Rupiah

Rupiah Menguat Tipis Awal Perdagangan Dolar Melemah Jelang Keputusan Suku Bunga

Rupiah Menguat Tipis Awal Perdagangan Dolar Melemah Jelang Keputusan Suku Bunga
Rupiah Menguat Tipis Awal Perdagangan Dolar Melemah Jelang Keputusan Suku Bunga

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah membuka perdagangan hari ini dengan sinyal positif di tengah sikap hati-hati pelaku pasar. 

Mata uang Garuda menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat seiring menurunnya tekanan eksternal dan meningkatnya fokus investor pada agenda kebijakan moneter domestik. Situasi ini membuat pasar cenderung wait and see, sembari mencermati arah kebijakan Bank Indonesia yang akan diumumkan dalam waktu dekat.

Pada pembukaan perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, rupiah tercatat menguat setelah sehari sebelumnya ditutup melemah. Kondisi ini memberi harapan adanya ruang stabilisasi jangka pendek, meskipun sentimen global dan domestik masih berpotensi memengaruhi volatilitas nilai tukar sepanjang hari.

Rupiah Awali Hari Dengan Arah Positif

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka menguat 0,15% atau terapresiasi ke level Rp16.920 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah ditutup melemah tipis 0,06% dan mencatatkan level penutupan terlemah sepanjang masa di Rp16.945 per dolar AS.

Pergerakan awal yang positif ini mencerminkan adanya respons pasar terhadap melemahnya dolar AS di pasar global. Meski demikian, penguatan rupiah masih tergolong terbatas dan belum sepenuhnya mencerminkan perubahan tren jangka menengah, mengingat ketidakpastian global masih cukup tinggi.

Pelaku pasar pun cenderung tidak agresif mengambil posisi besar sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter dalam negeri yang dinilai akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah selanjutnya.

Indeks Dolar Masih Berada Di Zona Koreksi

Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY pada pukul 09.00 WIB tercatat masih berada di zona koreksi. Indeks dolar turun 0,15% dan berada di level 98,498 setelah pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah cukup dalam hingga 0,76%.

Tekanan terhadap dolar AS memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk bergerak lebih stabil, termasuk rupiah. Pelemahan dolar ini juga mencerminkan sikap investor global yang mulai mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian kebijakan.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor pendukung penguatan rupiah pada awal perdagangan, meskipun sentimen ini masih rentan berubah seiring dinamika pasar global.

Fokus Pasar Tertuju Pada Kebijakan BI

Dari dalam negeri, perhatian utama pelaku pasar tertuju pada pengumuman keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia yang dijadwalkan siang hari ini, Rabu, 21 Januari 2026. Keputusan tersebut dinilai krusial dalam menentukan arah rupiah dan pasar keuangan domestik secara keseluruhan.

Pada Rapat Dewan Gubernur sebelumnya yang berlangsung pada 16–17 Desember 2025, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Sementara itu, suku bunga deposit facility berada di level 3,75% dan lending facility di level 5,50%.

Keputusan tersebut menjadi kali ketiga secara berturut-turut Bank Indonesia menahan suku bunga sejak terakhir kali memangkas suku bunga pada September 2025 sebesar 25 basis poin untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Konsensus Pasar Perkirakan Suku Bunga Ditahan

Untuk Rapat Dewan Gubernur Januari 2026, konsensus pasar cenderung solid. Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 lembaga dan institusi, seluruhnya memperkirakan Bank Indonesia akan kembali menahan suku bunga acuan di level 4,75%.

Ekspektasi ini membuat pelaku pasar relatif tenang dan tidak melakukan reaksi berlebihan terhadap pergerakan rupiah. Penahanan suku bunga dinilai sebagai langkah menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Meski begitu, pelaku pasar tetap mencermati nada pernyataan Bank Indonesia terkait kondisi global dan arah kebijakan ke depan, yang berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap rupiah.

Sentimen Global Tekan Dolar AS

Dari sisi eksternal, pelemahan dolar AS turut dipicu oleh meningkatnya ketegangan kebijakan global. Ancaman kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland memicu aksi jual di pasar saham dan obligasi pemerintah AS.

Situasi tersebut mendorong investor untuk mengurangi kepemilikan aset-aset AS dan mencari alternatif di luar dolar. Tekanan ini kembali menghidupkan narasi “Sell America” di pasar global, yang berdampak langsung pada pelemahan dolar AS.

Ketidakpastian kebijakan, memanasnya hubungan aliansi, serta potensi aksi balasan dari negara-negara terdampak menjadi faktor utama yang membebani pergerakan dolar di pasar internasional.

Rupiah Di Tengah Tren De-Dolarisasi

Selain faktor geopolitik, percepatan tren de-dolarisasi global juga turut memengaruhi pergerakan nilai tukar. Sejumlah negara mulai mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi perdagangan dan cadangan devisa mereka.

Kondisi ini memberikan dukungan jangka menengah bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, analis menilai dampaknya masih bersifat bertahap dan belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan eksternal yang muncul sewaktu-waktu.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif sepanjang hari. Pasar akan mencermati hasil keputusan Bank Indonesia serta dinamika global untuk menentukan arah pergerakan berikutnya, sembari menjaga sikap waspada terhadap potensi perubahan sentimen secara cepat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index