JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan pelaku pasar keuangan pada akhir pekan ini.
Setelah sempat tertekan pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda menunjukkan pemulihan terhadap dolar Amerika Serikat. Fluktuasi ini terjadi di tengah dinamika sentimen global dan kebijakan domestik yang terus berkembang.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu usai melemah sehari sebelumnya. Penguatan ini menjadi perhatian karena terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan tarif internasional. Pelaku pasar mencermati berbagai faktor eksternal dan internal yang memengaruhi arah rupiah.
Melansir Bloomberg, nilai tukar rupiah kemarin terapresiasi 0,17% atau 29 poin ke Rp16.800 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup melemah 27 poin ke Rp16.829 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS melemah 0,13% ke level 97,71.
Pergerakan rupiah di pasar keuangan tidak terlepas dari kombinasi sentimen global dan domestik. Faktor eksternal masih menjadi pendorong utama volatilitas. Di sisi lain, kebijakan dalam negeri turut membentuk ekspektasi pelaku pasar.
Dampak Putusan Mahkamah Agung AS dan Kebijakan Tarif
Dari domestik, Trading Economics melaporkan pasar menyoroti langkah Presiden Prabowo Subianto yang menginstruksikan jajarannya untuk menilai implikasi dan dampak dari putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang menolak kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Isu ini memicu perhatian investor terhadap arah hubungan dagang kedua negara.
Seperti diketahui, Indonesia dan Amerika Serikat telah menyepakati tarif bea masuk AS atas produk Indonesia dari 32% menjadi 19%. Kesepakatan tersebut sebelumnya dipandang sebagai penyesuaian penting dalam hubungan dagang bilateral. Namun situasi berubah setelah putusan lembaga peradilan tertinggi AS tersebut.
Pasca penolakan dari Mahkamah Agung Amerika Serikat, Presiden Trump kemudian menyatakan akan memberlakukan tarif global baru sebesar 15%. Pernyataan itu menambah lapisan ketidakpastian di pasar global. Pelaku pasar merespons dengan lebih berhati-hati.
Dari dalam negeri, pelaku pasar berharap perjanjian dagang antara AS-Indonesia yang sudah ditandatangani dapat batal. Pasalnya, dalam perjanjian tersebut tarif yang ditetapkan lebih tinggi mencapai 19%. Harapan ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen rupiah.
Peran Kebijakan Moneter dan Stabilitas Rupiah
Selain faktor perdagangan, sentimen berikutnya yang menyertai nilai tukar rupiah adalah kebijakan moneter. Bank Indonesia kembali menegaskan komitmennya menjaga inflasi dalam kisaran target APBN. Stabilitas rupiah juga menjadi prioritas utama otoritas moneter.
Bank sentral menyatakan akan menempuh langkah-langkah likuiditas pro-pasar. Upaya tersebut dilakukan guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga. Kebijakan ini diharapkan mampu meredam gejolak nilai tukar.
"Pembuat kebijakan mengatakan mata uang tersebut tetap undervalued dan berjanji untuk turun tangan jika diperlukan, didukung oleh cadangan devisa yang cukup. Namun, mereka mengisyaratkan ruang untuk pelonggaran lebih lanjut guna mendukung pertumbuhan setelah memberikan pemotongan suku bunga sebesar 150 basis poin sejak September 2024," tulis laporan tersebut, Rabu (25/2/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan ruang kebijakan yang masih tersedia. Di satu sisi, stabilitas dijaga melalui intervensi bila diperlukan. Di sisi lain, pelonggaran moneter tetap terbuka untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Pergerakan Rupiah dan Proyeksi ke Depan
Sentimen di pasar keuangan yang terus berkembang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam sebulan terakhir telah melemah 0,47%. Dalam periode 12 bulan terakhir, rupiah terdepresiasi sebesar 3,06%. Data ini mencerminkan tekanan jangka menengah yang masih membayangi.
Fluktuasi tersebut memperlihatkan bahwa rupiah masih sensitif terhadap perubahan sentimen global. Dinamika kebijakan tarif dan arah suku bunga menjadi variabel penting. Investor pun terus menyesuaikan portofolionya.
"Rupiah diperkirakan akan diperdagangkan pada Rp16.831,67 pada akhir kuartal ini, menurut model makro global Trading Economics dan ekspektasi analis. Ke depan, kami memperkirakan akan diperdagangkan pada Rp16.567,90 dalam waktu 12 bulan," tulis riset tersebut.
Proyeksi ini memberikan gambaran arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek dan menengah. Meski sempat menguat, tekanan eksternal masih perlu diwaspadai. Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan global serta respons kebijakan domestik dalam menentukan arah selanjutnya.