Industri Otomotif Indonesia 2025 Cetak Rekor Ekspor Saat Penjualan Lokal Melemah

Selasa, 03 Februari 2026 | 13:00:35 WIB
Industri Otomotif Indonesia 2025 Cetak Rekor Ekspor Saat Penjualan Lokal Melemah

JAKARTA - Industri otomotif nasional sepanjang 2025 menghadirkan dua wajah yang kontras. 

Di satu sisi, kinerja ekspor kendaraan roda empat justru menorehkan capaian bersejarah dan menjadi penopang utama industri. Namun di sisi lain, pasar domestik belum sepenuhnya pulih, dengan penjualan lokal yang masih berada di bawah level ideal serta produksi di beberapa segmen mengalami tekanan.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperlihatkan bahwa ekspor mobil utuh atau completely built up (CBU) mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini menegaskan bahwa daya saing industri otomotif Indonesia di pasar global terus menguat, meskipun tantangan di dalam negeri masih terasa hingga akhir tahun.

Ekspor Jadi Penyangga Industri Otomotif Nasional

Sepanjang 2025, ekspor mobil CBU Indonesia tercatat mencapai 518.212 unit. Angka tersebut tumbuh 9,7 persen secara tahunan dan sekaligus memecahkan rekor tertinggi yang pernah dicapai industri otomotif nasional. Capaian ini menjadi kabar positif di tengah perlambatan permintaan kendaraan di pasar domestik.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menyebut, lonjakan ekspor tersebut menjadi bantalan penting bagi industri otomotif. Saat penjualan lokal belum kembali ke kondisi normal, pasar ekspor mampu menjaga keberlangsungan produksi dan aktivitas industri secara keseluruhan.

“Biasanya kita jualan bisa di atas 1 juta unit, sekarang kita hanya sekitar 800.000 unit. Kemarin alhamdulillah tembus 803.000 unit. Tapi yang menarik, ekspor kita juga tembus all time high di kisaran 518.000 unit,” ujar Kukuh kepada media di Jakarta, Jumat (30/1).

Penjualan Domestik Masih Di Bawah Harapan

Berbanding terbalik dengan ekspor, penjualan kendaraan di dalam negeri sepanjang 2025 masih menunjukkan tren melemah. Total penjualan domestik hanya berada di kisaran 803.000 unit, jauh dari capaian normal industri yang biasanya mampu menembus lebih dari satu juta unit per tahun.

Kondisi ini berdampak langsung pada volume produksi kendaraan di Tanah Air. Kukuh mengakui bahwa penurunan produksi tidak hanya terjadi pada kendaraan komersial seperti truk, tetapi juga hampir merata di berbagai segmen kendaraan penumpang.

Meski demikian, Gaikindo menilai situasi ini masih bisa diimbangi oleh performa ekspor yang solid. Dengan pasar global yang terus dibuka, industri tetap memiliki ruang untuk menjaga utilisasi pabrik dan mempertahankan tenaga kerja.

Dominasi Pabrikan Jepang Dalam Ekspor CBU

Dari sisi produsen, ekspor mobil CBU Indonesia masih didominasi oleh pabrikan asal Jepang. Toyota menjadi eksportir terbesar dengan kontribusi lebih dari sepertiga total ekspor kendaraan nasional. Posisi tersebut disusul oleh Daihatsu dan Mitsubishi Motors yang juga memiliki basis produksi kuat di Indonesia.

Selain pabrikan Jepang, kehadiran produsen non-Jepang seperti Hyundai turut memperkaya struktur ekspor otomotif nasional. Partisipasi pemain global ini menunjukkan bahwa Indonesia semakin dipercaya sebagai basis produksi kendaraan untuk pasar internasional.

Diversifikasi produsen dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan ekspor ke depan, sekaligus memperkuat ekosistem industri otomotif nasional agar tidak bergantung pada satu negara asal merek tertentu.

Lonjakan Ekspor CKD Perkuat Posisi Indonesia

Tidak hanya ekspor mobil utuh, kinerja ekspor kendaraan dalam bentuk terurai atau completely knocked down (CKD) juga mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025. Gaikindo mencatat ekspor CKD mencapai 63.263 unit, melonjak 36,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Mitsubishi Motors menjadi kontributor utama ekspor CKD Indonesia, diikuti oleh Hyundai dan Suzuki. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berperan sebagai eksportir kendaraan jadi, tetapi juga sebagai pusat produksi komponen dan perakitan untuk pasar global.

Ekspor CKD dinilai strategis karena memperkuat kerja sama industri antarnegara serta membuka peluang transfer teknologi dan peningkatan kapasitas manufaktur dalam negeri.

Ekspor Komponen Justru Mengalami Penurunan

Di tengah kinerja positif ekspor kendaraan, ekspor komponen otomotif justru mencatat kontraksi. Sepanjang 2025, ekspor komponen tercatat turun 7,3 persen menjadi 141,9 juta potong, dibandingkan 153 juta potong pada tahun sebelumnya.

Mayoritas ekspor komponen masih disuplai oleh Toyota dengan kontribusi lebih dari 90 persen. Penurunan ini menjadi catatan tersendiri bagi industri, mengingat komponen memiliki peran penting dalam memperkuat rantai pasok otomotif nasional.

Menurut Gaikindo, fluktuasi ekspor komponen dipengaruhi oleh dinamika permintaan global serta penyesuaian produksi di negara tujuan ekspor. Ke depan, penguatan industri komponen lokal tetap menjadi agenda penting agar nilai tambah industri semakin besar.

Upaya Perluasan Pasar Ekspor Terus Dilakukan

Kukuh menegaskan bahwa capaian ekspor tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak, baik pelaku industri maupun pemerintah. Dukungan kementerian terkait, seperti Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perdagangan, dinilai berperan dalam membuka akses pasar baru bagi kendaraan buatan Indonesia.

“Kita syukuri saja bahwa ekspor meningkat dan mencetak rekor tertinggi. Kita terus kerja keras bersama, baik pelaku industri maupun pemerintah, misalnya dengan kementerian luar negeri dan perdagangan. Kita ingin ekspor ke Meksiko lebih baik, ke Timur Tengah juga,” katanya.

Dengan perluasan negara tujuan dan diversifikasi produk, Gaikindo optimistis ekspor akan tetap menjadi motor pertumbuhan industri otomotif nasional. Di tengah perlambatan pasar domestik, tren ekspor yang kuat diharapkan mampu menjaga kinerja industri hingga kondisi penjualan lokal kembali pulih pada tahun-tahun mendatang.

Terkini