JAKARTA - Menjalankan puasa Ramadhan bukan hanya perkara menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memastikan seluruh rukun terpenuhi dengan benar.
Salah satu rukun terpenting dalam puasa adalah niat, yang menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan. Tanpa niat, puasa bisa kehilangan keabsahannya menurut ketentuan syariat.
Niat merupakan salah satu rukun yang menentukan sah atau tidaknya ibadah puasa Ramadhan. Umat Islam dianjurkan membaca niat pada malam hari, baik setelah salat tarawih maupun saat sahur. Dengan membaca niat, seseorang telah meneguhkan hatinya untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan secara sungguh-sungguh.
Dengan membaca niat, seseorang telah meneguhkan hatinya untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sehingga, ia bisa menahan lapar dan haus serta hawa nafsu untuk memperoleh pahala dari Allah SWT. Keteguhan niat inilah yang menjadi fondasi kekuatan spiritual selama sebulan penuh.
Namun, bagaimana jika seseorang lupa membaca niat. Artikel ini akan membahas hukum lupa niat puasa Ramadhan menurut empat mazhab. Penjelasan ini penting agar umat Islam memahami batasan dan ketentuan yang telah dirumuskan para ulama.
Dasar Hadis Tentang Kewajiban Niat
Mengutip buku Step by Step Puasa Ramadhan bagi Orang Sibuk oleh Gus Arifin, niat puasa sebaiknya dibaca pada malam hari. Pendapat ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW berikut.
"Dari Ummul Mukminin Khafshah, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak sah puasanya."" HR Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasai.
Hadis tersebut menjadi landasan kuat bagi mayoritas ulama bahwa niat puasa wajib dilakukan sebelum fajar. Artinya, niat tidak boleh ditunda hingga waktu siang apabila ingin memastikan keabsahan puasa wajib.
Lantas, bagaimana jika seseorang lupa niat puasa Ramadhan pada malam hari. Apakah masih diperbolehkan berniat setelah terbit fajar. Berikut penjelasan menurut empat mazhab terkait hukum lupa niat puasa Ramadhan.
Pendapat Mazhab Hanafi Dan Maliki
Mazhab Hanafi menjelaskan bahwa niat puasa hendaknya dibaca saat terbit fajar. Karena pada momen ini, ibadah puasa telah dimulai. Namun terdapat rincian hukum yang membedakan antara jenis puasa wajib.
Untuk puasa wajib yang bersifat tanggungan atau utang, seperti puasa qadha, niat harus dibaca pada malam hari. Apabila dibaca setelah fajar, hukumnya menjadi tidak sah. Ketentuan ini menunjukkan pentingnya ketepatan waktu dalam berniat.
Adapun untuk puasa wajib yang waktunya ditentukan seperti puasa Ramadhan, niat masih boleh dilakukan setelah terbit fajar hingga sebelum waktu zuhur, selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa. Pendapat ini memberi kelonggaran bagi yang benar-benar lupa.
Mazhab Maliki menyatakan bahwa niat puasa yang sah hendaknya dilakukan pada malam hari atau saat terbit fajar. Jika niat dibaca sebelum matahari terbenam di hari sebelumnya atau setelah tergelincirnya matahari pada hari puasa, maka hukumnya tidak sah, termasuk puasa sunnah.
Pandangan Mazhab Syafii Dan Hanbali
Menurut mazhab Syafi'i, seluruh puasa wajib mensyaratkan niat pada malam hari sebelum terbit fajar. Ketentuan ini berlaku tanpa pengecualian bagi puasa wajib, termasuk puasa Ramadhan dan puasa qadha.
Adapun puasa sunnah, niat boleh dilakukan sejak malam hari hingga sebelum matahari tergelincir, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Dengan demikian, terdapat perbedaan antara puasa wajib dan sunnah dalam hal waktu niat.
Pendapat mazhab Hanbali sejalan dengan mazhab Syafi'i yang mewajibkan niat malam hari untuk setiap puasa wajib. Artinya, jika seseorang lupa berniat hingga terbit fajar, maka puasanya tidak sah menurut pandangan ini.
Sementara untuk puasa sunnah, niat diperbolehkan pada siang hari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa. Kesamaan pandangan antara dua mazhab ini mempertegas kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa wajib.
Bacaan Niat Puasa Ramadhan
Sebagai pengingat, berikut bacaan niat puasa Ramadhan, dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia MUI. Lafal ini biasa dibaca pada malam hari sebelum fajar.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala." Dengan memahami perbedaan pendapat empat mazhab, umat Islam dapat lebih tenang dan bijak menyikapi persoalan lupa niat puasa Ramadhan.