JAKARTA - Pergerakan pasar aset kripto dalam beberapa hari terakhir kembali menjadi sorotan pelaku pasar.
Harga sejumlah aset digital utama mengalami fluktuasi tajam, mencerminkan kondisi pasar yang belum stabil. Volatilitas tinggi ini terjadi seiring investor global masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai berpengaruh besar terhadap aset berisiko.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati hati dalam mengambil keputusan. Kombinasi sentimen global, faktor geopolitik, hingga tekanan teknikal turut membentuk pergerakan harga kripto yang belum menemukan arah jelas dalam jangka pendek.
Harga Aset Kripto Terkoreksi Dalam Sepekan
Mengutip Coin Market Cap pada Jumat pukul 14.51 WIB, harga Bitcoin tercatat terkoreksi 7,55% dalam sepekan ke level US$ 82.651. Penurunan ini terjadi setelah Bitcoin sempat bergerak di area yang lebih tinggi sebelum tekanan jual meningkat tajam.
Ethereum juga mengalami kondisi serupa. Harga ETH melemah 6,99% dalam sepekan dan bertengger di level US$ 2.736. Koreksi pada dua aset kripto terbesar ini menegaskan bahwa tekanan pasar tidak hanya bersifat spesifik, melainkan terjadi secara menyeluruh di pasar kripto global.
Kombinasi Sentimen Makro Dan Tekanan Pasar
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai koreksi harga sejumlah aset kripto utama dipengaruhi kombinasi berbagai faktor. Menurutnya, sentimen makroekonomi, dinamika geopolitik, serta tekanan teknikal pasar menjadi pemicu utama pergerakan harga yang volatil dalam sepekan terakhir.
Dari sisi makroekonomi, pasar bereaksi negatif terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed menggantikan figur yang dinilai lebih pro kripto memunculkan kekhawatiran akan arah kebijakan yang berpotensi lebih hawkish ke depan.
Sikap The Fed Tekan Minat Aset Berisiko
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Bank sentral Amerika Serikat juga memberikan sinyal belum terburu buru melakukan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
“Kondisi ini menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto,” ujar Fyqieh kepada Kontan, Jumat (30/1). Sikap The Fed yang cenderung berhati hati membuat investor memilih menahan dana atau mengalihkan portofolio ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Geopolitik Dan Likuidasi Perburuk Tekanan
Selain faktor moneter, sentimen geopolitik global turut membebani pasar kripto. Meningkatnya tensi di Timur Tengah, termasuk pengiriman tambahan kapal perang Amerika Serikat serta persiapan latihan militer Iran di sekitar Selat Hormuz, mendorong investor mengambil posisi defensif.
Tekanan jual juga diperparah oleh leverage flush di pasar kripto. Data menunjukkan dalam 24 jam terjadi likuidasi sekitar US$ 319,25 juta, dengan dominasi posisi long sebesar US$ 307,59 juta. Likuidasi besar ini mempercepat penurunan harga sejumlah aset digital utama.
“Likuidasi besar ini mempercepat penurunan harga Bitcoin yang sempat menyentuh level terendah sejak 19 Desember di kisaran US$ 84.564, sebelum akhirnya bergerak di area US$ 82.000 hingga US$ 83.000,” terang Fyqieh.
Arus Dana Institusional Ikut Melemah
Tekanan pasar semakin bertambah dengan adanya arus keluar dana institusional. Bitcoin ETF tercatat mengalami net outflow dalam 7 dari 8 hari perdagangan terakhir, dengan total arus keluar mencapai sekitar US$ 278 juta sepanjang bulan berjalan.
“Secara keseluruhan, koreksi harga Bitcoin dan Ethereum dalam sepekan terakhir merupakan hasil dari kombinasi ketidakpastian kebijakan The Fed, meningkatnya risiko geopolitik, likuidasi besar akibat leverage tinggi, pelemahan teknikal, serta berkurangnya aliran dana institusional ke pasar kripto,” ungkap Fyqieh.
Bitcoin Dinilai Masih Aset Berisiko Tinggi
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai pasar kripto baru saja melewati fase yang sangat menegangkan. Menurutnya, Bitcoin terjun hampir US$ 10.000 dalam 24 jam terakhir dan sempat menyentuh level US$ 81.000.
Kejatuhan tersebut memicu likuidasi massal posisi long yang mencapai US$ 1,75 miliar di seluruh bursa kripto. Sementara itu, aset besar lain seperti Ethereum dan XRP juga ikut ambles di kisaran 7% hingga 9%.
“Koreksi tajam ini membuktikan bahwa Bitcoin lebih berperilaku sebagai aset berisiko yang sangat volatil dan sensitif terhadap kebijakan moneter, bukan seperti digital gold,” ujar Fahmi kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).
Pandangan Terhadap Arah Kebijakan Ke Depan
Meski demikian, Fahmi meminta investor jeli membaca langkah Presiden Donald Trump. Ia menilai pencalonan Kevin Warsh bisa menjadi strategi politik untuk membuat The Fed lebih kooperatif dalam mengelola beban bunga utang Amerika Serikat yang semakin besar.
Warsh dikenal kritis terhadap kemandirian kaku The Fed. “Kami melihat ini sebagai fase kapitulasi di mana pasar sedang mencerna transisi kekuasaan di bank sentral. Jika Warsh akhirnya melunak demi menyelamatkan fiskal AS dari beban utang, maka volatilitas ini hanyalah guncangan sementara sebelum rotasi modal kembali terjadi,” ucap Fahmi.
Strategi Investor Hadapi Pasar Volatil
Fyqieh menambahkan, prospek aset kripto pada kuartal I 2026 masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Pasar akan terus merespons dinamika kebijakan moneter global, perkembangan geopolitik, serta pergerakan arus dana institusional.
Dalam kondisi tersebut, investor disarankan lebih mengedepankan manajemen risiko. Strategi bertahap seperti dollar cost averaging dinilai dapat membantu mengurangi risiko masuk di harga puncak. Selain itu, diversifikasi portofolio tetap menjadi kunci agar investor mampu bertahan di tengah pasar kripto yang masih bergejolak.