JAKARTA - Alih-alih hanya mengejar angka penjualan, PT Honda Prospect Motor (HPM) memilih memperkuat fondasi bisnisnya di tengah dinamika industri otomotif nasional.
Ketika pasar semakin selektif dan kompetitif, perusahaan menegaskan arah baru yang lebih berorientasi pada hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Tahun 2025 disebut menjadi periode penuh tantangan bagi pelaku industri roda empat. Perubahan perilaku konsumen, perlambatan pasar, hingga transformasi teknologi menjadi faktor yang memengaruhi strategi perusahaan.
Presiden Direktur HPM Shugo Watanabe menilai situasi ini perlu disikapi dengan pendekatan yang lebih luas. Honda, menurutnya, tidak hanya fokus pada transaksi penjualan kendaraan baru semata.
Pendekatan tersebut menjadi penegasan bahwa kekuatan merek tidak hanya dibangun dari volume penjualan, tetapi juga dari relasi berkelanjutan dengan konsumen.
Fokus Bangun Hubungan Jangka Panjang
Watanabe mengatakan, tahun 2025 menjadi fase penuh dinamika bagi industri otomotif nasional. Ia menyebut pasar semakin selektif dan ekspektasi konsumen terus berkembang dari waktu ke waktu.
“Tahun 2025 adalah tahun yang penuh dinamika bagi industri otomotif. Pasar semakin selektif dan ekspektasi konsumen terus berkembang. Dalam setiap situasi, Honda memilih untuk melihat bisnis secara lebih luas. Kami tidak hanya fokus pada penjualan mobil baru,” ujar Watanabe di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, Honda saat ini memiliki lebih dari 1,2 juta pelanggan di Indonesia. Basis konsumen tersebut menjadi fondasi penting dalam menentukan arah strategi perusahaan ke depan.
Karena itu, pendekatan yang diambil bukan lagi sekadar transaksi awal pembelian kendaraan. Honda ingin membangun relasi yang terus berlanjut sepanjang siklus kepemilikan mobil.
Makna Connecting Moment bagi Honda
Konsep hubungan berkelanjutan tersebut diwujudkan melalui gagasan “Connecting Moment”. Watanabe menegaskan, nilai ini menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.
“Bagi kami, ini adalah makna dari Connecting Moment, yaitu membangun hubungan yang tidak berhenti saat membeli mobil pertama, tetapi terus berlanjut selama pelanggan menggunakan Honda,” kata Watanabe.
Pendekatan ini menunjukkan pergeseran paradigma dari sekadar menjual produk menjadi membangun pengalaman kepemilikan. Honda ingin tetap hadir dalam setiap fase perjalanan konsumennya.
Di tengah transformasi industri dan tren elektrifikasi, Honda juga menegaskan konsistensi identitas merek. Nilai dasar perusahaan tetap menjadi pegangan dalam menghadapi perubahan pasar.
Konsistensi Nilai di Tengah Transformasi
Watanabe menyebut karakter Honda tetap berpegang pada nilai “timeless, reliable, dan performance”. Tiga prinsip tersebut menjadi fondasi perusahaan sejak awal berdiri dan terus dipertahankan hingga kini.
“Honda dibangun dari semangat engineering, keberanian berinovasi, dan keyakinan untuk memberi nilai nyata bagi kehidupan manusia. Nilai-nilai ini tetap kami pegang, meskipun industri berubah sangat cepat,” ujarnya.
Di sisi lain, Sales & Marketing and After Sales Director HPM Yusak Billy mengakui bahwa pasar otomotif nasional mengalami penurunan bertahap sejak 2022. Kondisi ini turut berdampak pada seluruh pelaku industri, termasuk Honda.
“Namun bagi kami, ini bukan semata soal angka, melainkan bagaimana beradaptasi secara sehat dan berkelanjutan,” kata Billy. Pernyataan ini menegaskan bahwa perusahaan memilih strategi jangka panjang dibandingkan langkah instan.
Kinerja Penjualan dan Penyesuaian Stok
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari–Desember 2025 Honda membukukan penjualan wholesales sebanyak 56.500 unit. Capaian ini menempatkan merek asal Jepang tersebut di posisi kelima sebagai merek kendaraan roda empat atau lebih terlaris di Indonesia.
Namun, performa tersebut melambat 40 persen secara tahunan. Perlambatan ini sejalan dengan dinamika pasar yang juga mengalami tekanan.
Dari sisi penjualan ritel, Honda menempati peringkat ketiga dengan torehan 71.233 unit. Angka tersebut turun 30 persen dibandingkan pencapaian 2024 yang mencapai 103.023 unit.
Penurunan tersebut berjalan seiring dengan melemahnya pasar otomotif nasional sekitar 7 persen pada periode yang sama. Situasi ini mendorong perusahaan melakukan penyesuaian strategi distribusi dan stok kendaraan.
“Pada 2025, penjualan ritel Honda lebih tinggi dibandingkan distribusi ke diler. Ini sebagai bagian dari penyesuaian stok dengan laju pasar yang melambat," kata Billy.
"Tahun ini, strategi kami tidak hanya berorientasi pada penetrasi pasar, tapi juga memperkuat hubungan dengan pelanggan yang sudah mempercayai Honda. Menjaga loyalitas pelanggan menjadi prioritas,” tutupnya.
Melalui langkah tersebut, Honda menegaskan bahwa kekuatan merek tidak hanya ditentukan oleh capaian jangka pendek. Di tengah pasar yang berubah, fondasi loyalitas dan kepercayaan pelanggan menjadi kunci keberlanjutan bisnis ke depan