Saham

Kapitalisasi Pasar Saham Indonesia Tergerus Rp 1.409 Triliun Usai IHSG Anjlok Dua

Kapitalisasi Pasar Saham Indonesia Tergerus Rp 1.409 Triliun Usai IHSG Anjlok Dua
Kapitalisasi Pasar Saham Indonesia Tergerus Rp 1.409 Triliun Usai IHSG Anjlok Dua

JAKARTA - Tekanan berat melanda pasar modal Indonesia sepanjang pertengahan pekan ini. 

Dalam waktu singkat, nilai kapitalisasi pasar saham nasional menyusut signifikan, mencerminkan besarnya kepanikan investor terhadap sentimen global dan domestik. Koreksi tajam tersebut terjadi seiring penurunan Indeks Harga Saham Gabungan yang berlangsung dua hari berturut-turut dan memicu kekhawatiran berkelanjutan di kalangan pelaku pasar.

Kapitalisasi pasar saham Indonesia tercatat merosot sebesar USD 84 miliar atau setara Rp 1.409 triliun dengan asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di level 16.770. Penurunan itu terjadi pada perdagangan Rabu dan Kamis pekan ini, setelah IHSG tertekan cukup dalam akibat sentimen negatif yang membayangi pasar.

Tekanan Pasar Dipicu Isu Penurunan Status MSCI

Koreksi tajam di pasar saham Indonesia tidak terlepas dari kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan peringkat status pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International atau MSCI. Isu tersebut mencuat setelah MSCI memberikan peringatan terkait kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Pada Selasa, 27 Januari 2026, MSCI secara terbuka menyampaikan adanya perhatian serius terhadap sejumlah aspek fundamental pasar modal Indonesia. Salah satu sorotan utama adalah transparansi perdagangan, yang dinilai masih menjadi tantangan dan berpotensi memengaruhi kepercayaan investor global terhadap pasar saham domestik.

Pengunduran Diri Dirut BEI di Tengah Gejolak

Di tengah tekanan pasar tersebut, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman mengundurkan diri pada Jumat, 30 Januari 2026. Pengunduran diri tersebut disebut sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar modal Indonesia yang mengalami gejolak signifikan dalam beberapa hari terakhir.

“Saya berharap ini adalah keputusan terbaik untuk pasar modal. Semoga pengunduran diri saya membawa perbaikan di pasar modal kita. Semoga indeks yang dibuka positif Jumat pagi ini akan terus membaik dalam beberapa hari mendatang,” ujar Iman Rachman dikutip dari CNBC.

Langkah ini menjadi perhatian besar pelaku pasar, mengingat posisi strategis Direktur Utama BEI dalam menjaga stabilitas dan kepercayaan investor terhadap bursa saham Indonesia.

Makna Frontier Market bagi Investor

Pengamat pasar modal Reydi Octa menjelaskan bahwa frontier market merupakan kategori pasar saham yang masih berada pada tahap awal perkembangan. Pasar dalam kategori ini umumnya memiliki likuiditas lebih rendah, akses investor asing yang lebih terbatas, serta tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan emerging market.

“Frontier market lebih volatile dan sensitif terhadap perubahan arus modal,” kata Reydi Octa saat dihubungi Liputan6.com. Penurunan status ke frontier market berpotensi membuat sebagian investor institusi global meninjau ulang eksposur investasinya di Indonesia.

MSCI sendiri menyebut investor menyoroti masalah fundamental terkait kemampuan investasi yang tetap terjaga akibat ketidaktransparanan berkelanjutan dalam struktur kepemilikan saham. Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat merusak proses pembentukan harga yang wajar.

Upaya Regulator Merespons Sorotan MSCI

Menanggapi sorotan tersebut, sehari sebelum pengunduran dirinya, Iman Rachman menyampaikan kepada CNBC bahwa regulator Indonesia telah melakukan diskusi intensif dengan MSCI. Pembahasan tersebut difokuskan pada upaya peningkatan transparansi data, khususnya terkait saham beredar bebas dan struktur kepemilikan.

Langkah ini diharapkan dapat menjawab kekhawatiran investor global sekaligus menjaga status Indonesia di mata penyedia indeks internasional. Namun, pasar terlanjur bereaksi negatif terhadap potensi risiko yang muncul, sehingga tekanan jual tidak terhindarkan dalam jangka pendek.

IHSG Mulai Bangkit Setelah Dua Hari Tertekan

Setelah mengalami penurunan tajam, kinerja IHSG mulai menunjukkan tanda pemulihan pada Jumat, 30 Januari 2026. IHSG tercatat naik 1,18% setelah sebelumnya merosot 7,35% pada Rabu dan kembali susut 1,06% pada Kamis.

Mengutip data RTI, IHSG melonjak ke posisi 8.329,60. Indeks saham LQ45 turut menguat 2,52%, sementara sebagian besar indeks saham acuan bergerak di zona hijau. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 8.408,30 dan terendah 8.167,15.

Sebanyak 551 saham tercatat menguat dan menjadi penopang utama kenaikan indeks. Di sisi lain, 194 saham melemah dan 65 saham stagnan, mencerminkan mulai terjadinya perbaikan sentimen meski belum sepenuhnya solid.

Penguatan Bersifat Rebound Teknikal

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai penguatan IHSG lebih disebabkan oleh technical rebound setelah dua hari berturut-turut mengalami tekanan akibat pengumuman MSCI dan kekhawatiran downgrade status pasar saham Indonesia.

Ia menuturkan bahwa secara sentimen, belum ada faktor kuat yang benar-benar mendukung penguatan IHSG. “Kalau mencari sentimen sebenarnya belum ada yang mendukung, hanya ada pengunduran Dirut BEI dan pemerintah berencana menaikkan limit di dapen dan asuransi,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Data perdagangan menunjukkan total frekuensi transaksi mencapai 3.399.422 kali dengan volume perdagangan 57,8 miliar saham. Nilai transaksi harian tercatat sebesar Rp 41,7 triliun, sementara nilai tukar dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 16.765.

Mayoritas sektor saham bergerak menguat. Sektor transportasi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,14%, disusul sektor keuangan yang melesat 3,05%. Sektor consumer nonsiklikal naik 1,97%, teknologi 1,7%, properti 1,47%, kesehatan 0,91%, energi 0,27%, serta basic industry 0,25%.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index