milan sempat berada dalam situasi yang membuat manajemen dan tim pelatih gelisah.
Lini belakang Rossoneri beberapa kali terlihat rapuh, terutama ketika performa naik-turun dan absennya sejumlah bek utama memaksa rotasi yang tidak ideal. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan akan bek tengah baru menjadi topik hangat yang terus dibicarakan menjelang dan sepanjang paruh awal musim.
Nama-nama dari luar klub sempat dikaitkan dengan Milan. Bursa transfer terasa sebagai solusi tercepat untuk menutup celah yang ada. Namun, di tengah hiruk-pikuk spekulasi tersebut, jawaban justru datang dari dalam skuad sendiri. Koni De Winter, bek asal Belgia yang sebelumnya lebih sering menghuni bangku cadangan, perlahan tampil sebagai sosok yang tak terduga.
Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. De Winter harus melalui proses adaptasi yang tidak ringan. Dari pemain pelapis, ia kini menjadi bagian penting dalam struktur pertahanan Milan. Perjalanannya menjadi cerita tentang kesabaran, kepercayaan, dan respons positif terhadap keraguan.
Awal Musim Penuh Tantangan Dan Tekanan
Ketika pertama kali bergabung, ekspektasi terhadap Koni De Winter tidak sepenuhnya besar. Datang dari klub dengan tekanan yang lebih rendah, ia harus menyesuaikan diri dengan atmosfer San Siro yang menuntut kesempurnaan hampir di setiap laga. Perbedaan level kompetisi dan target membuat proses adaptasi terasa berat.
Pada bulan-bulan awal, De Winter kerap terlihat canggung. Kesalahan posisi dan pengambilan keputusan menjadi catatan yang sering muncul. Dalam beberapa laga, ia tampak terlalu ingin membuktikan diri, justru berujung pada keputusan yang kurang tepat.
La Gazzetta dello Sport menyoroti periode ini sebagai fase paling sulit bagi De Winter. Bek Belgia tersebut belum menemukan ritme permainan terbaiknya dan terlihat jauh dari performa solid yang pernah ia tunjukkan bersama Bologna.
Tekanan untuk tampil sempurna di klub besar seperti Milan jelas bukan perkara mudah. Situasi ini membuat De Winter lebih sering dipercaya sebagai cadangan, sementara sorotan publik terus mempertanyakan kapasitasnya.
Peran Kesabaran Allegri Dalam Proses Adaptasi
Di tengah keraguan tersebut, Massimiliano Allegri memilih pendekatan berbeda. Alih-alih mencoret De Winter, sang pelatih justru menunjukkan kesabaran. Ia memahami bahwa adaptasi pemain muda di lingkungan baru membutuhkan waktu dan kepercayaan.
Allegri secara perlahan memberi menit bermain kepada De Winter, tidak selalu sebagai starter, tetapi cukup untuk membangun rasa percaya diri. Ia juga mulai menempatkan De Winter dalam peran yang lebih sesuai dengan karakter permainannya.
Pendekatan ini menjadi titik balik. De Winter tidak lagi dibebani tuntutan untuk tampil sempurna, melainkan diminta bermain sederhana dan disiplin. Instruksi yang jelas membuatnya lebih fokus membaca permainan ketimbang memaksakan aksi individual.
Dukungan dari staf pelatih ini menjadi fondasi penting. Perlahan, kesalahan-kesalahan yang sempat sering muncul mulai berkurang, digantikan dengan penampilan yang lebih tenang.
Transformasi Dalam Skema Tiga Bek Milan
Perubahan signifikan terjadi ketika Milan mulai menerapkan skema tiga bek. Dalam sistem ini, De Winter menemukan peran yang lebih ideal. Ia tidak lagi berdiri sendiri sebagai bek tengah tunggal, melainkan menjadi bagian dari unit yang saling menutupi.
Dalam skema tersebut, De Winter menunjukkan peningkatan dalam membaca alur serangan lawan. Ia lebih tenang dalam duel satu lawan satu dan mampu menjaga posisi dengan disiplin. Keunggulan fisiknya mulai dimaksimalkan tanpa harus bermain terlalu agresif.
Peningkatan ini tidak luput dari perhatian. La Gazzetta dello Sport bahkan menyebutnya sebagai pemain dengan performa terbaik di “musim dingin”, sebuah istilah yang mencerminkan kebangkitannya di paruh musim.
Kepercayaan Allegri pun semakin besar. De Winter tidak lagi sekadar pelapis, tetapi mulai masuk dalam rotasi utama, terutama saat Milan membutuhkan kestabilan di lini belakang.
Momen Penting Yang Mengubah Persepsi
Salah satu momen krusial dalam perjalanan De Winter adalah golnya ke gawang AS Roma. Gol tersebut bukan hanya penting dari sisi hasil, tetapi juga simbol kepercayaan diri yang tumbuh. Untuk seorang bek yang sebelumnya diragukan, kontribusi seperti itu memberi dampak psikologis besar.
Namun, kontribusi terbesarnya justru terlihat ketika Strahinja Pavlovic harus absen. Dalam periode tersebut, De Winter tampil konsisten dan mampu menjaga keseimbangan pertahanan Milan. Ia tidak hanya menutup celah, tetapi juga tampil sebagai pemimpin kecil di lini belakang.
Penampilannya yang stabil membuat Milan tidak lagi terlihat panik meski kehilangan pemain utama. De Winter hadir sebagai solusi internal yang sebelumnya tidak banyak diperhitungkan.
Dari sini, persepsi publik mulai berubah. Keraguan perlahan berganti dengan apresiasi terhadap kerja keras dan perkembangan yang ditunjukkannya.
Dari Cadangan Menjadi Andalan Baru
Kini, posisi Koni De Winter di AC Milan jauh berbeda dibanding awal musim. Ia bukan lagi sekadar pemain cadangan yang mengisi bangku, melainkan opsi utama yang dapat diandalkan dalam berbagai situasi.
Perkembangannya juga berdampak pada strategi klub. Kebutuhan mendesak untuk mendatangkan bek tengah baru menjadi mereda. Milan mendapatkan stabilitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar di bursa transfer.
Bagi De Winter sendiri, perjalanan ini menjadi pembuktian. Ia menjawab keraguan bukan dengan kata-kata, melainkan lewat konsistensi di lapangan. Dari pemain yang sempat dianggap belum siap, ia kini menjadi bagian penting dari fondasi pertahanan Rossoneri.
Cerita Koni De Winter menunjukkan bahwa solusi tidak selalu datang dari luar. Terkadang, jawaban terbaik sudah ada di dalam tim, menunggu waktu dan kepercayaan untuk berkembang.