BCA

Saham BBCA Tertekan Walau Fundamental Kuat Manajemen BCA Beri Penjelasan Lengkap

Saham BBCA Tertekan Walau Fundamental Kuat Manajemen BCA Beri Penjelasan Lengkap
Saham BBCA Tertekan Walau Fundamental Kuat Manajemen BCA Beri Penjelasan Lengkap

JAKARTA - Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang 2025 menjadi perhatian pelaku pasar, terutama karena kinerjanya yang tertekan di tengah fundamental perusahaan yang tetap solid. 

Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari investor mengenai faktor yang memengaruhi harga saham emiten perbankan terbesar di Indonesia tersebut. Meski demikian, manajemen BCA menilai fluktuasi harga saham merupakan dinamika pasar yang wajar dan tidak selalu mencerminkan kinerja internal perusahaan secara langsung.

Secara year to date, saham BBCA tercatat telah terkoreksi 6,54% dan berada di level Rp 7.500 per Rabu. Penurunan harga ini terjadi di tengah berbagai sentimen global dan pergerakan dana asing yang masih cukup dominan di pasar modal domestik. Tekanan tersebut juga berdampak pada valuasi saham BBCA yang ikut mengalami penyesuaian dibandingkan periode sebelumnya.

Valuasi Saham Mengalami Penyesuaian

Pelemahan harga saham BBCA turut tercermin pada rasio valuasi yang saat ini melekat pada saham tersebut. Berdasarkan data perdagangan, saham BBCA kini diperdagangkan dengan Price Book Value (PBV) sebesar 3,3 kali dan Price Earning Ratio (PER) di level 16,18 kali. Angka ini menunjukkan adanya penurunan valuasi dibandingkan periode ketika harga saham berada di level yang lebih tinggi.

Meski demikian, valuasi tersebut masih mencerminkan kepercayaan pasar terhadap fundamental BCA sebagai bank dengan kinerja keuangan yang konsisten. 

Penyesuaian harga saham dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dibandingkan dengan perubahan signifikan pada kinerja operasional perusahaan. Hal ini sejalan dengan pandangan manajemen yang menilai volatilitas pasar merupakan hal yang tidak terpisahkan dari dinamika investasi saham.

Dominasi Investor Asing Pengaruhi Pergerakan

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Hendra Lembong, menilai fluktuasi harga saham BBCA merupakan sesuatu yang wajar. Ia menekankan bahwa struktur kepemilikan saham BBCA yang didominasi oleh investor asing turut memengaruhi pergerakan harga di pasar. Sekitar 70% hingga 80% saham free float BBCA diketahui dimiliki oleh investor asing.

Komposisi kepemilikan ini membuat pergerakan saham BBCA sangat sensitif terhadap sentimen global dan perubahan persepsi investor asing terhadap kondisi ekonomi, baik di tingkat global maupun domestik. Arus keluar dan masuk dana asing kerap terjadi seiring perubahan outlook ekonomi global, kebijakan moneter negara maju, serta dinamika geopolitik internasional.

Struktur Saham dan Free Float BBCA

Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek per 31 Desember 2025, jumlah saham BBCA yang ditempatkan dan disetor penuh tercatat sebanyak 123,27 miliar saham. Dari jumlah tersebut, saham yang tergolong sebagai free float mencapai 52,16 miliar saham atau setara dengan 42,74% dari modal ditempatkan dan disetor.

Besarnya porsi free float ini membuat saham BBCA relatif likuid dan aktif diperdagangkan di pasar. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga membuat harga saham lebih mudah terpengaruh oleh transaksi investor besar, khususnya investor institusi asing yang memiliki porsi kepemilikan signifikan dalam free float tersebut.

Faktor Eksternal di Luar Kendali Manajemen

Dengan struktur kepemilikan tersebut, Hendra menegaskan bahwa pergerakan harga saham BBCA tidak sepenuhnya berada dalam kendali manajemen. Banyak faktor eksternal yang memengaruhi keputusan beli dan jual investor, mulai dari kondisi ekonomi global hingga persepsi risiko pasar negara berkembang.

“Yang di dalam kontrol kami, manajemen BCA adalah memastikan performance kami bisa sebaik-baiknya, tetapi kalau harga saham memang normal naik dan turun,” jelasnya dalam konferensi pers, Selasa. Pernyataan ini menegaskan fokus manajemen BCA yang tetap diarahkan pada penguatan kinerja operasional dan fundamental perusahaan.

Manajemen menilai bahwa selama kinerja perusahaan terjaga dengan baik, fluktuasi harga saham dalam jangka pendek tidak menjadi indikator tunggal untuk menilai kesehatan perusahaan. Oleh karena itu, BCA tetap memprioritaskan strategi bisnis jangka panjang yang berkelanjutan.

Pandangan Investor Asing Jadi Penentu

Hendra juga menambahkan bahwa investor asing cenderung melihat kondisi global dan prospek makroekonomi secara luas sebelum mengambil keputusan investasi. Dalam konteks ini, pergerakan saham BBCA tidak dapat dilepaskan dari penilaian investor terhadap prospek ekonomi Indonesia ke depan.

“Agak sulit dijawab apakah ini saatnya beli atau tidak karena ini tergantung bagaimana para investor asing melihat prospek ekonomi Indonesia ke depannya,” ucapnya. Pernyataan tersebut mencerminkan bahwa keputusan investasi sangat bergantung pada persepsi masing-masing investor terhadap arah perekonomian nasional dan global.

Dengan demikian, meskipun kinerja BCA dinilai positif, sentimen eksternal tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan saham BBCA di pasar. Investor diharapkan dapat melihat kondisi ini secara proporsional dan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan investasi, termasuk risiko global dan potensi jangka panjang perusahaan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index