JAKARTA - Penurunan harga emas yang terjadi menjelang akhir Januari 2026 langsung menarik perhatian pelaku pasar dan masyarakat luas.
Setelah mencatatkan tren kenaikan panjang dan berulang kali menembus rekor baru, harga emas kini justru terkoreksi tajam dalam waktu singkat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar, apakah penurunan tersebut menjadi pertanda membaiknya kondisi ekonomi atau hanya koreksi sementara yang lazim terjadi di pasar.
Berdasarkan data resmi Emas Antam, harga emas per gram pada Sabtu turun hingga Rp 260.000. Posisi harga emas berada di level Rp 2.860.000 per gram, jauh lebih rendah dibandingkan sehari sebelumnya. Padahal, pada Jumat, harga emas masih bertahan di angka Rp 3.120.000 per gram dan bahkan sempat menyentuh Rp 3.168.000 per gram pada Kamis.
Koreksi tajam setelah reli panjang harga emas
Koreksi harga emas kali ini terjadi setelah reli panjang yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga emas sebelumnya dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi global hingga gejolak pasar keuangan domestik. Dalam kondisi seperti itu, emas menjadi pilihan utama investor sebagai aset lindung nilai atau safe haven.
Namun, setelah sentimen pasar mulai mereda, harga emas perlahan kehilangan momentum kenaikannya. Koreksi tajam ini mencerminkan dinamika alami pasar, di mana kenaikan signifikan biasanya diikuti oleh penyesuaian harga. Penurunan hingga ratusan ribu rupiah dalam waktu singkat pun menjadi konsekuensi dari tingginya level harga emas sebelumnya.
Pandangan pakar soal hubungan ekonomi dan harga emas
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin menjelaskan bahwa pergerakan harga emas sangat erat kaitannya dengan kondisi perekonomian dan stabilitas pasar keuangan. Menurutnya, harga emas cenderung menurun ketika situasi ekonomi dan pasar berada dalam kondisi kondusif.
“Harga emas menurun kalau kondisi perekonomian dan pasar keuangan kondusif dan stabil,”Sabtu. Ia menambahkan bahwa ekspektasi pasar yang positif terhadap ekonomi biasanya membuat minat investor terhadap emas menurun.
Sebaliknya, ketika ekonomi dan pasar keuangan mengalami tekanan atau ketidakpastian, investor akan mengalihkan dananya ke emas. Dalam situasi tersebut, harga emas justru berpotensi naik karena meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap aman.
Beragam faktor yang memengaruhi penurunan harga emas
Eddy juga mengamini bahwa pelemahan harga emas saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Di antaranya adalah kondisi geopolitik global, penguatan indeks dolar Amerika Serikat, hingga isu domestik seperti mundurnya lima petinggi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Iya memengaruhi (tiga faktor itu terhadap harga emas)," ungkapnya. Menurut Eddy, emas merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah. Ketika instrumen lain di pasar keuangan menunjukkan kinerja yang lebih menarik, emas akan cenderung ditinggalkan sementara oleh investor.
"Kalau instrumen lain di pasar keuangan sedang bagus, maka emas akan kurang diperhatikan investor," jelas Eddy. Sebaliknya, saat risiko meningkat di pasar, emas kembali menjadi incaran utama.
Dinamika rupiah dan sikap pasar yang wait and see
Pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi minat terhadap emas. Pada Jumat, rupiah sempat tertekan setelah menguat beberapa hari sebelumnya. Penguatan rupiah tersebut terjadi seiring dengan melemahnya dolar Amerika Serikat di pasar global.
"Di tengah fluktuasi rupiah, saya rasa banyak masyarakat yang mempertimbangkan menabung atau berinvestasi di instrumen yang bersifat safe haven, misalnya emas," ucap Eddy dalam pernyataan terpisah. Namun, ketika kondisi mulai stabil, minat tersebut bisa kembali berkurang.
Terkait mundurnya sejumlah petinggi lembaga keuangan nasional, Eddy menilai pasar masih bersikap wait and see. Pasar masih menunggu kepastian mengenai pengganti dan arah kebijakan selanjutnya, sehingga dampaknya terhadap harga emas belum sepenuhnya tercermin.
Potensi harga emas masih terbuka ke depan
Meski harga emas mengalami penurunan tajam, Eddy menegaskan bahwa koreksi ini bersifat sementara. Ia melihat peluang harga emas untuk kembali menguat masih terbuka, terutama jika muncul kembali sentimen negatif di pasar keuangan atau ketidakpastian ekonomi global.
"Turunnya harga emas saat ini bersifat sementara," ujarnya. Menurut Eddy, pelemahan harga emas kemungkinan hanya berlangsung dalam hitungan hari dan tidak menutup peluang kenaikan lanjutan.
"Potensi (harga emas) naik lagi jelas ada," tegas Eddy. Oleh karena itu, investor diimbau untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan dan tetap mencermati perkembangan ekonomi secara menyeluruh.
Sebagai gambaran, berikut harga emas Antam per Sabtu: 0,5 gram Rp 1.480.000, 1 gram Rp 2.860.000, 2 gram Rp 5.670.000, 3 gram Rp 8.487.000, 5 gram Rp 14.115.000, 10 gram Rp 28.150.000, hingga 1.000 gram Rp 2.800.600.000. Data ini menunjukkan bahwa meski terkoreksi, emas tetap menjadi instrumen investasi yang patut diperhitungkan.