Harga Minyak

Pemerintah Pantau Harga Minyak Dunia, Pasokan BBM Nasional Aman

Pemerintah Pantau Harga Minyak Dunia, Pasokan BBM Nasional Aman
Pemerintah Pantau Harga Minyak Dunia, Pasokan BBM Nasional Aman

JAKARTA - Gejolak geopolitik global kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi dunia. 

Ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama yang melibatkan Iran serta koalisi Amerika Serikat dan Israel, memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global.

Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dari negara-negara Teluk. Jika jalur tersebut terganggu atau diblokade, rantai pasok energi dunia berpotensi mengalami tekanan besar.

Meski demikian, perkembangan terbaru menunjukkan adanya tanda-tanda penurunan ketegangan. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kemungkinan de-eskalasi konflik membuat harga minyak dunia mulai mengalami penurunan.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak akibat kekhawatiran pasar terhadap konflik tersebut. Namun setelah adanya sinyal meredanya konflik, harga minyak kembali turun hingga berada di kisaran US$80-an per barel.

Bagi Indonesia yang berstatus sebagai net importir minyak, fluktuasi harga minyak global memiliki dampak signifikan terhadap kondisi perekonomian nasional.

Perubahan harga minyak mentah dapat memengaruhi berbagai sektor mulai dari fiskal pemerintah hingga stabilitas harga barang di dalam negeri.

Simulasi sementara pemerintah menunjukkan bahwa apabila harga minyak bertahan di kisaran US$92 per barel, defisit anggaran berpotensi berada di kisaran 3,6% hingga 3,7%.

Angka tersebut telah melampaui batas yang ditetapkan dalam Undang-undang Keuangan Negara, yaitu maksimal 3% dari Produk Domestik Bruto.

Selain berdampak pada fiskal negara, lonjakan harga minyak juga berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian.

Kenaikan harga minyak mentah biasanya diikuti oleh kenaikan harga BBM subsidi, harga pangan, hingga memicu tekanan inflasi yang cenderung meningkat.

Pada akhirnya kondisi tersebut dapat memengaruhi target pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,4% hingga 6%.

Pemerintah Klaim Pengalaman Hadapi Lonjakan Harga Minyak

Pemerintah menyatakan tetap optimistis mampu mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak dunia. Pengalaman menghadapi situasi serupa pada masa lalu menjadi salah satu dasar keyakinan tersebut.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak bukanlah fenomena baru bagi pemerintah Indonesia.

Menurutnya, kondisi serupa pernah terjadi saat gejolak Arab Spring pada periode 2012 hingga 2013 yang memicu konflik di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Pada masa tersebut harga minyak bahkan sempat melonjak hingga mencapai US$150 per barel.

“Kita udah ngalamin harga minyak tinggi berapa kali, kan banyak. Enggak hancur negaranya, kan? Kenapa? Karena kebijakannya pas,” kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, belum lama ini.

Meski demikian, pemerintah tetap memantau perkembangan harga minyak global secara cermat.

Lonjakan harga minyak dinilai tetap memiliki potensi memengaruhi outlook Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pemerintah juga menyiapkan berbagai strategi untuk meredam dampak jika konflik geopolitik membuat harga minyak melonjak lebih tinggi.

"Kita lihat kondisi APBN kita seperti apa. Yang jelas, kita coba absorb shock [menyerap guncangan] semaksimal mungkin," katanya.

Langkah mitigasi tersebut dilakukan agar stabilitas fiskal tetap terjaga meskipun terjadi tekanan dari faktor eksternal.

Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi dampak langsung terhadap perekonomian nasional.

Daftar Negara Pemasok BBM dan Minyak Mentah Indonesia

Meskipun konflik di Timur Tengah menjadi sorotan utama dalam pasar energi dunia, kawasan tersebut sebenarnya bukan pemasok utama BBM secara langsung bagi Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa impor BBM Indonesia sebagian besar berasal dari negara tetangga di Asia Tenggara.

Singapura dan Malaysia menjadi dua negara pemasok terbesar bahan bakar minyak untuk Indonesia.

Nilai impor dari kedua negara tersebut bahkan mencapai miliaran dolar selama periode 2022 hingga Januari 2026.

Sebagai contoh, impor bahan bakar solar atau automotive diesel fuel dari Singapura dengan kode harmonized system HS 271019971 mencapai US$7,58 miliar.

Impor solar dari Singapura paling tinggi terjadi pada tahun 2024 dengan nilai mencapai US$2,65 miliar.

Selain solar, Indonesia juga mengimpor bahan bakar bensin dari negara yang sama.

Nilai impor bensin dengan oktan RON 90 sampai di bawah RON 97 dengan kode HS 27101224 selama periode 2022 hingga Januari 2026 mencapai US$29,77 miliar.

Angka impor tertinggi tercatat pada tahun 2024 dengan nilai mencapai US$7,7 miliar.

Sementara itu, impor bensin dengan spesifikasi yang sama dari Malaysia mencapai US$13,22 miliar.

Sedangkan impor solar dari Malaysia selama periode yang sama tercatat mencapai US$5 miliar.

Adapun dari kawasan Teluk, Uni Emirat Arab menjadi salah satu pemasok BBM langsung ke Indonesia.

Namun nilai impor dari negara tersebut relatif lebih kecil dibandingkan Singapura dan Malaysia.

Selama periode yang sama, impor solar dari Uni Emirat Arab hanya mencapai US$642,24 juta.

Sementara impor bensin dari negara tersebut tercatat sebesar US$563,82 juta.

Meski bukan pemasok BBM utama, negara-negara Timur Tengah tetap memiliki peran penting sebagai pemasok minyak mentah bagi Indonesia.

Arab Saudi tercatat sebagai salah satu pemasok utama minyak mentah ke Indonesia.

Selama periode 2022 hingga Januari 2026, impor minyak mentah dari negara tersebut mencapai 15,04 juta ton dengan nilai sekitar US$9,38 miliar.

Angka ini setara dengan sekitar 23,5% dari total impor minyak mentah Indonesia.

Selain Arab Saudi, negara-negara Afrika juga menjadi pemasok penting minyak mentah bagi Indonesia.

Nigeria tercatat sebagai pemasok terbesar dengan nilai impor mencapai US$13,4 miliar atau sekitar 21,47 juta ton.

Sementara Angola memasok minyak mentah senilai US$5,88 miliar atau sekitar 10,12 juta ton pada periode yang sama.

Pemerintah Pastikan Stok BBM Nasional Tetap Aman

Di tengah dinamika harga minyak dunia, pemerintah memastikan pasokan bahan bakar minyak di dalam negeri tetap aman.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu melakukan panic buying.

Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah telah mengantisipasi berbagai kemungkinan terkait dampak konflik geopolitik terhadap energi.

Menurutnya, pemerintah juga memastikan bahwa subsidi BBM tidak akan mengalami perubahan hingga periode Lebaran.

"Saya juga dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM sampai dengan hari raya insyaallah tidak ada kenaikan apa-apa. Jadi, negara hadir untuk memastikan bahwa sekalipun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tapi subsidi tetap sama," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan pada Selasa (10/3/2026).

Ia juga menjelaskan bahwa stok BBM nasional berada pada kondisi yang cukup aman.

Cadangan BBM yang tersedia saat ini diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga beberapa minggu ke depan.

"Saya menyarankan dan meminta agar tidak perlu ada panic buying karena memang stok BBM kita cukup," ujar Bahlil.

Menurutnya, kapasitas penyimpanan BBM saat ini dapat mencukupi kebutuhan sekitar 21 hingga 25 hari.

Namun pasokan tersebut bersifat dinamis karena aktivitas impor dan distribusi terus berjalan.

Bahlil menambahkan bahwa sebagian besar impor Indonesia dari kawasan Timur Tengah berupa minyak mentah, bukan BBM siap pakai.

Karena itu, gangguan pasokan tidak secara langsung memengaruhi distribusi BBM domestik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index