JAKARTA - Curah hujan dengan intensitas tinggi masih menjadi fenomena cuaca dominan di berbagai wilayah Indonesia.
Dalam beberapa hari terakhir, hujan lebat mengguyur Jakarta dan kawasan sekitarnya, disertai kilat serta angin kencang. Kondisi ini diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat karena Indonesia masih berada dalam periode musim hujan yang aktif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menjelaskan bahwa hujan lebat yang terjadi saat ini tidak hanya terbatas di Jabodetabek. Hampir seluruh wilayah Indonesia berpotensi mengalami hujan sedang hingga sangat lebat. Situasi tersebut menjadi perhatian karena berisiko memicu banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana hidrometeorologi lainnya.
Musim Penghujan Masih Aktif Hingga Beberapa Bulan Ke Depan
BMKG sebelumnya telah menyampaikan bahwa cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung hingga Maret 2026. Hal ini berkaitan erat dengan siklus musim hujan yang belum berakhir. Pada periode Januari hingga Maret, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada puncak musim penghujan.
Kondisi ini menyebabkan atmosfer menjadi sangat lembap dan mendukung pembentukan awan hujan. Akibatnya, intensitas hujan yang turun di sejumlah daerah dapat meningkat secara signifikan. Dalam situasi seperti ini, potensi hujan lebat yang terjadi dalam durasi lama menjadi lebih besar dibandingkan periode lainnya.
Masyarakat diimbau untuk tidak lengah menghadapi cuaca ekstrem. Kewaspadaan perlu ditingkatkan, terutama di wilayah yang secara geografis rawan banjir dan longsor. Informasi prakiraan cuaca dari BMKG diharapkan dapat menjadi acuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Peran Angin Monsun Asia Terhadap Cuaca Indonesia
BMKG menjelaskan bahwa salah satu faktor utama penyebab hujan lebat adalah aktifnya angin Monsun Asia. Fenomena ini merupakan pergerakan massa udara dari Benua Asia menuju wilayah selatan yang melintasi Indonesia. Angin tersebut membawa udara basah yang sangat mendukung terbentuknya awan hujan.
“Di bulan Januari, Februari, bahkan juga sampai Maret nanti Indonesia masih berada di musim penghujan. Jadi angin Monsun Asia massa udara bergerak dari Asia menuju ke selatan melewati wilayah Indonesia. Kemudian saat ini juga monsun Asia itu aktif membawa massa udara basah di wilayah Indonesia,” ujar Prakirawan Cuaca BMKG Wahyu Argo.
Aktivitas monsun yang kuat membuat suplai uap air ke wilayah Indonesia meningkat. Ketika uap air ini mengalami proses kondensasi, terbentuklah awan hujan yang berpotensi menghasilkan curah hujan tinggi. Inilah yang menyebabkan hujan lebat masih terus terjadi di banyak daerah.
Pengaruh Gelombang Kelvin Perkuat Cuaca Ekstrem
Selain angin Monsun Asia, BMKG juga mencatat adanya pengaruh fenomena atmosfer lain, yakni gelombang Kelvin. Fenomena ini merupakan gelombang atmosfer yang bergerak dari barat ke timur dan dapat memicu peningkatan aktivitas awan hujan di wilayah yang dilaluinya.
“Hal itu didukung aktivitas gelombang Kelvin yang aktif di sekitar Kalimantan. Kemudian kombinasi atau perpaduan dari fenomena tersebut menimbulkan potensi peningkatan cuaca buruk berupa hujan lebat dan angin kencang juga di beberapa wilayah di Indonesia,” sambung Wahyu Argo.
Kombinasi antara angin Monsun Asia dan gelombang Kelvin membuat kondisi atmosfer menjadi semakin tidak stabil. Ketidakstabilan ini memicu pertumbuhan awan konvektif dalam skala besar, yang kemudian menghasilkan hujan lebat disertai kilat dan angin kencang.
Dampak Hujan Lebat Terhadap Berbagai Wilayah
Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat telah berdampak pada sejumlah wilayah di Indonesia. Di beberapa daerah, hujan yang turun dalam waktu relatif lama menyebabkan genangan hingga banjir. Selain itu, angin kencang yang menyertai hujan juga berpotensi menimbulkan kerusakan infrastruktur dan gangguan aktivitas masyarakat.
BMKG mencatat bahwa cuaca ekstrem ini menjadi salah satu faktor utama terjadinya bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat menjadi sangat penting untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi.
Langkah antisipatif seperti pembersihan saluran air, pemantauan debit sungai, dan kesiapsiagaan tim penanggulangan bencana perlu terus dilakukan. Informasi peringatan dini dari BMKG diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh pihak.
Peringatan Gelombang Tinggi di Wilayah Pesisir
Tidak hanya hujan lebat, BMKG juga mengingatkan potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Angin kencang yang menyertai aktivitas monsun dapat memicu peningkatan tinggi gelombang laut, terutama di wilayah tertentu.
BMKG mengimbau masyarakat yang berada di daerah pesisir barat Sumatra, selatan Jawa, Nusa Tenggara Timur, selatan Sulawesi, sekitar Maluku, dan Papua untuk meningkatkan kewaspadaan. Gelombang tinggi berisiko membahayakan aktivitas pelayaran, nelayan, serta masyarakat pesisir.
Masyarakat di wilayah tersebut diharapkan selalu memantau perkembangan informasi cuaca maritim. Nelayan dan operator transportasi laut disarankan menunda aktivitas apabila kondisi gelombang dinilai tidak aman.
Imbauan BMKG Untuk Masyarakat
Menghadapi kondisi cuaca yang masih ekstrem, BMKG mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan berhati-hati. Pemantauan prakiraan cuaca harian sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas di luar ruangan atau tinggal di wilayah rawan bencana.
BMKG juga mengingatkan agar masyarakat segera melaporkan kejadian cuaca ekstrem yang berpotensi membahayakan. Kerja sama antara masyarakat dan pihak berwenang dinilai menjadi kunci dalam mengurangi dampak buruk cuaca ekstrem.
Dengan memahami faktor penyebab hujan lebat dan potensi dampaknya, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi kondisi cuaca yang masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Informasi yang akurat dan kewaspadaan menjadi langkah utama dalam menjaga keselamatan bersama.