JAKARTA - Pergerakan pasar kripto global kembali menunjukkan tekanan signifikan dalam 24 jam terakhir.
Sejumlah aset digital berkapitalisasi besar tercatat melemah, mencerminkan sikap hati-hati investor yang meningkat di tengah ketidakpastian arah pasar. Bitcoin dan Ethereum menjadi dua aset utama yang paling disorot karena kompak mengalami koreksi cukup dalam.
Situasi ini terjadi setelah reli sebelumnya gagal dipertahankan. Aksi ambil untung jangka pendek pun tak terhindarkan, baik dari investor ritel maupun institusi. Di tengah kondisi tersebut, pasar kripto bergerak fluktuatif dengan tekanan yang relatif merata, sementara stablecoin cenderung tetap stabil.
Bitcoin Kehilangan Momentum Reli
Bitcoin tercatat mengalami koreksi setelah gagal menjaga laju penguatan sebelumnya. Berdasarkan data Coinmarketcap.com per Rabu 21 Januari 2026, harga Bitcoin dalam 24 jam terakhir berada di level USD 88.394,28 atau melemah 4,66 persen.
Pelemahan ini menandakan investor mulai merealisasikan keuntungan setelah reli singkat yang sempat membawa harga ke level lebih tinggi. Tekanan jual muncul seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek jangka pendek aset berisiko.
Meski demikian, sebagian pelaku pasar menilai koreksi ini masih tergolong wajar dalam dinamika pasar kripto yang dikenal volatil. Namun, sentimen jangka pendek saat ini cenderung defensif.
Ethereum Tertekan Lebih Dalam
Ethereum justru mencatat tekanan yang lebih besar dibandingkan Bitcoin. Dalam periode 24 jam terakhir, ETH turun 8,11 persen ke posisi USD 2.934,56. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya tekanan jual di segmen altcoin.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko lebih tinggi, terutama ketika ketidakpastian pasar meningkat. Ethereum sebagai aset kripto terbesar kedua pun tak luput dari dampak tersebut.
Tekanan pada ETH juga mengindikasikan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya pulih, sehingga ruang pemulihan jangka pendek masih terbatas.
Stablecoin Bertahan Di Tengah Tekanan
Di tengah pelemahan mayoritas aset kripto, stablecoin relatif mampu menjaga stabilitas. Tether tercatat berada di kisaran USD 0,9987 dengan koreksi tipis 0,07 persen dalam 24 jam terakhir.
Stabilitas juga terlihat pada USD Coin yang berada di level USD 0,9998 dengan penurunan sangat kecil sebesar 0,01 persen. Kondisi ini mencerminkan peran stablecoin sebagai tempat berlindung sementara bagi investor di tengah volatilitas pasar.
Sementara itu, BNB masih mengalami tekanan dengan penurunan 5,32 persen ke level USD 875,20. Koreksi ini menandakan bahwa sentimen negatif masih membayangi aset kripto besar di luar Bitcoin dan Ethereum.
Altcoin Utama Bergerak Di Zona Merah
Tekanan pasar turut dirasakan oleh sejumlah altcoin utama lainnya. XRP tercatat melemah 4,82 persen ke harga USD 1,89. Pergerakan ini menunjukkan bahwa minat spekulatif masih ada, namun belum cukup kuat untuk menahan tekanan jual.
Solana mengalami koreksi 5,69 persen ke level USD 125,96. Penurunan ini mencerminkan sikap wait and see investor terhadap aset yang sebelumnya mencatatkan performa agresif.
TRON turun 4,70 persen ke harga USD 0,2964, sedangkan Dogecoin melemah 4,39 persen ke posisi USD 0,1234. Cardano juga terkoreksi 5,01 persen ke level USD 0,3512, menandakan tekanan yang relatif merata di pasar altcoin.
Tekanan Dalam Pada Kripto Tertentu
Beberapa aset kripto mencatat koreksi yang jauh lebih tajam dibandingkan pasar secara umum. Bitcoin Cash tercatat turun 1,66 persen ke level USD 574,17, dengan tekanan yang relatif lebih terbatas.
Namun, Monero mengalami penurunan paling dalam dengan anjlok 19,72 persen ke harga USD 501,20. Koreksi tajam ini menjadikan Monero sebagai salah satu aset dengan kinerja terburuk dalam daftar kripto teratas.
Selain itu, Chainlink turun 5,67 persen ke USD 12,14, LEO Token melemah 2,82 persen ke USD 8,72, dan Hyperliquid terkoreksi 10,89 persen ke posisi USD 21,11. Kondisi ini memperlihatkan tingginya volatilitas pada aset-aset tertentu.
Isu Regulasi Tambah Tekanan Sentimen
Selain faktor teknikal, tekanan pasar juga dipengaruhi oleh isu regulasi. Otoritas keuangan California sebelumnya menjatuhkan sanksi kepada perusahaan pemberi pinjaman kripto Nexo, yang dinilai melanggar aturan pinjaman.
Regulator menyebut perusahaan tersebut menyalurkan pinjaman berbasis kripto kepada ribuan warga tanpa lisensi yang diwajibkan, serta gagal menilai kemampuan bayar debitur secara memadai. Pernyataan resmi menyebut praktik tersebut berpotensi membahayakan konsumen.
Kasus ini menambah daftar panjang tantangan regulasi yang dihadapi industri kripto, khususnya di Amerika Serikat. Sanksi tersebut turut memperkuat sentimen kehati-hatian investor terhadap sektor aset digital.
Dampak Jangka Pendek Bagi Pasar
Dengan kombinasi tekanan teknikal dan sentimen regulasi, pasar kripto diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat. Investor cenderung menunggu kejelasan arah sebelum kembali mengambil posisi agresif.
Meski koreksi saat ini tergolong signifikan, sebagian pelaku pasar menilai kondisi ini sebagai fase konsolidasi yang lazim terjadi dalam siklus kripto. Namun, risiko tetap perlu dicermati mengingat sentimen global dan kebijakan regulator masih menjadi faktor penekan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Lakukan analisis mendalam sebelum membeli atau menjual aset kripto. Penulis dan media tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang timbul dari keputusan investasi.