Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Risiko Geopolitik Iran Dan Pasokan Global Energi

Jumat, 30 Januari 2026 | 13:59:06 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Risiko Geopolitik Iran Dan Pasokan Global Energi

JAKARTA - Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren penguatan dan menarik perhatian pelaku pasar energi global. 

Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah. Situasi geopolitik yang memanas membuat pasar menilai risiko pasokan minyak semakin besar. Kondisi tersebut mendorong harga minyak bergerak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Penguatan harga minyak juga mencerminkan perubahan sentimen investor yang semakin berhati-hati. Pasar menilai bahwa ketegangan geopolitik berpotensi memicu gangguan distribusi minyak. Meskipun belum terjadi gangguan fisik secara langsung, risiko yang berkembang sudah cukup memengaruhi harga. Dalam situasi seperti ini, faktor politik menjadi pendorong utama pergerakan pasar energi.

Pergerakan Harga Brent Dan WTI Di Pasar Global

Mengutip Yahoo Finance, harga minyak mentah Brent berjangka tercatat mengalami kenaikan signifikan. Brent naik sekitar 1,3 persen dan bergerak ke level USD68,24 per barel. Kenaikan tersebut menandai level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Pergerakan ini menunjukkan meningkatnya minat beli di tengah kekhawatiran pasar.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate juga mencatat penguatan. WTI naik sekitar 1,5 persen dan berada di kisaran USD64,14 per barel. Kenaikan pada kedua acuan utama ini menunjukkan sentimen global yang sejalan. Pasar Amerika dan Eropa sama-sama merespons risiko geopolitik yang berkembang.

Lonjakan harga Brent dan WTI menegaskan bahwa pasar minyak sangat sensitif terhadap isu internasional. Ketika ketegangan meningkat, investor cenderung memasukkan premi risiko ke dalam harga. Hal ini membuat harga minyak bergerak lebih tinggi meskipun faktor fundamental lainnya relatif stabil.

Premi Risiko Geopolitik Kian Menguat

Kenaikan harga minyak mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik. Ketegangan antara Washington dan Teheran menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan meningkatkan tekanan terhadap Iran. Tekanan tersebut terkait upaya mengekang program nuklir Iran, termasuk ancaman tindakan militer.

Selain itu, kehadiran kelompok angkatan laut Amerika Serikat di kawasan turut memperbesar kekhawatiran pasar. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal peningkatan eskalasi. Investor menilai bahwa konflik terbuka dapat berdampak langsung pada pasokan minyak. Situasi ini mendorong pasar bersikap lebih waspada terhadap potensi gangguan.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah secara historis selalu berdampak besar pada harga minyak. Kawasan ini merupakan jalur utama distribusi energi global. Oleh karena itu, setiap indikasi konflik langsung memicu reaksi pasar. Premi risiko pun semakin tercermin dalam pergerakan harga minyak dunia.

Peran Iran Dalam Pasokan Minyak OPEC

Iran memiliki posisi strategis dalam pasar minyak global. Negara tersebut merupakan produsen terbesar keempat di OPEC. Produksi minyak Iran mencapai sekitar 3,2 juta barel per hari. Kontribusi ini menjadikan Iran sebagai pemain penting dalam menjaga keseimbangan pasokan dunia.

Gangguan terhadap produksi Iran berpotensi memberikan dampak signifikan. Pasar menilai bahwa penurunan produksi dari Iran sulit digantikan dalam waktu singkat. Oleh sebab itu, setiap ancaman terhadap stabilitas negara tersebut langsung memengaruhi harga. Kekhawatiran ini semakin memperkuat tren kenaikan minyak.

Selain itu, posisi Iran di OPEC membuat dinamika internal organisasi turut menjadi perhatian. Ketegangan geopolitik dapat memengaruhi kebijakan produksi dan kerja sama antaranggota. Kondisi ini membuat pasar semakin sensitif terhadap perkembangan politik yang melibatkan Iran.

Pandangan Analis Terhadap Arah Harga Minyak

Kepala tim sektor energi di DBS Bank, Suvro Sarkar, menyatakan bahwa pendorong utama harga minyak masih berasal dari premi risiko geopolitik. Menurutnya, ketegangan seputar Iran dan kawasan Timur Tengah menjadi faktor dominan. “Meskipun pemadaman listrik yang tidak direncanakan di Kazakhstan dan AS juga berdampak sementara,” ungkap dia. Pernyataan ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik lebih berpengaruh dibanding gangguan teknis.

Sejumlah analis lain menilai bahwa peningkatan risiko konflik sudah tercermin dalam harga saat ini. Analis di Citi menyebutkan bahwa potensi Iran terkena serangan telah meningkatkan premi geopolitik. Mereka memperkirakan premi tersebut berada di kisaran USD3 hingga USD4 per barel. Penilaian ini memperkuat pandangan bahwa harga minyak saat ini telah mengakomodasi sebagian risiko.

Meski demikian, analis juga menilai ruang kenaikan harga masih terbuka. Selama ketegangan belum mereda, pasar akan tetap memasukkan faktor risiko. Hal ini membuat proyeksi harga minyak cenderung berada dalam tren menguat. Investor pun akan terus memantau perkembangan geopolitik.

Proyeksi Brent Dan Risiko Pasokan Ke Depan

Sejumlah analis memperkirakan harga minyak mentah Brent masih berpotensi melanjutkan kenaikan. Dalam skenario peningkatan ketegangan, harga Brent diproyeksikan dapat menembus level yang lebih tinggi. Analis Citi menyebutkan bahwa harga Brent berpeluang naik hingga USD72 per barel dalam beberapa bulan ke depan. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi meningkatnya risiko geopolitik.

Prospek tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak masih berada dalam fase volatil. Setiap perkembangan baru terkait Iran dan Timur Tengah berpotensi menggerakkan harga. Selain faktor geopolitik, pasar juga akan mencermati keseimbangan pasokan dan permintaan global. Namun, untuk saat ini, risiko politik menjadi perhatian utama.

Kondisi ini menegaskan kembali peran geopolitik sebagai penggerak harga minyak dunia. Selama ketegangan internasional meningkat, harga minyak cenderung tetap menguat. Pasar global pun akan terus mencermati setiap sinyal yang berpotensi memengaruhi pasokan energi.

Terkini