JAKARTA - Reli harga minyak yang sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir tujuh bulan akhirnya tertahan.
Pada sesi perdagangan Selasa atau Rabu waktu Jakarta, harga emas hitam justru bergerak turun setelah muncul sinyal diplomatik dari Iran terkait pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat. Pasar yang sebelumnya dipenuhi premi risiko geopolitik mulai melakukan penyesuaian.
Penurunan ini terjadi setelah Iran mengatakan siap mengambil langkah langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat menjelang pembicaraan nuklir akhir pekan ini. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran eskalasi konflik yang selama beberapa pekan terakhir menopang harga minyak di pasar global.
Dikutip dari CNBC, Rabu 25 Februari 2026, harga minyak Brent berjangka turun 72 sen atau 1,01% menjadi USD 70,77 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 68 sen atau 1,03%, menjadi USD 65,63.
Dalam sesi perdagangan sebelumnya, harga Brent berada di jalur untuk mencapai penutupan tertinggi sejak 31 Juli dan harga minyak WTI di jalur untuk penutupan tertinggi sejak 1 Agustus 2025. Koreksi pada Selasa menandai perubahan sentimen yang cukup cepat di kalangan pelaku pasar energi.
Pembicaraan Nuklir Pengaruhi Sentimen Pasar
Iran, produsen minyak mentah terbesar ketiga di Organisasi Negara Negara Pengekspor Minyak OPEC, dan AS akan mengadakan putaran ketiga pembicaraan nuklir pada hari Kamis di Jenewa, kata Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi pada hari Minggu. Agenda ini menjadi perhatian utama pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi pasokan global.
Amerika Serikat menginginkan Iran untuk menghentikan program nuklirnya, tetapi Iran dengan tegas menolak, dan membantah sedang berupaya mengembangkan senjata atom. Ketegangan politik inilah yang sebelumnya menciptakan premi risiko dalam harga minyak mentah.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengatakan pada hari Selasa bahwa Teheran siap mengambil langkah langkah yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Sinyal kompromi tersebut langsung diterjemahkan pasar sebagai kemungkinan meredanya tekanan geopolitik.
Bank Swiss UBS pada hari Selasa mengatakan pihaknya memperkirakan penurunan harga minyak yang moderat dalam beberapa minggu mendatang, asalkan tidak ada peningkatan ketegangan di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan. Proyeksi ini memperkuat pandangan bahwa reli harga mungkin mulai terbatas.
Premi Risiko Dan Ketegangan Geopolitik
Direktur Departemen Sumber Daya Mineral North Dakota mengatakan, harga minyak mentah AS mencakup premi risiko geopolitik sebesar USD 3 USD 4 per barel karena ketegangan antara AS dan Iran. North Dakota adalah negara bagian penghasil minyak terbesar ketiga di negara itu.
Departemen Luar Negeri AS menarik personel pemerintah yang tidak penting dan keluarga mereka dari kedutaan besar AS di Beirut, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang risiko konflik militer dengan Iran. Situasi ini terjadi ketika Iran hampir mencapai kesepakatan dengan China untuk membeli rudal jelajah anti kapal.
Langkah langkah tersebut menunjukkan bahwa risiko belum sepenuhnya hilang meski ada sinyal diplomasi. Pasar tetap berhati hati karena perkembangan di Timur Tengah dapat berubah cepat dan berdampak langsung pada jalur distribusi energi.
Sementara itu, Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif impor global sementara baru sebesar 10% pada hari Selasa, tetapi pemerintahan Trump sedang berupaya untuk meningkatkannya menjadi 15%. Kebijakan ini menimbulkan kebingungan mengenai arah tarif presiden setelah kekalahan di Mahkamah Agung pekan lalu.
Dinamika Pasokan Dari Venezuela
Dari sisi pasokan, perusahaan perdagangan dan pembeli minyak Venezuela telah menyewa kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar pertama untuk mengekspor dari negara Amerika Selatan tersebut sejak kesepakatan pasokan Caracas Washington dimulai. Pengiriman diperkirakan akan meningkat mulai Maret sekaligus memperbesar ekspor ke India.
Pasukan militer AS juga menyita sebuah kapal tanker minyak yang dikenai sanksi di Samudra Hindia setelah melacaknya dari perairan Karibia, kata Pentagon pada hari Selasa. Ini merupakan penyitaan ketiga di wilayah tersebut dan kapal itu membawa minyak mentah dari Venezuela yang akan dikirim ke China, menurut laporan pengiriman dari perusahaan negara Venezuela PDVSA.
Langkah penegakan sanksi ini menunjukkan bahwa dinamika pasokan global tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga kebijakan politik dan keamanan. Setiap gangguan terhadap arus pengiriman dapat memicu volatilitas harga dalam waktu singkat.
Di kawasan Eropa, Komisi Eropa akan mengajukan proposal hukum untuk melarang impor minyak Rusia secara permanen pada tanggal 15 April, tiga hari setelah pemilihan parlemen Hongaria, menurut pejabat Uni Eropa dan dokumen yang dilihat oleh Reuters. Kebijakan tersebut berpotensi mengubah peta pasokan energi di kawasan.
Menanti Data Stok Minyak AS
Penurunan harga itu terjadi ketika pasar menunggu arahan dari laporan penyimpanan mingguan dari kelompok perdagangan American Petroleum Institute pada Selasa sore dan Administrasi Informasi Energi AS pada hari Rabu. Data ini kerap menjadi penentu arah harga jangka pendek.
Para analis memperkirakan perusahaan energi menambahkan 1,3 juta barel minyak mentah ke penyimpanan selama pekan yang berakhir pada 20 Februari. Jika proyeksi ini terealisasi, maka tambahan stok dapat menekan harga lebih lanjut.
Angka tersebut dibandingkan dengan penurunan sebesar 2,3 juta barel pada minggu yang sama tahun lalu dan peningkatan rata rata sebesar 3,1 juta barel selama lima tahun terakhir 2021 hingga 2025. Perbandingan historis ini membantu pelaku pasar menilai apakah kondisi saat ini tergolong ketat atau longgar.
Dengan berbagai faktor geopolitik, kebijakan tarif, dinamika pasokan Venezuela, hingga rencana larangan impor Rusia, harga minyak berada dalam pusaran ketidakpastian. Koreksi dari level tertinggi tujuh bulan mencerminkan respons cepat pasar terhadap sinyal diplomasi. Namun arah selanjutnya masih sangat bergantung pada perkembangan pembicaraan dan data fundamental dalam beberapa pekan mendatang.