Minyak

Harga Minyak Mentah Dunia Melemah Usai Lonjakan Dipicu Cuaca Ekstrem Amerika Serikat

Harga Minyak Mentah Dunia Melemah Usai Lonjakan Dipicu Cuaca Ekstrem Amerika Serikat
Harga Minyak Mentah Dunia Melemah Usai Lonjakan Dipicu Cuaca Ekstrem Amerika Serikat

JAKARTA - Pergerakan harga minyak mentah global kembali mengalami koreksi setelah sempat mencatat penguatan signifikan pada sesi sebelumnya. 

Penurunan ini terjadi ketika pelaku pasar mulai menimbang ulang dampak badai musim dingin terhadap produksi minyak Amerika Serikat serta mencermati perkembangan geopolitik yang masih membayangi pasar energi. Meski koreksi relatif terbatas, volatilitas tetap tinggi seiring kombinasi faktor fundamental dan sentimen global.

Pada perdagangan Senin waktu setempat atau Selasa WIB, harga minyak tercatat turun tipis setelah sebelumnya melonjak lebih dari dua persen. Kenaikan pada sesi terdahulu dipicu kekhawatiran gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem di wilayah produsen minyak utama AS serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, seiring meredanya gangguan produksi, pasar mulai melakukan aksi ambil untung.

Investor juga menunggu kejelasan lanjutan mengenai kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak utama dunia. Ketidakpastian ini membuat pergerakan harga cenderung fluktuatif, dengan respons cepat terhadap setiap kabar baru yang muncul di pasar global.

Di tengah situasi tersebut, harga minyak masih bertahan di level yang relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya keluar dari tekanan risiko, baik dari sisi pasokan maupun geopolitik.

Pergerakan Harga Brent dan WTI

Mengutip data Yahoo Finance, kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup melemah 29 sen atau 0,4 persen ke level USD65,59 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tercatat turun 44 sen atau 0,7 persen menjadi USD60,63 per barel.

Meski mengalami penurunan harian, kedua patokan utama tersebut masih mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 2,7 persen. Harga minyak ditutup pada level tertinggi sejak 14 Januari pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat. Capaian ini mencerminkan sentimen positif yang sempat mendominasi pasar sebelum koreksi terjadi.

Kenaikan mingguan tersebut didorong oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan, terutama akibat badai musim dingin yang melanda Amerika Serikat. Selain itu, faktor geopolitik turut memperkuat sentimen bullish dalam beberapa sesi terakhir.

Namun, koreksi harga menunjukkan bahwa pasar tetap sensitif terhadap perubahan kondisi produksi dan distribusi minyak. Setiap sinyal pemulihan pasokan langsung direspons dengan tekanan jual.

Dampak Badai Musim Dingin pada Produksi AS

Badai musim dingin yang melanda Amerika Serikat memberikan dampak signifikan terhadap sektor energi. Produsen minyak AS diperkirakan kehilangan hingga dua juta barel per hari atau sekitar 15 persen dari total produksi nasional selama akhir pekan. Gangguan ini disebabkan oleh cuaca ekstrem yang membebani infrastruktur energi dan jaringan listrik.

Menurut perkiraan analis dan pedagang, gangguan produksi mencapai puncaknya pada Sabtu. Konsultan Energy Aspects memperkirakan Cekungan Permian menjadi wilayah yang paling terdampak, dengan penurunan produksi sekitar 1,5 juta barel per hari.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar akan berkurangnya pasokan minyak global dalam jangka pendek. Kekhawatiran inilah yang mendorong harga minyak melonjak pada sesi sebelumnya sebelum akhirnya terkoreksi.

Seiring membaiknya kondisi cuaca, pasar mulai memperhitungkan potensi pemulihan produksi yang lebih cepat dari perkiraan awal.

Pemulihan Produksi Mulai Terlihat

Kerugian produksi akibat badai dilaporkan mulai mereda pada Senin. Perkiraan terbaru menunjukkan penghentian produksi di wilayah Permian berkurang menjadi sekitar 700 ribu barel per hari. Produksi minyak diproyeksikan akan sepenuhnya pulih pada 30 Januari.

Pemulihan yang relatif cepat ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga minyak pada perdagangan terbaru. Pelaku pasar menilai bahwa gangguan pasokan bersifat sementara dan tidak akan berdampak panjang terhadap keseimbangan pasar.

Selain produksi minyak, fasilitas pendukung energi juga mengalami gangguan terbatas. Tercatat sekitar dua lusin laporan gangguan di pabrik pengolahan gas alam dan stasiun kompresor di Texas selama akhir pekan.

Namun, jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan lebih dari 200 gangguan yang dilaporkan selama lima hari pertama badai musim dingin parah pada 2021, menurut catatan analis TACenergy.

Risiko Geopolitik Masih Membayangi

Di luar faktor cuaca, risiko geopolitik tetap menjadi perhatian utama para pedagang. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat investor berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar minyak. Situasi ini berpotensi memicu gangguan pasokan jika eskalasi konflik terjadi.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki armada yang menuju ke Iran, meskipun ia berharap tidak perlu menggunakannya. Pernyataan tersebut disertai peringatan kepada Teheran agar tidak membunuh para pengunjuk rasa atau memulai kembali program nuklirnya.

Komentar tersebut menambah ketidakpastian geopolitik yang sudah ada, sehingga membatasi penurunan harga minyak yang lebih dalam. Pasar cenderung menjaga premi risiko selama ketegangan belum mereda.

Kondisi geopolitik ini juga membuat investor lebih waspada terhadap potensi lonjakan harga mendadak jika situasi memburuk.

Prospek Produksi dan Kebijakan OPEC+

Di sisi lain, OPEC+ diperkirakan akan mempertahankan jeda peningkatan produksi minyak untuk Maret. Kebijakan ini dinilai bertujuan menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian permintaan dan pasokan global.

Produksi minyak serpih AS diperkirakan dapat turun hingga 400 ribu barel per hari pada 2026 jika negara-negara OPEC mencoba meningkatkan pangsa pasar. Dalam skenario tersebut, harga minyak diproyeksikan bisa turun hingga USD40 per barel.

Prospek tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi strategi investasi jangka menengah di sektor energi. Pelaku pasar akan terus memantau kebijakan OPEC+ serta respons produsen minyak non-OPEC.

Dengan kombinasi faktor cuaca, geopolitik, dan kebijakan produksi, pergerakan harga minyak diperkirakan tetap volatil. Investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kepastian arah pasar dalam beberapa pekan ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index