Rupiah

Rupiah Masih Bertahan Meski Sentimen Dolar AS Mulai Menekan Pasar

Rupiah Masih Bertahan Meski Sentimen Dolar AS Mulai Menekan Pasar
Rupiah Masih Bertahan Meski Sentimen Dolar AS Mulai Menekan Pasar

JAKARTA - Nilai tukar rupiah mengawali pekan dengan penguatan tipis, namun dinamika global mulai memicu kewaspadaan pasar. 

Arah kebijakan moneter AS menjadi perhatian utama pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi mata uang negara berkembang.

Meski pembukaan perdagangan Senin pagi menunjukkan apresiasi rupiah ke Rp16.776 per dolar AS, pasar masih menahan diri sambil menunggu kepastian kebijakan The Fed. Penguatan tipis ini menandakan investor membaca peluang sekaligus risiko dari pergerakan dolar AS.

Pergerakan rupiah saat ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi investor terhadap keputusan suku bunga AS. Ketidakpastian mengenai pemimpin baru The Fed membuat pelaku pasar memperhitungkan potensi volatilitas jangka pendek.

Investor dalam negeri menyesuaikan strategi untuk menjaga eksposur risiko, mengingat pergerakan rupiah sangat sensitif terhadap pergerakan indeks dolar global.

Spekulasi Kepemimpinan The Fed Dorong Dolar Menguat

Presiden AS Donald Trump dikabarkan memilih Kevin Warsh sebagai kandidat pengganti Jerome Powell. Spekulasi ini langsung berdampak pada pasar karena menyangkut arah kebijakan suku bunga dan pelonggaran moneter.

Menurut analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, pasar menilai penunjukan Warsh berpotensi memperkuat dolar AS. Akibatnya, rupiah menghadapi tekanan meski tidak terlalu besar pada awal pekan.

Kabar ini mendorong aksi wait-and-see, sehingga rupiah bergerak tipis di kisaran Rp16.770–16.780 per dolar AS. Investor menilai langkah konservatif sambil menunggu kepastian lebih masuk akal untuk mengantisipasi volatilitas global.

Respons pasar menunjukkan bahwa sentimen terhadap figur pemimpin The Fed masih menjadi indikator penting bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Kevin Warsh dan Prospek Suku Bunga AS

Kevin Warsh dikenal memiliki rekam jejak kebijakan moneter relatif ketat, namun baru-baru ini terlihat sejalan dengan dorongan Trump untuk menurunkan suku bunga.

Trump ingin suku bunga AS berada di level terendah dunia, bahkan menyebut angka 1% sebagai target ideal. Sementara suku bunga acuan saat ini berada di kisaran 3,5–3,75 persen.

Meski begitu, Lukman Leong menekankan bahwa pasar tidak akan otomatis mengasumsikan Warsh mengikuti keinginan Trump tanpa pertimbangan independensi kebijakan. Warsh tetap dipandang memiliki pengalaman dan kapasitas untuk membuat keputusan berdasarkan kondisi ekonomi, bukan hanya tekanan politik.

Ekspektasi ini menciptakan ketidakpastian yang memengaruhi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Sinyal Hawkish The Fed Membatasi Rupiah

Tekanan eksternal lain datang dari Wakil Ketua Pengawas The Fed, Michelle Bowman. Ia menegaskan bahwa bank sentral masih perlu bersikap hati-hati dalam memangkas suku bunga karena risiko inflasi yang belum sepenuhnya teratasi.

Pernyataan bernada hawkish ini memperkuat persepsi bahwa pelonggaran moneter agresif AS belum akan terjadi. Kondisi ini biasanya mendorong penguatan dolar dan menahan apresiasi mata uang emerging market.

Investor global menilai sinyal hawkish sebagai indikasi kestabilan The Fed, sehingga sebagian modal cenderung tetap berada di aset berdenominasi dolar. Rupiah pun terbatas ruang penguatannya di tengah tekanan ini.

Volatilitas jangka pendek di pasar valas akan tetap tinggi hingga kepastian kebijakan AS terlihat lebih jelas.

Faktor Domestik Menjadi Penyeimbang

Di sisi lain, kondisi domestik memberi penyeimbang terhadap tekanan eksternal. Investor menunggu rilis inflasi Januari 2026 dan neraca perdagangan Desember 2025 sebagai acuan fundamental rupiah.

Inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi sekitar 3,8%, sementara neraca perdagangan diproyeksikan surplus US$2,45 miliar. Surplus ini menjadi sinyal ketahanan ekonomi domestik yang menahan pelemahan rupiah lebih dalam.

Ekspor dan impor diperkirakan mengalami kontraksi terbatas, tetapi surplus perdagangan menegaskan permintaan luar negeri tetap kuat terhadap produk Indonesia. Hal ini membantu menjaga nilai tukar rupiah dalam rentang relatif stabil.

Keseimbangan antara sentimen global dan fundamental domestik menentukan arah gerak rupiah dalam jangka pendek.

Ruang Gerak Rupiah Masih Terbatas

Dengan tekanan eksternal dari penguatan dolar dan faktor domestik yang relatif positif, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.

Arah jangka pendek sangat bergantung pada kekuatan sinyal kebijakan AS dan data ekonomi dalam negeri. Pasar cenderung bersikap konservatif selama ketidakpastian global belum mereda.

Investor disarankan mengamati kombinasi indikator global dan domestik untuk menyesuaikan strategi valas, mengingat volatilitas masih tinggi.

Pergerakan rupiah ke depan akan terus dipengaruhi oleh kebijakan The Fed, data inflasi, dan neraca perdagangan, yang menjadi acuan investor dalam mengantisipasi risiko mata uang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index