JAKARTA - Kulit kerap dianggap sekadar penunjang penampilan, padahal perannya jauh lebih besar dari itu.
Sebagai organ terbesar tubuh manusia, kulit bekerja tanpa henti melindungi tubuh dari berbagai paparan luar. Karena itulah, menjaga kesehatan kulit bukan sekadar soal estetika, melainkan juga investasi jangka panjang bagi kesehatan secara menyeluruh.
Sayangnya, masih banyak orang yang terjebak tren dan melupakan prinsip dasar perawatan kulit yang justru paling penting.
Di tengah gempuran iklan di media sosial, baliho jalanan, hingga tayangan televisi, masyarakat disuguhi beragam produk skincare yang menjanjikan hasil instan. Klaim kulit cerah dalam hitungan hari atau wajah bebas jerawat hanya dengan satu rangkaian produk kerap terdengar menggoda.
Namun kenyataannya, rutinitas perawatan kulit setiap orang berbeda, karena kondisi kulit pun tidak sama. Mengutip Women’s Health, Minggu , para dokter kulit sepakat bahwa ada sejumlah aturan mendasar yang seharusnya tidak diabaikan.
Berangkat dari pengalaman klinis, empat dokter kulit mengungkap kebiasaan umum yang sering dilakukan pasien, namun justru sangat tidak dianjurkan.
Di era TikTok dan Instagram, rutinitas perawatan kulit berlapis-lapis seakan menjadi standar baru. Padahal, menurut para ahli, terlalu banyak produk bukan berarti hasilnya lebih baik. Justru, kesalahan kecil dalam perawatan bisa berdampak panjang bagi kesehatan kulit.
Tidak Mengandalkan Rutinitas Terlalu Banyak Langkah
Tren rutinitas perawatan kulit sepuluh langkah kerap dianggap sebagai kunci kulit sehat. Namun, Cindy Wassef, MD, profesor madya di Rutgers Center for Dermatology, justru menentang pendekatan tersebut.
Ia mengatakan, “Saya tidak akan melakukan rutinitas perawatan kulit 10 langkah itu.” Menurutnya, penggunaan terlalu banyak produk dapat memicu iritasi dan memperparah jerawat.
Dr. Wassef menambahkan bahwa dengan banyaknya lapisan produk, sulit mengetahui seberapa efektif produk tersebut benar-benar terserap oleh kulit. Alih-alih mendapatkan manfaat maksimal, kulit justru bisa mengalami stres. Karena itu, ia memilih berhenti pada dua hingga tiga produk saja yang benar-benar dibutuhkan kulitnya. Prinsip sederhana ini dinilai lebih aman dan efektif dalam jangka panjang.
Tabir Surya Tidak Pernah Boleh Ditinggalkan
Dalam dunia perawatan kulit, tabir surya sering dianggap opsional. Padahal, menurut Dr. Wassef, perlindungan dari sinar matahari adalah bagian terpenting dari semuanya. Ia menegaskan, “Saya tidak akan pernah menghabiskan banyak uang untuk perawatan kulit dan melewatkan tabir surya.” Paparan sinar UV dapat meningkatkan risiko munculnya bintik hitam, garis halus, kerutan, pori-pori besar, hingga pembuluh darah yang tampak jelas.
Ia bahkan menyebut, “Jika saya harus memilih satu [produk] untuk dipilih dengan cermat, SPF adalah yang terbaik.” Pendapat ini diamini oleh Susan Massick, MD, dokter kulit dari The Ohio State University Wexner Medical Center. Menurutnya, penggunaan tabir surya adalah langkah yang mudah, aman, dan sangat efektif untuk menjaga kesehatan kulit.
Dr. Massick juga mengingatkan agar tabir surya tidak hanya digunakan saat cuaca cerah. Ia mengatakan, “Kesehatan kulit Anda sepadan dengan sedikit waktu ekstra yang dibutuhkan untuk mengaplikasikannya. Jangan lewatkan saat hari mendung atau berasumsi Anda tidak membutuhkannya saat cuaca dingin.” Sinar UV tetap dapat menembus awan dan berdampak buruk bagi kulit.
Menghindari Krim Antibiotik Tertentu pada Luka
Saat mengalami luka kecil atau lecet, banyak orang secara refleks mengoleskan krim antibiotik. Namun, Ife J. Rodney, MD, direktur pendiri Eternal Dermatology + Aesthetics, memperingatkan agar tidak sembarangan memilih produk. Ia mengatakan, “Mungkin tampak seperti ide yang bagus jika Anda mengalami luka atau lecet, tetapi produk yang mengandung antibiotik neomisin sangat dilarang.”
Menurut Dr. Rodney, neomisin dikenal dapat menyebabkan dermatitis kontak. Penggunaannya justru bisa membuat kulit menjadi merah, meradang, dan memperburuk kondisi luka. Ia menegaskan, “Itu membingungkan segalanya, dan dapat memperburuk keadaan.” Oleh karena itu, pemilihan produk untuk luka pun perlu dilakukan dengan hati-hati dan tidak asal mengikuti kebiasaan lama.
Tidak Memencet Jerawat Sembarangan
Jerawat yang muncul di wajah sering kali memancing tangan untuk segera memencetnya. Meski terlihat sepele, kebiasaan ini bisa berdampak serius. Dr. Rodney dengan tegas menyarankan untuk tidak menyentuh jerawat, terutama saat larut malam. Ia menjelaskan, “Itu menyebabkan trauma dan peradangan pada kulit disekitarnya. Itu bisa menyebabkan kemerahan, bengkak, dan bintik hitam.”
Sebagai alternatif, ia menyarankan penggunaan plester jerawat yang mengandung obat agar jerawat lebih cepat mengering. Selain itu, perawatan jerawat dengan produk tertentu juga bisa menjadi pilihan. Dr. Rodney merekomendasikan penggunaan produk dengan kandungan 5 persen benzoil peroksida. “Oleskan sedikit pada jerawat yang sudah matang dan diamkan selama beberapa jam,” ujarnya.
Tidak Mencoba Banyak Produk Baru Bersamaan
Keinginan mendapatkan hasil cepat sering membuat seseorang mencoba dua atau lebih produk baru sekaligus. Padahal, kebiasaan ini justru menyulitkan dalam mengevaluasi reaksi kulit. Joshua Zeichner, MD, direktur penelitian kosmetik dan klinis di Rumah Sakit Mount Sinai, menekankan pentingnya kesabaran dalam perawatan kulit.
Dr. Rodney juga mengingatkan bahwa mencoba satu produk baru dalam satu waktu adalah langkah paling bijak. Ia mengatakan, “Jika Anda melakukannya, Anda tidak tahu produk mana yang memberikan manfaat bagi kulit Anda. Sebaliknya, jika Anda mengalami reaksi, Anda tidak akan tahu produk mana yang merupakan agen pemicunya.” Karena itu, ia menyarankan menunggu beberapa minggu sebelum menambahkan produk baru ke dalam rutinitas perawatan.
Dengan memahami prinsip-prinsip dasar ini, perawatan kulit tidak lagi harus rumit atau mahal. Fokus pada langkah esensial dan mendengarkan kebutuhan kulit sendiri justru menjadi kunci utama untuk mendapatkan kulit yang sehat, kuat, dan bercahaya dalam jangka panjang.