Kebiasaan Begadang Terbukti Tingkatkan Risiko Jantung dan Gangguan Kesehatan Serius Lainnya

Minggu, 01 Februari 2026 | 08:57:07 WIB
Kebiasaan Begadang Terbukti Tingkatkan Risiko Jantung dan Gangguan Kesehatan Serius Lainnya

JAKARTA - Kebiasaan begadang kerap dianggap hal sepele, apalagi di tengah gaya hidup modern yang menuntut aktivitas hingga larut malam. 

Namun, di balik waktu tidur yang dikorbankan, tersimpan risiko kesehatan yang tidak bisa dipandang ringan. Lirik lagu Rhoma Irama tentang begadang nyatanya masih relevan hingga saat ini, karena penelitian terbaru kembali menegaskan dampak serius begadang terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Sebuah studi besar yang diterbitkan dalam Journal of the American Heart Association pada Rabu, 28 Januari 2026, mengungkap bahwa orang dewasa yang terbiasa aktif di malam hari memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung dan gangguan kardiovaskular lainnya. Penelitian ini melibatkan lebih dari 320.000 responden berusia 39 hingga 74 tahun, sehingga temuan yang dihasilkan dinilai cukup kuat dan representatif.

Para peneliti menilai berbagai metrik kesehatan responden, mulai dari pola makan, berat badan, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, tekanan darah, kadar kolesterol, hingga faktor gaya hidup lain. Dari data tersebut, ditentukan skor kesehatan kardiovaskular masing-masing individu untuk melihat keterkaitannya dengan kebiasaan tidur.

Hasil Studi dan Risiko Kardiovaskular

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang gemar begadang memiliki kondisi kesehatan jantung yang lebih buruk dibandingkan mereka yang terbiasa bangun pagi. Bahkan disebutkan bahwa “para begadang memiliki prevalensi 79 persen lebih tinggi untuk memiliki skor kesehatan kardiovaskular yang buruk secara keseluruhan” serta “risiko 16 persen lebih tinggi mengalami serangan jantung atau stroke” dalam kurun waktu 14 tahun ke depan.

Temuan ini menguatkan kesimpulan bahwa orang dewasa paruh baya hingga lanjut usia yang lebih aktif di malam hari cenderung memiliki kesehatan kardiovaskular yang lebih rendah. Kelompok ini dibandingkan dengan mereka yang digolongkan sebagai “benar-benar bangun pagi” maupun kelompok “antara” yang memiliki pola tidur lebih seimbang.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa peningkatan risiko tersebut tidak berdiri sendiri. Faktor perilaku lain turut berperan, terutama kebiasaan merokok dan pola tidur yang tidak teratur. Dengan kata lain, begadang sering berjalan beriringan dengan kebiasaan tidak sehat lainnya.

Perilaku yang Masih Bisa Diubah

Dalam upaya meredakan kekhawatiran pembaca, para peneliti menegaskan bahwa risiko kesehatan akibat begadang sebagian besar masih bisa ditekan. Mereka menyebutkan bahwa faktor pemicunya termasuk dalam kategori perilaku yang dapat dimodifikasi. Artinya, perubahan gaya hidup tetap memberi peluang besar untuk memperbaiki kondisi kesehatan.

“Orang yang cenderung begadang tidak serta merta kurang sehat, tetapi mereka menghadapi tantangan yang membuat sangat penting bagi mereka untuk mempertahankan gaya hidup sehat,” kata Dr. Kristen Knutson, ketua sukarelawan di American Heart Association, dalam siaran pers yang dikutip dari NY Post, Jumat, 30 Januari 2026.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa begadang bukan vonis mutlak bagi kesehatan. Namun, mereka yang memiliki kecenderungan aktif di malam hari perlu lebih disiplin dalam menjaga pola makan, menghindari rokok, rutin berolahraga, serta mengatur waktu tidur sebaik mungkin.

Sisi Positif dan Dampak Psikologis

Menariknya, tidak semua temuan tentang begadang bernada negatif. Studi lain menunjukkan bahwa individu yang gemar begadang justru memiliki performa lebih baik dalam beberapa tes kognitif dibandingkan mereka yang bangun pagi. Meski demikian, manfaat ini dinilai tidak sebanding dengan risiko jangka panjang yang menyertainya.

Berbagai penelitian juga mengaitkan kebiasaan begadang dengan meningkatnya risiko depresi, kematian dini, demensia, diabetes, hingga skizofrenia. Sebagian besar risiko tersebut berkaitan dengan aktivitas rekreasi larut malam, seperti merokok dan konsumsi alkohol yang lebih sering dilakukan saat malam hari.

Para ahli menyarankan agar waktu tidur ideal dimulai sebelum pukul 1 pagi. Anjuran ini bertujuan mencegah memburuknya kesehatan mental dan perilaku, sekaligus membantu tubuh menjalankan fungsi pemulihan secara optimal.

Pengaruh Begadang terhadap Kesehatan Kulit

Selain berdampak pada jantung dan kondisi mental, begadang juga diyakini memengaruhi kesehatan kulit. Mengutip WebMD, Sabtu, 14 Juni 2025, kurang tidur dapat mengganggu proses regenerasi sel kulit yang seharusnya terjadi saat tubuh beristirahat. Akibatnya, kelembapan alami kulit berkurang dan keseimbangan pH menjadi terganggu.

National Sleep Foundation merekomendasikan durasi tidur ideal bagi orang dewasa berkisar antara tujuh hingga sembilan jam per malam. Namun kenyataannya, tidak semua orang mampu memenuhi anjuran tersebut karena tuntutan pekerjaan maupun gaya hidup.

Studi dari Royal Society Open Science bahkan menyebutkan bahwa kurang tidur membuat seseorang tampak kurang sehat dan kurang menarik. Dampak ini terlihat jelas pada kondisi kulit wajah yang mengalami berbagai perubahan negatif.

Masalah Kulit yang Sering Muncul

Kurang tidur membuat sirkulasi darah ke kulit tidak optimal. Padahal, saat tidur, aliran darah meningkat untuk membawa oksigen dan nutrisi penting ke sel-sel kulit. Jika proses ini terganggu, wajah cenderung tampak kusam dan kehilangan kilau alaminya.

Begadang juga berkaitan dengan meningkatnya hormon stres atau kortisol. Kondisi ini memicu produksi minyak berlebih yang berpotensi menyumbat pori-pori dan memperparah jerawat. Studi dari Acta Dermato-Venereologica menyebutkan bahwa stres dan kelelahan akibat kurang tidur berhubungan erat dengan munculnya jerawat pada remaja maupun orang dewasa.

Selain itu, sistem imun tubuh yang melemah akibat kurang tidur membuat kulit lebih sensitif dan mudah mengalami iritasi. Area bawah mata pun kerap menghitam dan membengkak, dikenal sebagai mata panda, akibat pelebaran pembuluh darah dan retensi cairan.

Dalam jangka panjang, kurang tidur juga mempercepat penuaan dini. Produksi kolagen menurun drastis sehingga kulit kehilangan kekencangan dan lebih cepat berkerut. Studi menunjukkan bahwa perempuan dengan waktu tidur cukup memiliki pemulihan kulit 30 persen lebih baik dibandingkan mereka yang tidurnya terganggu, menegaskan pentingnya tidur berkualitas bagi kesehatan dan penampilan.

Terkini