JAKARTA - Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat akhirnya mencapai titik terang setelah melalui proses negosiasi yang cukup panjang.
Pemerintah memastikan bahwa pembahasan substansi tarif telah dirampungkan dan tinggal memasuki tahap penandatanganan resmi. Momentum ini menjadi penanda babak baru hubungan ekonomi kedua negara dalam kerangka perdagangan timbal balik.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dipastikan menandatangani kesepakatan dagang timbal balik atau Agreement on Reciprocal Trade pekan ini. Indonesia sepakat membebaskan tarif bea masuk sebagian besar produk AS, sementara AS menetapkan tarif 19% atas produk Indonesia.
Kebijakan tersebut mencerminkan hasil kompromi yang telah dinegosiasikan kedua belah pihak dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat hubungan perdagangan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas. Skema tarif baru diharapkan memberikan kepastian bagi pelaku usaha kedua negara.
Delegasi Indonesia Bertolak ke Amerika Serikat
Diketahui, Prabowo Subianto didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia bersama rombongan bertolak ke AS pada Senin 16 Februari 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah berangkat terlebih dahulu ke Negeri Uncle Sam untuk melakukan persiapan.
Keberangkatan delegasi dilakukan guna memastikan seluruh agenda berjalan sesuai rencana, termasuk finalisasi dokumen kesepakatan. Pemerintah memandang pertemuan tingkat tinggi ini sebagai momentum penting dalam memperkuat kerja sama ekonomi strategis. Koordinasi lintas kementerian juga telah dilakukan sebelum kunjungan berlangsung.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menjelaskan, secara substansi, negosiasi tarif telah rampung dan kedua negara telah menyelesaikan proses harmonisasi bahasa hukum atau legal drafting. Dalam kerangka kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen membebaskan tarif bea masuk bagi sebagian besar produk asal AS.
Rincian Tarif dan Penyesuaian Kebijakan
Sementara itu, AS menurunkan tarif resiprokal atas produk Indonesia dari 32% menjadi 19 persen. Penurunan ini dinilai sebagai hasil signifikan dari proses negosiasi yang mempertimbangkan kepentingan masing masing pihak. Pemerintah berharap tarif baru tersebut dapat menjaga daya saing produk nasional di pasar Amerika.
Selain itu, AS juga memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit atau CPO, kopi, dan kakao. Kebijakan ini dinilai memberi ruang lebih besar bagi komoditas andalan Indonesia untuk tetap kompetitif.
Disampaikan Bapak Presiden rencananya akan hadir di AS pada tanggal 19. Di sekitar tanggal tersebut, rencananya akan dilaksanakan penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade atau ART, ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto.
Agenda Bisnis dan Investasi Dua Negara
Haryo memaparkan rangkaian kegiatan yang akan dijalankan Kepala Negara akan mencakup pertemuan bisnis dan investasi antara pelaku usaha Indonesia dan AS. Hal itu merupakan bagian dari rangkaian acara Penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade antara Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump.
Pertemuan tersebut tidak hanya berfokus pada aspek tarif, tetapi juga membuka peluang kolaborasi investasi di berbagai sektor strategis. Pemerintah berharap interaksi langsung antar pelaku usaha dapat mempercepat realisasi kerja sama konkret. Sinergi ini dinilai penting untuk memperluas kemitraan ekonomi jangka panjang.
Kesepakatan dagang ini juga diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan perdagangan global. Dengan kepastian tarif, pelaku industri dapat menyusun perencanaan ekspor secara lebih terukur. Pemerintah menilai stabilitas kebijakan menjadi faktor utama dalam menarik minat investor.
Rapat Persiapan di Hambalang
Sebelumnya, untuk memastikan kesiapan agenda strategis tersebut, Prabowo menggelar pertemuan dengan sejumlah Menteri Kabinet Merah Putih di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, Minggu 15 Februari. Hadir dalam pertemuan tersebut di antaranya yakni Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani.
Pertemuan dilakukan menjelang kunjungan presiden ke AS, guna menyamakan posisi kebijakan serta mematangkan strategi negosiasi ekonomi. Pemerintah ingin memastikan setiap keputusan yang diambil telah melalui pertimbangan menyeluruh. Sinkronisasi antar kementerian dinilai krusial dalam menghadapi perundingan internasional.
Dalam pertemuan di Hambalang, Prabowo menekankan pentingnya memastikan posisi Indonesia tetap kuat dan terukur menjelang sejumlah agenda internasional dalam waktu dekat, termasuk pertemuan dengan AS. Presiden mengarahkan agar setiap perundingan harus memperkuat industri nasional dan meningkatkan produktivitas domestik.
Strategi Perkuat Industri Nasional
Presiden juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus memperbesar kontribusi Indonesia dalam rantai pasok global atau global supply chain. Pemerintah diarahkan memastikan posisi tawar Indonesia tetap kuat dan tidak merugikan kepentingan nasional. Prinsip tersebut menjadi landasan dalam setiap tahapan negosiasi.
Dengan struktur tarif baru yang telah disepakati, pemerintah berharap industri nasional dapat memanfaatkan peluang pasar secara optimal. Di sisi lain, pembebasan tarif bagi sebagian besar produk AS diharapkan memperkuat hubungan bilateral dan menciptakan keseimbangan perdagangan.
Kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade ini menjadi tonggak penting dalam dinamika hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat. Pemerintah menilai hasil negosiasi telah mencerminkan kepentingan strategis nasional sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas di masa mendatang.