Detail Cheongsam Ranty Maria Saat Tea Pai Penuh Simbol Budaya Tionghoa Makna

Minggu, 01 Februari 2026 | 08:57:09 WIB
Detail Cheongsam Ranty Maria Saat Tea Pai Penuh Simbol Budaya Tionghoa Makna

JAKARTA - Rangkaian pernikahan Ranty Maria dan Rayn Wijaya telah rampung digelar pada Senin, 26 Januari 2026. 

Sebelum prosesi pemberkatan yang disiarkan langsung melalui YouTube, pasangan ini lebih dulu menjalani ritual Tea Pai secara privat bersama keluarga inti. Momen sakral tersebut menjadi istimewa karena Ranty tampil mengenakan cheongsam yang dirancang khusus dan sarat makna budaya. Busana ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian adat, tetapi juga menyampaikan pesan filosofis tentang doa dan harapan.

Cheongsam yang dikenakan Ranty Maria dirancang oleh GV by Gabriella Praditha. Kepada Lifestyle Liputan6.com, Selasa, 27 Januari 2026, Gabriella mengungkap bahwa konsep busana tersebut terinspirasi dari Imperial Palace of the East. Konsep ini dipilih untuk menghadirkan nuansa agung, klasik, sekaligus penuh simbol keberuntungan. Setiap detail dirancang dengan pertimbangan mendalam agar sejalan dengan momen penting dalam hidup Ranty dan Rayn.

Konsep Budaya Sarat Simbol Bermakna

Mengacu pada konsep Imperial Palace of the East, Gabriella memasukkan beragam simbol budaya Tionghoa ke dalam cheongsam tersebut. Elemen seperti burung hummingbird atau burung kolibri, burung phoenix, istana China, hingga bunga peony dihadirkan sebagai lambang kesejahteraan, harmoni, dan nasib baik. Setiap simbol memiliki arti khusus yang disesuaikan dengan perjalanan cinta pasangan pengantin. “Di sini juga mempunyai banyak arti spesial untuk Kak Ranty dan Kak Rayn,” ujarnya.

Setelah melalui proses konsultasi yang panjang, warna ivory atau putih gading akhirnya dipilih sebagai warna utama gaun. Menurut Gabriella, warna ini dinilai paling sesuai dengan warna kulit Ranty Maria. “Membuat tampilan terasa bersih, segar, dan abadi,” jelasnya. Pemilihan warna tersebut juga memperkuat kesan elegan tanpa menghilangkan sentuhan tradisional yang ingin ditampilkan.

Tiga Tampilan untuk Ritual Tea Pai

Untuk momen Tea Pai, Gabriella merancang total tiga tampilan berbeda yang saling melengkapi. Tampilan pertama berupa syal panjang menyerupai wrap shawl dengan tepian menyerupai bulu burung merak. Syal tersebut dibuat dari bahan beludru merah maroon yang memberikan kesan hangat dan mewah. Warna merah dipilih karena melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan dalam budaya Tionghoa.

“Syalnya kita buat panjang seperti wrap shawl ya. Itu terbuat dari bahan red maroon velvet, lalu kami hiasi dengan 3D embroidery yang berbentuk seperti ekor burung peacock (merak). Lalu, kita dekorasi dengan penyebaran handmade beading di sekitar ekor peacock tersebut,” tutur Gabriella. Detail bordir dan manik-manik dikerjakan secara manual untuk memastikan hasil akhir terlihat hidup dan berkelas.

Ekor Merak dan Phoenix Tiga Dimensi

Tampilan kedua hadir dalam bentuk ekor gaun dua lapis yang menyerupai ekor burung merak tiga dimensi. Meski tidak dibuat terlalu besar, desain ini tetap terlihat mewah berkat teknik double layer dan detail bordir yang senada dengan syal. Gabriella juga menambahkan sepasang bordir burung phoenix 3D di bagian pinggang. Elemen ini menciptakan efek dramatis saat Ranty berjalan.

“Jadi, ekornya tidak terlalu besar karena ini dibalik, tapi kita tetap buat mewah dengan double layer. Lalu, ada hiasan di bawahnya itu sama seperti syalnya,” jelasnya. Seluruh bordir dikerjakan satu per satu dengan tangan hingga membentuk siluet ekor merak tiga dimensi. Burung phoenix 3D dipasangkan menggunakan kawat khusus agar terlihat kaku, namun tetap bergoyang saat dikenakan.

Menariknya, ekor gaun tersebut dirancang lepas pasang. Menurut Gabriella, desain ini dibuat agar Ranty dan Rayn lebih leluasa berbaur dengan tamu undangan. Fleksibilitas ini menjadi nilai tambah, mengingat acara Tea Pai digelar secara privat dan penuh interaksi keluarga.

Cheongsam Simpel Menyesuaikan Lokasi

Tampilan ketiga berupa gaun cheongsam tanpa lengan yang dirancang khusus untuk menyesuaikan suasana tepi pantai Bali. Potongan ini dipilih agar tetap nyaman dikenakan di cuaca hangat tanpa mengurangi kesan anggun. Pada gaun tersebut, Gabriella menambahkan berbagai bordir simbolis seperti istana China di bagian tepian rok dan bunga peony di beberapa area.

“Kita custom cheongsam yang memang enak dipakai, tidak panas, tidak terlalu bulky juga. Kita inginnya tuh ada sense of simplicity-nya,” ungkapnya. Gaun dibuat menjuntai hingga menyentuh lantai dan dilengkapi tassels dari manik-manik yang menggantung di bagian punggung. Elemen dekoratif ini memberikan sentuhan dinamis sekaligus elegan saat dikenakan bersama syal dan ekor.

Gabriella menegaskan bahwa seluruh gaun di GV selalu dibuat secara handmade. “Semua gaun di GV itu selalu handmade. Kita selalu buat satu per satu, saya sendiri yang menggambar, lalu saya sendiri juga yang mengatur semua warnanya ya. Dan elemen-elemen 3Dnya itu saya semua yang mengatur,” paparnya.

Gaun Pemberkatan Rancangan Hian Tjen

Saat prosesi pemberkatan di salah satu resort di Nusa Dua, Bali, Ranty Maria tampil berbeda dengan mengenakan gaun pengantin putih rancangan Hian Tjen. Gaun tersebut memiliki potongan rok mengembang, kerah tinggi, serta ekor panjang yang menyapu lantai. Material lace bermotif bunga berkilauan memperkuat kesan anggun dan klasik.

Melalui akun Instagram pribadinya, Hian Tjen menyebut gaun tersebut menyimpan “keanggunan yang tenang dalam setiap detail”. Ia menegaskan bahwa desain tersebut tidak mengikuti tren semata, melainkan menceritakan kisah kepercayaan diri dan ketenangan. “Tidak mencolok, tidak mencoba untuk mengesankan, hanya indah tanpa usaha dan sangat bermakna,” tulisnya.

Ranty Maria dan Rayn Wijaya resmi menikah pada tanggal cantik, Senin sore, 26 Januari 2026. Pasangan ini bahkan menunggu selama dua tahun sejak lamaran demi mendapatkan tanggal istimewa tersebut. Seluruh rangkaian busana yang dikenakan pun menjadi simbol perjalanan cinta yang penuh makna dan perhitungan matang.

Terkini