Emas

Harga Emas Dunia Anjlok Tajam Hari Ini Usai Pasar Merespons Penunjukan Ketua

Harga Emas Dunia Anjlok Tajam Hari Ini Usai Pasar Merespons Penunjukan Ketua
Harga Emas Dunia Anjlok Tajam Hari Ini Usai Pasar Merespons Penunjukan Ketua

JAKARTA - Pergerakan harga emas global mengalami tekanan luar biasa pada akhir pekan ini. 

Logam mulia yang sebelumnya menikmati reli panjang justru berbalik arah secara tajam setelah pasar mencerna kabar politik moneter dari Amerika Serikat. Sentimen berubah cepat, membuat investor menyesuaikan kembali strategi mereka di tengah penguatan dolar dan berkurangnya kekhawatiran terhadap independensi bank sentral Negeri Paman Sam.

Penurunan harga emas terjadi seiring respons pasar terhadap pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya oleh Presiden Donald Trump. Informasi tersebut langsung memicu pergeseran ekspektasi kebijakan moneter, sekaligus mengubah pandangan investor terhadap prospek aset lindung nilai seperti emas dalam jangka pendek.

Respons Pasar Terhadap Penunjukan Ketua The Fed

Mengutip CNBC, Sabtu (31/1/2026), harga emas spot tercatat turun sekitar 9% ke level USD 4.895,22 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas ditutup melemah lebih dalam, yakni 11,4% ke posisi USD 4.745,10 per ons. Koreksi ini menjadi salah satu penurunan harian terdalam dalam beberapa waktu terakhir.

Tekanan di pasar logam mulia muncul segera setelah laporan pencalonan Kevin Warsh beredar luas. Pelemahan harga kemudian semakin dalam pada sesi perdagangan Amerika Serikat, seiring banyak investor melakukan aksi ambil untung. Langkah tersebut dilakukan setelah emas mencatat reli panjang dan menempatkan banyak pelaku pasar pada posisi yang sama.

Penguatan Dolar Menambah Tekanan Harga

Kenaikan nilai tukar dolar AS turut memperberat tekanan terhadap harga emas. Saat dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi ini biasanya menekan permintaan global, terutama dari negara-negara konsumen utama logam mulia.

Selain itu, penguatan dolar juga melemahkan narasi bahwa emas dapat menjadi alternatif dolar sebagai mata uang cadangan global. Indeks dolar AS terakhir tercatat naik sekitar 0,8% dalam perdagangan hari yang sama. Pergerakan ini mempertegas hubungan terbalik antara dolar dan emas yang kembali dominan di pasar.

Perak pun mengalami penurunan tajam dalam perdagangan tersebut. Namun, perhatian utama pelaku pasar tetap tertuju pada koreksi besar harga emas, mengingat skala dan kecepatan penurunannya yang tidak biasa.

Aksi Jual Paksa dan Posisi Leverage

Matt Maley, strategist dari Miller Tabak, menggambarkan kondisi pasar logam mulia sebagai pergerakan yang ekstrem. Ia menilai tekanan jual kali ini tidak sepenuhnya bersifat fundamental, melainkan dipicu faktor teknis di pasar.

“Ini sudah jadi gila. Sebagian besar kemungkinan adalah aksi jual paksa. Aset ini sangat populer di kalangan trader harian dan trader jangka pendek. Ada banyak posisi leverage yang terbangun. Dengan penurunan besar hari ini, margin call langsung terjadi,” ujarnya.

Banyaknya posisi leverage membuat pasar rentan terhadap koreksi tajam. Ketika harga mulai turun signifikan, mekanisme margin call memaksa investor menutup posisi, sehingga tekanan jual semakin besar dan mempercepat penurunan harga.

Perubahan Ekspektasi Kebijakan Moneter

Sebelumnya, pasar sempat memperkirakan Kevin Hassett menjadi kandidat kuat pengganti Jerome Powell. Namun dalam beberapa hari terakhir, nama Kevin Warsh justru memimpin di pasar prediksi, memicu perubahan besar dalam ekspektasi kebijakan moneter ke depan.

Krishna Guha dari Evercore ISI menilai pasar membaca Warsh sebagai sosok yang cenderung ketat terhadap kebijakan moneter. “Penunjukan Warsh seharusnya membantu menstabilkan dolar dan mengurangi — meski tidak menghilangkan — risiko pelemahan dolar yang dalam dan berkepanjangan. Itu juga yang menjelaskan mengapa emas turun tajam,” tulisnya.

Meski demikian, Guha mengingatkan investor agar tidak bereaksi berlebihan. Ia menilai Warsh lebih bersifat pragmatis ketimbang hawkish ideologis seperti yang kerap diasosiasikan dengan bankir sentral konservatif independen.

Kilas Balik Reli Emas Sepanjang 2025

Sepanjang 2025, emas sebenarnya mencatat reli yang sangat kuat dengan kenaikan sekitar 66% dalam setahun. Kenaikan tersebut didorong oleh ketegangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Analis valas J. Safra Sarasin Sustainable Asset Management, Claudio Wewel, menyebut reli emas sebelumnya dipicu kombinasi faktor geopolitik dan spekulasi terkait kepemimpinan The Fed. Menurutnya, pasar sempat memperhitungkan peluang munculnya ketua The Fed yang lebih dovish, kondisi yang umumnya mendukung kenaikan harga emas.

Namun, arus informasi terbaru mengubah ekspektasi tersebut secara drastis. Investor kini menyesuaikan kembali posisi mereka seiring perubahan pandangan terhadap arah suku bunga dan stabilitas dolar AS.

Risiko Koreksi Saat Posisi Terlalu Padat

Toni Meadows dari BRI Wealth Management menilai kenaikan harga emas hingga menembus USD 5.000 sebelumnya terjadi terlalu cepat. Ia menyoroti bahwa pembelian bank sentral memang mendorong reli jangka panjang, tetapi intensitasnya mulai berkurang dalam beberapa bulan terakhir.

“Pembelian bank sentral mendorong reli jangka panjang, tetapi dalam beberapa bulan terakhir mulai berkurang. Meski begitu, alasan diversifikasi cadangan devisa masih tetap ada, terutama karena kebijakan perdagangan dan langkah geopolitik AS membuat banyak negara waspada memegang aset dolar,” jelasnya.

Analis lain mengingatkan bahwa ketika terlalu banyak investor menumpuk di satu aset, koreksi tajam menjadi risiko yang sulit dihindari. “Ketika semua orang berada di sisi posisi yang sama, bahkan aset yang bagus pun bisa terkoreksi saat posisi dilepas,” kata Katy Stoves, manajer investasi Mattioli Woods.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index