JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia pada awal pekan ini cenderung tenang dan tidak menunjukkan lonjakan signifikan.
Pasar energi memilih bersikap hati-hati sambil menanti perkembangan sejumlah isu geopolitik dan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arah harga. Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan investor adalah harapan meredanya ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat.
Pada perdagangan Selasa 3 Februari, harga minyak tercatat bergerak tipis di tengah minimnya sentimen baru yang benar-benar dominan. Pelaku pasar menimbang peluang tercapainya kesepakatan diplomatik, sekaligus mencermati kebijakan produksi negara-negara produsen utama. Kondisi ini membuat harga minyak belum menemukan momentum kuat untuk bergerak tajam ke salah satu arah.
Di sisi lain, faktor eksternal seperti penguatan mata uang dolar Amerika Serikat juga ikut menahan laju kenaikan harga. Kombinasi antara faktor geopolitik, kebijakan produksi, serta kondisi makroekonomi global menciptakan suasana pasar yang relatif seimbang.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak saat ini berada dalam fase menunggu. Investor lebih memilih menahan posisi sambil mencermati hasil perundingan internasional dan langkah kebijakan negara-negara besar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pasokan dan permintaan minyak dunia.
Pergerakan Harga Brent dan WTI Masih Terbatas
Mengacu pada laporan Reuters, harga minyak mentah Brent tercatat naik tipis sebesar 0,1 persen dan diperdagangkan di level US$66,36 per barel. Kenaikan ini tergolong sangat terbatas dan mencerminkan sikap pasar yang masih berhati-hati. Brent sebagai acuan global belum mendapatkan dorongan kuat untuk menguat lebih jauh.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI juga mencatat penguatan ringan. Harga WTI naik sekitar 0,2 persen ke level US$62,24 per barel. Pergerakan serupa antara Brent dan WTI menandakan tidak adanya perbedaan sentimen signifikan antara pasar minyak Eropa dan Amerika.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelaku pasar global memiliki pandangan yang relatif sama terhadap prospek jangka pendek harga minyak. Tidak ada faktor tunggal yang cukup kuat untuk mendorong reli harga, namun juga tidak ada tekanan besar yang memicu penurunan tajam.
Stabilnya harga Brent dan WTI mencerminkan keseimbangan antara potensi risiko geopolitik dan ekspektasi pasokan yang relatif terjaga. Investor tampaknya menunggu kepastian sebelum mengambil langkah lebih agresif.
Harapan dari Dialog Nuklir Iran dan Amerika Serikat
Salah satu isu utama yang menjadi perhatian pasar minyak adalah rencana kelanjutan pembicaraan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat. Kedua negara dijadwalkan melanjutkan dialog pada pekan ini di Turki. Pertemuan tersebut diharapkan mampu membuka jalan menuju kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan.
Amerika Serikat sebelumnya telah memperingatkan bahwa konsekuensi serius dapat terjadi apabila kesepakatan tidak tercapai. Pernyataan ini sempat memicu kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik, yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Namun, harapan akan tercapainya kesepakatan justru memberikan sentimen penyeimbang. Jika ketegangan mereda, potensi gangguan pasokan minyak dari Iran dapat diminimalkan. Bahkan, dalam jangka panjang, peluang kembalinya minyak Iran ke pasar global juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi investor.
Situasi ini membuat pasar minyak berada dalam posisi menunggu hasil konkret dari pembicaraan tersebut. Setiap perkembangan positif atau negatif dari meja perundingan berpotensi langsung tercermin pada pergerakan harga minyak dunia.
Kesepakatan Dagang Amerika Serikat dan India
Selain isu Iran, pasar minyak juga mencermati kesepakatan dagang terbaru antara Amerika Serikat dan India. Dalam kesepakatan tersebut, India sepakat untuk menghentikan pembelian minyak dari Rusia. Keputusan ini berpotensi mengubah peta aliran perdagangan minyak global.
Langkah India tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Namun, di sisi lain, kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan terkait alternatif pasokan minyak yang akan dipilih India ke depan.
Perubahan pola impor minyak oleh salah satu konsumen besar dunia seperti India tentu memiliki dampak terhadap keseimbangan permintaan dan pasokan global. Meski demikian, dampak langsung terhadap harga minyak masih terbatas karena pasar menilai perubahan ini akan berlangsung secara bertahap.
Investor saat ini masih menunggu bagaimana implikasi jangka menengah dari kesepakatan tersebut. Selama belum ada gangguan signifikan pada pasokan global, harga minyak cenderung bergerak stabil.
Keputusan OPEC Plus Menjaga Produksi
Faktor lain yang turut memengaruhi stabilitas harga minyak adalah keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+. Kelompok produsen ini sepakat untuk mempertahankan tingkat produksi minyak pada Maret mendatang.
Sebelumnya, delapan negara anggota OPEC+ telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta barel per hari untuk periode April hingga Desember 2025. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga keseimbangan pasar di tengah fluktuasi permintaan global.
Dengan mempertahankan produksi, OPEC+ memberikan sinyal stabilitas kepada pasar. Langkah ini dinilai mampu mencegah kelebihan pasokan sekaligus menjaga harga agar tidak jatuh terlalu dalam.
Keputusan tersebut juga mencerminkan kehati-hatian OPEC+ dalam merespons dinamika ekonomi global. Ketidakpastian pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara membuat produsen minyak memilih kebijakan yang lebih konservatif.
Penguatan Dolar AS Membatasi Kenaikan Harga
Di tengah berbagai sentimen geopolitik dan kebijakan produksi, penguatan dolar Amerika Serikat menjadi faktor penahan kenaikan harga minyak. Indeks dolar tercatat bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari sepekan terakhir.
Penguatan dolar cenderung menekan permintaan minyak dari negara-negara yang menggunakan mata uang lain. Harga minyak yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Kondisi ini membuat kenaikan harga minyak menjadi terbatas meski terdapat sejumlah sentimen positif. Selama dolar AS tetap kuat, tekanan terhadap harga minyak berpotensi terus berlanjut.
Dengan berbagai faktor yang saling menyeimbangkan, pasar minyak dunia saat ini bergerak dalam rentang sempit. Investor memilih menunggu kepastian dari perkembangan geopolitik, kebijakan produksi, serta arah ekonomi global sebelum menentukan langkah selanjutnya.