JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi tekanan berat pada pekan terakhir Januari 2026, setelah beberapa peringatan dari penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Selama periode tersebut, IHSG sempat mengalami trading halt dua kali karena anjlok drastis, memicu kepanikan di kalangan investor domestik. Penurunan ini menandai volatilitas tinggi yang membayangi pasar modal Indonesia, sekaligus menjadi momentum bagi investor asing untuk melakukan aksi selektif.
Pada perdagangan Jumat, IHSG ditutup di posisi 8.329,60, setelah sempat menyentuh level psikologis 7.400. Koreksi akumulatif mencapai 6,94% sepanjang pekan terakhir Januari, padahal di awal bulan, IHSG sempat menembus level psikologis 9.100. Kondisi ini menegaskan bahwa pasar saham domestik masih rawan terhadap sentimen global dan tekanan likuiditas.
Aliran Dana Asing dan Strategi Beli Selektif
Meski IHSG tertekan, investor asing tetap mencatatkan aksi beli pada beberapa saham unggulan. Tercatat mereka menarik dana sebesar Rp11,05 triliun di seluruh pasar, termasuk Rp14,02 triliun di pasar reguler, namun melakukan pembelian bersih lebih kecil di pasar negosiasi dan tunai, sekitar Rp2,97 triliun. Data ini menunjukkan strategi “buy on weakness” yang diterapkan oleh investor asing untuk memanfaatkan koreksi harga.
Investor global biasanya memanfaatkan volatilitas pasar untuk masuk pada saham yang memiliki fundamental kuat. Pergerakan ini sekaligus menjadi penyangga bagi IHSG agar tidak terjun bebas lebih dalam. Aksi beli selektif ini menunjukkan bahwa meski terjadi tekanan besar, pasar saham Indonesia tetap menarik bagi modal asing.
Saham Favorit Investor Asing Saat IHSG Turun
Mengutip data Indo Premier, ada 10 saham yang menjadi incaran investor asing sepanjang pekan lalu. PT Bhakti Mulia Artha Tbk. (BHAT) memimpin dengan net foreign buy Rp918,5 miliar. Disusul PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL) senilai Rp466 miliar dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) sebesar Rp409,2 miliar. Aksi beli ini membantu menahan koreksi IHSG, meski tekanan jual tetap signifikan.
Saham-saham lain yang diborong asing termasuk PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp353,8 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp354,6 miliar, dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) Rp295,6 miliar. Sementara PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) tercatat Rp274,9 miliar, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) Rp182,1 miliar, PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk. (NSSS) Rp176,5 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) Rp142,4 miliar.
Analisis Aksi Asing di Tengah Volatilitas Pasar
Aksi beli asing ini menandakan bahwa meski IHSG sedang menghadapi tekanan, investor global tetap percaya pada prospek jangka menengah saham-saham pilihan. Mereka memanfaatkan harga yang terkoreksi sebagai kesempatan akumulasi, terutama pada saham dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi.
Pergerakan asing ini juga menunjukkan adanya diferensiasi strategi antara investor lokal dan asing. Investor domestik cenderung reaktif terhadap volatilitas jangka pendek, sedangkan investor asing lebih fokus pada peluang jangka menengah hingga panjang, sehingga membeli saat harga menurun tajam.
Faktor Pendorong dan Risiko Pasar
Tekanan pada IHSG dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk peringatan MSCI terkait transparansi kepemilikan saham dan risiko likuiditas. Selain itu, sentimen global terhadap kebijakan moneter, harga komoditas, dan geopolitik turut memengaruhi arus modal asing. Investor asing yang mengeksekusi pembelian selektif berusaha menyeimbangkan risiko volatilitas dengan potensi keuntungan jangka menengah.
Meski aksi beli ini membantu menahan koreksi IHSG, risiko pasar tetap tinggi. Investor disarankan untuk memantau arus modal, likuiditas saham, dan sentimen global sebelum mengambil keputusan, mengingat tekanan jual masih mungkin muncul jika pasar kembali volatile.
Kesempatan bagi Investor Strategis
Bagi investor domestik dan institusi, koreksi IHSG membuka peluang untuk membeli saham unggulan dengan harga lebih rendah. Saham yang menjadi incaran asing dapat menjadi acuan untuk menentukan portofolio yang berpotensi pulih lebih cepat saat pasar stabil.
Namun, strategi ini menuntut ketelitian dan disiplin dalam manajemen risiko. Pergerakan IHSG yang volatile menuntut investor untuk selektif dalam memilih saham dan tidak terjebak pada kepanikan pasar. Pemahaman fundamental dan tren asing dapat menjadi panduan dalam mengambil keputusan investasi.
Prospek IHSG ke Depan
Mengamati aksi investor asing, IHSG berpotensi pulih secara bertahap jika aliran modal tetap stabil dan sentimen global tidak memburuk. Saham pilihan asing menjadi penopang utama yang membantu menjaga indeks dari tekanan lebih dalam.
Meski volatilitas masih tinggi, koreksi pasar ini membuka peluang bagi investor yang fokus pada jangka menengah hingga panjang. Memahami pola aksi asing dan memilih saham dengan fundamental solid menjadi strategi penting untuk menghadapi fluktuasi IHSG ke depan.