JAKARTA - Upaya penanganan bencana longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terus dipercepat melalui keterlibatan aktif Kementerian Pekerjaan Umum.
Fokus utama saat ini diarahkan pada dukungan teknis untuk penanganan darurat serta evakuasi korban di tengah kondisi medan yang berat.
Sejak awal kejadian, Kementerian PU langsung mengoptimalkan pengerahan alat berat lintas balai. Langkah ini dilakukan guna memastikan proses pencarian korban dan pembersihan material longsor dapat berjalan efektif dan terkoordinasi.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan seluruh balai di wilayah Jawa Barat telah diinstruksikan untuk siaga penuh. Seluruh sumber daya yang tersedia diarahkan membantu operasi darurat bersama tim SAR gabungan.
Hingga Senin siang, delapan unit alat berat telah aktif bekerja di lokasi bencana. Pemanfaatan ekskavator mini menjadi solusi utama mengingat akses menuju titik longsor sangat terbatas.
Instruksi Siaga Penuh Seluruh Balai
Kementerian PU menegaskan komitmennya dalam mendukung penanganan bencana ini. Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan bahwa seluruh balai di Jawa Barat diminta memberikan dukungan maksimal.
“Fokus utama saat ini adalah membantu penanganan darurat dan evakuasi oleh Basarnas dan tim SAR gabungan dengan menyiagakan alat berat serta sarana pendukung yang dibutuhkan lainnya,” kata Dody.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa aspek keselamatan korban menjadi prioritas tertinggi. Kementerian PU berperan sebagai pendukung teknis agar proses evakuasi berjalan lebih cepat dan aman.
Koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk menghindari tumpang tindih tugas. Setiap balai memiliki peran masing-masing sesuai dengan kapasitas dan kewenangannya.
Kesiapsiagaan ini juga mencakup antisipasi terhadap potensi longsor susulan di sekitar lokasi kejadian.
Alat Berat Lintas Balai Dikerahkan
Pengerahan alat berat dilakukan secara terpadu melalui kolaborasi lintas balai teknik di bawah Kementerian PU. Sejumlah balai besar dilibatkan untuk memastikan ketersediaan peralatan mencukupi.
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional DKI Jakarta–Jawa Barat mengerahkan enam unit ekskavator PC 75. Alat-alat ini difokuskan untuk membuka material longsoran dan membantu proses evakuasi korban.
Sementara itu, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum menurunkan satu unit ekskavator PC 55 mini. Alat ini dinilai efektif untuk bekerja di area dengan ruang gerak terbatas.
Dukungan tambahan datang dari Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung yang mengoperasikan satu unit ekskavator PC 55 mini di lokasi terdampak.
Pompa dan Kendala Medan Berat
Selain alat berat, pengendalian air dan lumpur menjadi perhatian serius. BBWS Citarum mengerahkan lima unit pompa alcon dengan kapasitas 16,7 liter per detik.
Dari jumlah tersebut, dua unit sempat beroperasi untuk menyedot air dan lumpur. Namun, operasionalnya terhenti akibat kemasukan lumpur dan batu sehingga memerlukan servis.
Tiga unit pompa lainnya berada dalam kondisi siaga untuk menggantikan unit yang mengalami kendala. Upaya perbaikan terus dilakukan agar pompa dapat kembali difungsikan.
Untuk menunjang operasional pompa, satu unit mobile water tank berkapasitas 5.000 liter tengah dipersiapkan dari Indramayu. Dukungan tambahan ini diharapkan memperlancar proses pembersihan area longsor.
Optimalisasi Ekskavator Mini
Kondisi medan di lokasi longsor menjadi tantangan tersendiri. Lumpur tebal dan akses sempit membuat ekskavator berkapasitas besar tidak dapat menjangkau titik tertentu.
Sebagai solusi, Kementerian PU mengoptimalkan penggunaan ekskavator mini. Alat ini dinilai lebih fleksibel dan mampu bergerak di area terbatas.
Satu unit ekskavator PC 55 mini dari Indramayu telah dimobilisasi pada Senin. Alat tersebut direncanakan mulai bekerja secara efektif pada Selasa.
Pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat proses pencarian korban yang masih tertimbun material longsor. Kecepatan dan ketelitian menjadi kunci utama di tahap ini.
Dukungan Air Bersih dan Sanitasi
Selain fokus pada evakuasi, Kementerian PU juga memperhatikan kebutuhan dasar para pengungsi. Dukungan sarana air bersih dan sanitasi menjadi bagian penting dari penanganan darurat.
Melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Jawa Barat, sejumlah fasilitas telah dimobilisasi ke lokasi pengungsian. Fasilitas tersebut disiapkan untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan pengungsi.
Sebanyak tiga unit hidran umum berkapasitas 2.000 liter telah disalurkan. Selain itu, dua unit tangki air berkapasitas 4.000 liter juga disiagakan.
Kementerian PU turut mengerahkan tujuh unit toilet portabel dan satu unit tenda hunian darurat. Fasilitas ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar pengungsi selama masa tanggap darurat.
Fokus Percepatan Penanganan
Dengan sarana dan prasarana yang telah dimobilisasi, seluruh sumber daya kini difokuskan untuk mempercepat pencarian korban. Pembersihan material longsor juga menjadi agenda utama.
Penanganan longsor di Cisarua menghadapi tantangan besar akibat kondisi lumpur yang tebal. Sejumlah alat sempat mengalami kendala teknis di lapangan.
Meski demikian, koordinasi antarbalai terus diperkuat. Setiap kendala diupayakan dapat segera diatasi agar proses evakuasi tidak terhambat.
Kementerian PU menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi proses penanganan hingga situasi dinyatakan aman. Dukungan teknis akan tetap diberikan sesuai kebutuhan di lapangan.