JAKARTA - Tekanan jual masih membayangi saham perbankan berkapitalisasi besar di pasar modal Indonesia.
Dalam sepekan terakhir, investor asing tercatat aktif melepas kepemilikan saham bank-bank utama, seiring sentimen kehati-hatian yang berkembang di pasar. Kondisi tersebut membuat pergerakan harga saham sektor keuangan belum sepenuhnya pulih, meski sempat muncul rebound jangka pendek.
Di antara saham perbankan besar, PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA menjadi yang paling menonjol dari sisi aksi jual asing. Nilai transaksi jual bersih asing pada saham ini tercatat sangat besar, mencerminkan tekanan signifikan yang dirasakan investor dalam jangka pendek.
Aksi Jual Asing Dominasi Saham Perbankan Besar
Mayoritas saham bank besar masih mencatatkan penurunan harga dalam beberapa hari terakhir. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk tercatat sebagai saham yang paling banyak dilepas investor asing pada pekan ini.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terfokus pada satu emiten, melainkan terjadi secara merata di sektor perbankan besar. Investor asing cenderung mengurangi eksposur pada saham-saham dengan kapitalisasi besar yang selama ini menjadi tulang punggung indeks.
BBCA Catat Net Sell Asing Terbesar
Saham BBCA menjadi saham dengan nilai jual bersih asing terbesar dalam sepekan terakhir. Nilai net sell asing tercatat mencapai Rp 8,1 triliun, menjadikannya yang paling banyak dilepas dibandingkan saham perbankan besar lainnya.
Tekanan jual tersebut turut mendorong harga saham BBCA sempat menyentuh level terendah sejak Agustus 2022 di posisi Rp 7.025 per saham. Level ini menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan tekanan yang cukup dalam dalam waktu relatif singkat.
Pergerakan Harga BBCA Dalam Sepekan Terakhir
Dalam periode sepekan, saham BBCA tercatat telah turun sebesar 3,37% dan berada di level Rp 7.400 per saham. Penurunan ini terjadi seiring derasnya aksi jual asing dan sentimen pasar yang masih berhati-hati terhadap saham perbankan.
Meski demikian, pada perdagangan harian Jumat, 30 Januari 2026, saham BBCA justru mencatatkan kenaikan sebesar 2,78%. Kenaikan tersebut mengindikasikan adanya aksi beli selektif di level harga rendah, meski belum cukup untuk menghapus tekanan dalam jangka pendek.
Rekomendasi Analis Masih Didominasi Beli
Di tengah tekanan harga saham, pandangan analis terhadap prospek BBCA dalam jangka menengah hingga panjang masih relatif positif. Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 37 analis masih memberikan rekomendasi beli terhadap saham BBCA.
Rata-rata target harga yang dipasang analis berada di level Rp 10.196 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan yang cukup besar dibandingkan dengan harga saham BBCA saat ini, meski realisasinya tetap bergantung pada kondisi pasar dan sentimen ke depan.
Target Harga Terbaru dari Sejumlah Sekuritas
Pada 30 Januari 2026, terdapat empat analis yang kembali menegaskan rekomendasi positif terhadap saham BBCA. Jeffrosenberg Chenlim dari Maybank Investment Banking Group memasang target harga saham BBCA di level Rp 10.650 per saham.
Budi Rustanto dari OCBC Sekuritas memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 9.500 per saham. Sementara itu, James Stanley Widjaja dari Henan Putihrai memasang target harga di level Rp 10.000 per saham, mencerminkan optimisme terhadap fundamental perusahaan.
Prospek Jangka Menengah Saham BBCA
Selain itu, Jayden MacKintosh dari Macquarie memberikan rekomendasi outperform untuk saham BBCA dengan target harga Rp 8.490 per saham. Rekomendasi ini menilai bahwa kinerja BBCA berpotensi mengungguli pasar meski target harga yang dipasang relatif lebih konservatif dibandingkan analis lainnya.
Pandangan beragam dari analis menunjukkan bahwa meski saham BBCA tengah berada dalam tekanan akibat aksi jual asing, fundamental perusahaan masih dipandang solid. Investor jangka panjang dinilai masih memiliki ruang untuk mempertimbangkan saham ini, terutama ketika harga berada di level yang lebih rendah dibandingkan target rata-rata analis.
Secara keseluruhan, tekanan jual asing terhadap saham BBCA dalam sepekan terakhir mencerminkan dinamika pasar yang masih bergejolak. Namun, konsistensi rekomendasi beli dari mayoritas analis menandakan bahwa koreksi harga lebih dipandang sebagai penyesuaian jangka pendek, bukan perubahan mendasar terhadap prospek bisnis perusahaan.