Minyak

Harga Minyak Dunia Mendekati Rekor Enam Bulan Dipicu Ketegangan Amerika Serikat Iran

Harga Minyak Dunia Mendekati Rekor Enam Bulan Dipicu Ketegangan Amerika Serikat Iran
Harga Minyak Dunia Mendekati Rekor Enam Bulan Dipicu Ketegangan Amerika Serikat Iran

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali menjadi sorotan pelaku pasar global setelah bertahan di dekat level tertinggi enam bulan terakhir. 

Situasi ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memunculkan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dunia. Sentimen geopolitik tersebut membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil posisi, terutama menjelang akhir pekan perdagangan.

Pada Jumat 30 Januari 2026, harga minyak mentah global bergerak relatif stabil dengan fluktuasi tipis. Pasar mencermati berbagai sinyal politik dan ekonomi yang saling berkelindan, mulai dari isu keamanan kawasan Timur Tengah hingga pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Kondisi ini membuat harga minyak bertahan tinggi meski terdapat tekanan dari sisi fundamental lainnya.

Pergerakan Harga Minyak Di Pasar Global

Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat turun tipis 7 sen menjadi US$70,64 per barel pada pukul 10.30 waktu setempat. Kontrak Brent untuk pengiriman Maret resmi berakhir pada hari tersebut, sementara kontrak April yang lebih aktif diperdagangkan melemah 1 sen ke posisi US$69,58 per barel. Perbedaan pergerakan antar kontrak ini mencerminkan penyesuaian pasar terhadap prospek jangka pendek dan menengah.

Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI asal Amerika Serikat juga mengalami penurunan terbatas. WTI tercatat turun 3 sen ke level US$65,39 per barel. Meski koreksi terjadi, harga tetap berada di kisaran tinggi yang jarang terlihat dalam beberapa bulan terakhir, menunjukkan pasar masih menyimpan kekhawatiran besar terhadap risiko pasokan global.

Ketegangan AS Iran Membayangi Pasokan Minyak

Kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan langkah strategis terhadap Iran. Beberapa sumber menyebutkan opsi yang dibahas termasuk kemungkinan serangan terbatas. Wacana tersebut langsung meningkatkan kecemasan pasar karena kawasan Timur Tengah merupakan salah satu jalur pasokan energi paling vital di dunia.

Sehari sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Agustus. Pelaku pasar menilai setiap potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran berisiko memicu gangguan distribusi minyak, baik melalui Selat Hormuz maupun infrastruktur energi strategis lainnya. Kekhawatiran inilah yang mendorong investor mempertahankan posisi beli di pasar minyak.

Sinyal Dialog Dan Tekanan Sanksi

Meski tensi geopolitik meningkat, Amerika Serikat dan Iran belakangan sama-sama memberi sinyal terbuka untuk berdialog. Namun, Iran menegaskan bahwa kemampuan pertahanan negaranya tidak boleh masuk dalam agenda perundingan apa pun. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih diwarnai batasan tegas dari kedua belah pihak.

Pada saat yang sama, Washington tetap memperkuat tekanan terhadap Teheran. Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru kepada tujuh warga negara Iran serta sedikitnya satu entitas. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir, yang semakin memperkeruh persepsi risiko geopolitik di mata investor energi.

Kinerja Bulanan Harga Minyak Yang Menguat

Harga minyak dunia juga berada di jalur kenaikan bulanan paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Brent berpotensi mencatat lonjakan bulanan terbesar sejak Januari 2022, sementara WTI diperkirakan membukukan kenaikan bulanan tertinggi sejak Juli 2023. Penguatan ini menandai periode reli yang cukup panjang bagi pasar minyak global.

Kinerja bulanan tersebut mencerminkan kombinasi antara faktor geopolitik, pengelolaan pasokan, serta ekspektasi permintaan yang relatif stabil. Namun, sebagian analis menilai reli harga yang kuat ini mulai rentan terhadap aksi ambil untung, terutama menjelang akhir pekan dan mendekati pergantian bulan.

Penguatan Dolar Tekan Permintaan Minyak

Di tengah tren positif harga minyak, penguatan dolar Amerika Serikat menjadi salah satu faktor penahan laju kenaikan. Dolar menguat dari posisi terendah empat tahun pada awal pekan setelah Presiden Trump mengumumkan rencana menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai Ketua bank sentral AS. Ia akan menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang.

Dolar yang lebih kuat cenderung menekan permintaan minyak global karena membuat harga komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar AS. Kondisi ini kerap menciptakan tekanan tambahan pada harga minyak, terutama di tengah reli yang sudah berlangsung cukup lama.

Faktor Produksi Dan Aksi Ambil Untung

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai perubahan sentimen pasar juga dipengaruhi oleh meningkatnya kembali produksi minyak mentah Amerika Serikat. Produksi kembali naik setelah beberapa fasilitas sebelumnya ditutup. Selain itu, pasar juga menantikan pemulihan produksi ladang minyak Tengiz di Kazakhstan yang sempat terganggu.

Dengan reli harga yang cukup kuat sepanjang pekan, aksi ambil untung menjelang akhir pekan dinilai sebagai langkah wajar. Tekanan tambahan juga datang dari agenda pemeliharaan kilang minyak utama Rusia yang diperkirakan mencapai puncaknya pada bulan ini dan September, berdasarkan perhitungan Reuters dari data sumber industri.

Proyeksi Harga Minyak Sepanjang Tahun

Meski risiko geopolitik masih membayangi pasar, prospek harga minyak jangka menengah dinilai lebih moderat. Survei Reuters terhadap 32 analis menunjukkan mayoritas memperkirakan harga minyak akan bertahan di sekitar US$60 per barel sepanjang tahun ini. Potensi kelebihan pasokan global dipandang mampu mengimbangi risiko gangguan akibat ketegangan geopolitik.

Dengan berbagai faktor yang saling memengaruhi, pasar minyak global diperkirakan tetap bergerak fluktuatif. Investor akan terus memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, arah kebijakan moneter AS, serta dinamika produksi global sebagai penentu utama arah harga minyak ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index