Rupiah

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Melemah Tertekan Dolar AS Global

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Melemah Tertekan Dolar AS Global
Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Melemah Tertekan Dolar AS Global

JAKARTA - Tekanan dari pasar global kembali memengaruhi arah mata uang domestik pada awal perdagangan pekan ini. 

Pelaku pasar mencermati kombinasi sentimen eksternal yang membuat pergerakan nilai tukar tidak stabil. Fluktuasi masih mendominasi transaksi sejak pembukaan pasar. Kondisi ini membuat pelaku usaha dan investor meningkatkan kewaspadaan.

Nilai tukar Rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan hari ini, Selasa di tengah penguatan dolar Amerika Serikat dan meningkatnya ketegangan geopolitik global. Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak pada kisaran Rp16.950–Rp17.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Penutupan Perdagangan Sebelumnya Dan Kekuatan Dolar

Pada perdagangan sebelumnya, Senin, rupiah ditutup melemah 0,14% ke level Rp16.949 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg. Sementara itu, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS tercatat menguat 0,27% ke level 99,24. Penguatan dolar memberi tekanan luas pada mata uang berkembang.

Pergerakan tersebut menunjukkan dominasi dolar AS dalam perdagangan global. Permintaan aset lindung nilai meningkat di tengah ketidakpastian. Arus modal cenderung keluar dari pasar negara berkembang. Dampaknya terasa langsung pada nilai tukar regional.

Mata Uang Asia Kompak Tertekan

Pelemahan tidak hanya terjadi pada rupiah. Sejumlah mata uang Asia juga tertekan terhadap dolar AS, di antaranya yen Jepang yang melemah 0,40%, dolar Singapura turun 0,20%, dolar Taiwan melemah 0,67%, won Korea Selatan turun 0,50%, peso Filipina melemah 0,82%, dan rupee India turun 0,58%.

Selain itu, yuan China terkoreksi 0,15%, ringgit Malaysia melemah 0,42%, dan baht Thailand turun 0,58%. Hanya dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,11% terhadap dolar AS. Tekanan serempak ini mencerminkan sentimen kawasan yang negatif. Investor memilih instrumen aman.

Lonjakan Harga Minyak Dan Risiko Geopolitik

Ibrahim menjelaskan penguatan dolar AS dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. Lonjakan harga minyak tersebut dipicu oleh langkah Iran yang memblokir Selat Hormuz, jalur distribusi minyak utama bagi sebagian besar negara Asia. Potensi penutupan selat tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Di sisi lain, dinamika politik di Iran juga menambah ketidakpastian pasar. Iran pada Senin menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi. Langkah ini dinilai menandakan kelompok garis keras tetap memegang kendali di Teheran.

Perubahan tersebut terjadi setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel yang meningkatkan tensi kawasan. Ketegangan geopolitik mendorong pelaku pasar menghindari risiko. Dampaknya terasa pada pasar energi dan keuangan global.

Tekanan Pasar Dan Perburuan Aset Aman

Sementara dalam catatan Bloomberg, tekanan terhadap rupiah sepanjang hari kemarin dikarenakan investor global sedang mencari aset aman. Pada Senin, rupiah sempat merosot hingga 0,6% ke level Rp17.015 per dolar AS. Level tersebut melewati posisi yang terakhir terlihat sejak krisis keuangan Asia pada 1998.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan juga sempat tertekan menyentuh 5% sebelum akhirnya berbalik mengurangi kerugian. Pergerakan ini menempatkan indeks acuan di jalur menuju fase pasar bearish. Secara akumulatif, penurunan sudah melampaui 20% secara year to date.

Analis valuta asing di Malayan Banking Alan Lau mengatakan memburuknya sentimen risiko global akibat lonjakan harga minyak telah menekan pasar valuta asing Asia, termasuk rupiah. “Dalam jangka pendek, faktor eksternal tetap menjadi kunci karena risiko kenaikan harga minyak lebih lanjut dapat membuat pasar tetap waspada terhadap mata uang tersebut,” katanya.

Peringatan Lembaga Pemeringkat Global

Sentimen investor terhadap aset Indonesia juga tertekan oleh sejumlah peringatan lembaga pemeringkat global. MSCI mengisyaratkan kemungkinan penurunan peringkat pasar karena masalah likuiditas dan rendahnya free float saham. Kondisi ini memengaruhi persepsi investor internasional.

Sementara Moody's memangkas prospek kredit Indonesia terkait arah fiskal dan kebijakan ekonomi. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Fitch Ratings yang turut menurunkan prospek peringkatnya. Tekanan beruntun ini menambah beban sentimen pasar domestik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index