JAKARTA - Tren diet sering kali melahirkan berbagai metode sederhana yang diyakini mampu membantu menurunkan berat badan.
Dua di antaranya yang cukup populer adalah diet air lemon dan air cuka apel. Keduanya kerap dipromosikan sebagai minuman harian yang praktis, mudah dibuat, serta dianggap mampu menunjang proses penurunan berat badan bila dikonsumsi secara rutin.
Meski sama-sama berbentuk minuman sederhana, air lemon dan air cuka apel memiliki karakteristik, kandungan, serta cara kerja yang berbeda di dalam tubuh. Banyak orang masih bertanya-tanya, mana yang sebenarnya lebih baik untuk mendukung program diet. Untuk menjawab hal tersebut, penting memahami fakta ilmiah dan pandangan para pakar gizi.
Air lemon merupakan campuran air dengan perasan buah lemon. Minuman ini dapat disajikan panas maupun dingin, dengan takaran umum sekitar 250 ml air yang dicampur perasan setengah buah lemon. Sementara itu, air cuka apel adalah campuran air dengan cuka sari apel atau apple cider vinegar yang berasal dari fermentasi sari apel.
Kandungan dan proses pembuatan air lemon
Air lemon dikenal sebagai minuman rendah kalori dan rendah gula. Kandungan utamanya berasal dari buah lemon yang kaya vitamin C, folat, kalium, serta sejumlah vitamin B. Berdasarkan data United States Department for Agriculture, segelas air lemon dengan 48 gram buah lemon mengandung sekitar 18,6 mg vitamin C atau setara 21 persen kebutuhan harian tubuh.
Selain vitamin C, air lemon juga mengandung sitrat yang cukup tinggi dan bersifat antioksidan. Meski tidak menyediakan banyak nutrisi dalam satu gelas, air lemon tetap dinilai menyehatkan karena dapat meningkatkan asupan vitamin C harian sekaligus membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.
“Air lemon segar mengandung semua nilai gizi dalam buah lemon, termasuk vitamin C, sitrat yang tinggi, dan sifat antioksidannya,” kata Dr. Heather Viola, DO, asisten profesor penyakit dalam umum di Mount Sinai, mengutip Vogue, Sabtu (7/2/2026).
Ahli diet Kylie Bensley, MS, RD., juga menyoroti kandungan polifenol dalam lemon. Menurutnya, zat tersebut berpotensi menekan risiko obesitas yang dipicu oleh pola makan tertentu, meskipun secara kimia air lemon tidak secara langsung membakar lemak.
Karakteristik dan kandungan air cuka apel
Berbeda dengan air lemon, cuka apel merupakan hasil proses fermentasi. Prosesnya dimulai ketika ragi mengubah gula alami dalam jus apel menjadi alkohol. Selanjutnya, bakteri mengubah alkohol tersebut menjadi asam asetat yang memberikan rasa asam khas pada cuka apel.
Karena bersifat asam, cuka sari apel tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung tanpa pengenceran. Pengenceran dengan air, teh, atau minuman lain diperlukan untuk melindungi enamel gigi serta mencegah iritasi pada saluran pencernaan.
Merujuk American Heart Association, cuka sari apel sebagian besar terdiri dari air, yakni hampir 94 persen. Kandungan nutrisinya meliputi sedikit zat besi, kalsium, magnesium, seng, natrium, gula, serta kalium dalam jumlah kecil. Healthline mencatat kadar asam asetat dalam cuka apel sekitar 5 persen.
Manfaat potensial bagi program diet
Baik air lemon maupun air cuka apel sama-sama rendah kalori sehingga relatif aman dikonsumsi dalam program pengendalian berat badan. Air lemon sering dianggap bermanfaat karena membantu hidrasi tubuh, terutama bagi orang yang kurang menyukai air putih biasa.
Hidrasi yang cukup memiliki peran penting dalam metabolisme tubuh dan pengendalian nafsu makan. Dengan menambahkan lemon, rasa air menjadi lebih segar sehingga mendorong seseorang untuk minum lebih banyak cairan sepanjang hari.
Sementara itu, air cuka apel kerap dikaitkan dengan klaim penurunan berat badan. Menurut Elmateet, air cuka apel dapat menjadi pelengkap rutinitas kesehatan, tetapi bukan solusi utama untuk mengatasi obesitas. Klaim manfaatnya masih memerlukan dukungan ilmiah yang lebih kuat.
Pandangan pakar tentang efektivitasnya
Kylie Bensley menegaskan bahwa meskipun air lemon tidak secara langsung membantu penurunan berat badan melalui reaksi kimia, kandungan polifenolnya tetap berperan dalam menekan risiko obesitas. Artinya, manfaat air lemon lebih bersifat tidak langsung dan mendukung gaya hidup sehat secara keseluruhan.
“Jadi, meskipun sifat kimia dalam air lemon tidak membantu menurunkan berat badan, polifenol dalam air lemon dapat menekan risiko obesitas,” ujar Bensley.
Untuk air cuka apel, sejumlah penelitian kecil memang menunjukkan potensi manfaat. Namun, para ahli menilai hasil tersebut belum cukup kuat untuk dijadikan dasar utama dalam program diet, terutama jika tidak disertai perubahan pola makan dan aktivitas fisik.
Hasil penelitian terkait air cuka apel
Merujuk Health, sebuah penelitian kecil pada 2018 terhadap 39 orang dengan obesitas meneliti efek konsumsi air cuka apel. Dalam penelitian tersebut, partisipan yang mengonsumsi 30 ml apple cider vinegar setiap hari disertai makanan rendah kalori selama 12 minggu mengalami penurunan lemak tubuh lebih besar dibandingkan kelompok yang hanya menjalani diet rendah kalori.
Efek ini diduga berasal dari asam asetat yang mampu memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan rasa kenyang. Meski demikian, penelitian tersebut tidak memperhitungkan faktor lain seperti aktivitas fisik, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi secara luas.
Para pakar menekankan bahwa baik air lemon maupun air cuka apel sebaiknya tidak dianggap sebagai minuman ajaib penurun berat badan. Keduanya hanya dapat memberikan manfaat optimal jika dikombinasikan dengan pola makan seimbang, olahraga teratur, serta gaya hidup sehat secara keseluruhan.
Dengan memahami perbedaan dan manfaat masing-masing, pilihan antara air lemon atau air cuka apel sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, toleransi tubuh, dan preferensi pribadi.