IHSG Terkoreksi Tajam, Investor Diminta Cermati Saham Potensial Mingguan Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 13:25:27 WIB
IHSG Terkoreksi Tajam, Investor Diminta Cermati Saham Potensial Mingguan Ini

JAKARATA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tekanan signifikan pada awal pekan ini, Senin. 

Hingga pukul 10.26 WIB, IHSG melemah 401,15 poin atau 4,82% ke posisi 7.928,45. Pelemahan ini menambah tekanan dari koreksi pekan lalu yang mencapai -6,94%, menandai volatilitas tinggi di pasar saham domestik.

Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (outflow) fantastis senilai Rp15,7 triliun di pasar reguler, menambah sentimen negatif terhadap indeks. Penurunan tajam ini mencerminkan kepekaan pasar terhadap dinamika global maupun domestik, sekaligus menjadi tantangan bagi pelaku pasar untuk tetap menjaga strategi investasi.

Sentimen Global dan Domestik Memicu Gejolak IHSG

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyebutkan bahwa pelemahan signifikan IHSG terdorong oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi global, isu Greenland Trade War memberikan tekanan pada pasar saham, terutama saham eksportir. Potensi retaliatory tariff dari Uni Eropa memicu penguatan mata uang safe haven seperti Swiss Franc dan Yen Jepang.

Di sisi domestik, efek MSCI menjadi faktor utama. MSCI resmi mengumumkan interim freeze, mengancam akan menurunkan bobot saham Indonesia hingga menurunkan status dari Emerging Market menjadi Frontier Market jika transparansi pasar tidak membaik hingga Mei 2026. Sentimen ini menciptakan tekanan tambahan bagi pasar saham Indonesia.

Kepemimpinan Baru BEI dan OJK Diharapkan Mendorong Stabilitas

Perubahan pimpinan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi sorotan pelaku pasar. David menilai estafet kepemimpinan ini diharapkan membawa langkah strategis yang lebih profesional, menciptakan sinergi untuk mendorong transparansi dan daya saing pasar modal.

Pengalaman dan rekam jejak pimpinan baru diyakini dapat menghadirkan kebijakan yang progresif. Investor berharap kepemimpinan ini dapat menstabilkan pasar, meningkatkan transparansi, serta memfasilitasi pertumbuhan IHSG jangka menengah hingga panjang.

Prospek IHSG dan Faktor Penentu Pergerakan Selanjutnya

David menyebutkan bahwa rilis data GDP Indonesia 2025 menjadi katalis penting untuk IHSG pekan ini. Pasar memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1%–5,2%. Jika angka resmi melampaui ekspektasi, IHSG berpotensi memulihkan posisi hingga mendekati level psikologis 9.000 sebagai lantai baru.

Selain data ekonomi, investor perlu memantau dinamika pasar menyongsong pimpinan BEI dan OJK yang baru. Kepercayaan investor terhadap kebijakan dan reformasi yang akan dijalankan menjadi faktor penentu volatilitas jangka pendek, sekaligus peluang bagi strategi trading yang selektif.

Rekomendasi Saham Strategis untuk Periode 2–5 Februari 2026

Menanggapi kondisi pasar yang fluktuatif, Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi beberapa saham yang memiliki potensi uptrend, termasuk pemanfaatan instrumen Power Fund Series (PFS) dan fitur Multi-Account untuk memisahkan strategi investasi.

Salah satunya adalah PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) yang menunjukkan potensi breakout di level resistance Rp1.870. Entry disarankan di Rp1.825 dengan target harga Rp1.975 dan stop loss Rp1.745. Saham ini tetap menarik karena tren uptrend yang kuat.

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) berada di level support MA50 dengan potensi reversal cukup tinggi. Sektor poultry diprediksi menarik pada 2026 karena faktor MBG, sehingga entry di Rp2.770 bisa dijadikan posisi buy. Pergerakan saham ini relatif stabil terhadap tekanan MSCI.

PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) juga berpotensi breakout dari area konsolidasi. Entry direkomendasikan Rp1.505, dengan target harga Rp1.600 dan stop loss Rp1.455. Saham ini relatif aman dari dampak negatif MSCI karena fundamental yang solid.

Strategi Investor Menghadapi Volatilitas Pasar

Di tengah gejolak IHSG, strategi pemilihan saham unggulan menjadi kunci. Investor disarankan untuk fokus pada saham dengan fundamental kuat dan tren teknikal positif. Pemanfaatan instrumen diversifikasi seperti PFS dan Multi-Account mempermudah manajemen risiko dan optimalisasi portofolio.

Selain itu, kolaborasi melalui fitur Shared Access memungkinkan keluarga atau komunitas untuk berinvestasi bersama. Hal ini membantu meminimalkan risiko individual sekaligus memaksimalkan potensi return pada periode volatilitas tinggi.

Kesimpulan dan Prospek Jangka Menengah

Pelemahan IHSG yang terdorong oleh sentimen global dan domestik memberikan peluang akumulasi bagi investor strategis. Saham pilihan yang dibidik investor asing menjadi acuan dalam menentukan portofolio dengan potensi pulih lebih cepat.

Meskipun volatilitas masih tinggi, kombinasi kepemimpinan baru BEI dan OJK, data ekonomi yang solid, serta strategi saham selektif dapat membantu pasar stabil. Investor jangka menengah hingga panjang tetap memiliki peluang untuk memperoleh return optimal dengan memperhatikan risiko dan tren pasar.

Terkini