JAKARTA - Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Di balik praktik lahiriah itu, terdapat fondasi batin yang menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah, yakni niat. Dalam ajaran Islam, niat menempati posisi sentral karena menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan semata.
Dalam ajaran Islam, niat adalah inti dari setiap amal ibadah karena niat menentukan apakah suatu ibadah diterima oleh Allah atau tidak. Ini berlaku dalam setiap jenis ibadah, termasuk puasa di bulan Ramadhan. Tanpa niat yang benar, amalan yang dilakukan bisa kehilangan nilai ibadahnya di sisi Allah SWT.
Niat puasa Ramadhan bukan hanya sekadar perkataan atau formalitas, tetapi mencerminkan kesungguhan hati dan keikhlasan seorang Muslim dalam menjalankan perintah Allah. Niat yang tulus dan ikhlas memegang peranan penting dalam menjalankan puasa Ramadhan dengan baik. Karena itu, pembahasan tentang niat selalu menjadi perhatian utama para ulama fikih.
Kedudukan Niat Dalam Puasa Ramadhan
Para ulama dari berbagai mazhab memberikan perhatian serius terhadap waktu dan tata cara berniat. Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, KH Abdul Muiz Ali menjelaskan, ulama fikih Mazhab Maliki, Syafi'i dan Hambali berpendapat, niat puasa Ramadhan harus dilakukan pada malam hari Tabyit sebelum masuk waktu Subuh.
Pendapat tersebut didasarkan pada atsar sahabat. Istri Nabi, Sayyidah Hafshoh berkata:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa untuknya.”
Hadis ini menjadi landasan kuat bahwa niat puasa wajib dilakukan sebelum terbit fajar. Dengan demikian, seorang Muslim hendaknya memastikan niat telah terpatri di dalam hati sejak malam hari agar puasanya sah menurut ketentuan syariat.
Bacaan Niat Puasa Ramadhan Harian
Secara praktik, niat puasa Ramadhan dapat dilafalkan untuk setiap hari. Berikut bacaan niat puasa Ramadhan harian:
نـَوَيْتُ صَوْمَ غـَدٍ عَـنْ ا َدَاءِ فـَرْضِ شـَهْرِ رَمـَضَانَ هـَذِهِ السَّـنـَةِ لِلـّهِ تـَعَالىَ
"Nawaitu shauma ghadin an adaai fardlu syahri ramadhaana hadzihis sanati lillaahi ta’aalaa".
Artinya: "Saya niat puasa besok untuk menunaikan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah SWT."
Bacaan ini mencerminkan tekad untuk melaksanakan kewajiban puasa esok hari. Pelafalan niat bukanlah syarat sah, karena yang terpenting adalah niat di dalam hati, namun melafalkannya membantu menghadirkan kesadaran dan kekhusyukan.
Perbedaan Pendapat Tentang Tajdid Niat
Terkait perlunya memperbarui niat setiap hari tajdid ulama juga berbeda pendapat. Perbedaan ini menunjukkan keluasan khazanah fikih Islam dalam merespons praktik ibadah umat.
Pertama, menurut Jumhurul Fuqoha dari mazhab Hanafi, Syafi'i dan Hambali, niat puasa Ramadhan harus dilakukan setiap hari tajdid. Artinya, setiap malam seorang Muslim perlu memperbarui niat untuk puasa keesokan harinya agar ibadahnya sah.
Kedua, menurut mazhab Maliki niat puasa Ramadhan tidak wajib diperbarui Tajdid setiap hari, dengan alasan setiap ibadah yang harus dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan seperti halnya puasa Ramadhan, maka niat puasanya cukup satu kali pada awalnya saja.
"Pendapat kedua ini bisa dijadikan langkah antisipasi oleh kita jika khawatir niat puasanya lupa pada hari-hari berikutnya," kata Kiai Muiz kepada Republika.co.id. Pernyataan ini memberikan solusi praktis bagi umat Islam agar tetap tenang dalam menjalankan ibadah puasa.
Anjuran Niat Sebulan Penuh Di Awal Ramadhan
Ulama Syafi'iyah, seperti halnya banyak dijelaskan dalam literatur fikih Syafi'i, menganjurkan agar pada malam pertama awal Ramadhan niat puasanya diniatkan satu bulan penuh. Anjuran ini bukan untuk menggugurkan kewajiban niat harian menurut pendapat jumhur, tetapi sebagai bentuk kehati-hatian.
Berikut bacaan niat puasa Ramadhan sebulan penuh:
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini wajib karena Allah Ta’ala.”
Dengan memahami berbagai pendapat ulama dan bacaan niat yang diajarkan, umat Islam dapat menjalankan puasa Ramadhan dengan lebih mantap dan penuh keyakinan. Niat yang benar, waktu yang tepat, serta keikhlasan hati menjadi kunci agar ibadah puasa diterima dan bernilai di sisi Allah SWT.