JAKARTA - Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbanyak ibadah malam.
Salah satu amalan yang paling dinanti umat Islam adalah sholat tarawih, yang hanya hadir pada bulan suci ini.
Di tengah pilihan antara melaksanakannya sendiri atau bersama jamaah di masjid, banyak umat Muslim bertanya mengenai mana yang lebih utama. Penjelasan mengenai hal tersebut disampaikan secara rinci dalam dialog keagamaan yang mengulas makna dan keutamaan tarawih.
Sekretaris Departemen Dakwah PWDMI Banten, Ustaz Abdul Hainasuki, menyampaikan pemahamannya dalam dialog Mutiara Ramadan RRI Pro 1 Banten, Senin, 2 Maret 2026. Ia menekankan pentingnya memahami esensi tarawih sebagai bagian dari qiyam Ramadan.
Menurutnya, sholat tarawih berjamaah memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan dilaksanakan secara sendiri-sendiri. Namun, ia juga mengingatkan bahwa meninggalkan tarawih sama sekali justru menjadi hal yang tidak utama.
Tarawih sebagai bagian qiyam Ramadan
Ia menjelaskan, salat tarawih merupakan bagian dari qiyam Ramadan yang hanya dijumpai pada bulan suci Ramadan. Karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkan ibadah sunnah muakkad tersebut.
“Yang tidak utama itu bukan tarawih sendiri atau berjamaah, tetapi yang tidak mengerjakan tarawih sama sekali,” ujarnya. Penegasan ini menunjukkan bahwa substansi utama adalah tetap melaksanakan ibadahnya.
Tarawih menjadi pembeda Ramadhan dengan bulan lainnya. Ibadah malam ini menjadi kesempatan emas untuk meraih pahala berlipat ganda di waktu yang penuh keberkahan.
Dengan demikian, baik sendiri maupun berjamaah tetap bernilai ibadah. Akan tetapi, terdapat keutamaan tambahan ketika dilakukan secara bersama-sama di masjid.
Dalil keutamaan berjamaah
Menurutnya, keutamaan berjamaah didasarkan pada hadis Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa salat berjamaah lebih utama dibandingkan salat sendirian dengan kelebihan 27 derajat. Meski tarawih bukan salat wajib, nilai pahala berjamaah tetap lebih besar ketika dilakukan bersama imam hingga selesai.
Ustaz Abdul Hainasuki mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar, bahwa siapa pun yang melaksanakan salat malam bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya pahala salat semalam penuh. Keutamaan ini menjadi dasar kuat anjuran para ulama agar tarawih dilaksanakan secara berjamaah.
Hadis tersebut menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan jamaah sebelum imam menyelesaikan rangkaian sholat. Konsistensi mengikuti imam hingga akhir menjadi bagian dari kesempurnaan pahala.
Landasan dalil ini pula yang membuat tradisi tarawih berjamaah terus hidup di berbagai masjid. Setiap malam Ramadhan, saf-saf jamaah dipenuhi oleh mereka yang berharap meraih keutamaan tersebut.
Nilai syiar dan kebersamaan umat
Ia juga menegaskan, pelaksanaan tarawih berjamaah memiliki nilai tambahan berupa syiar Islam. Selain memperbanyak pahala, jamaah turut memakmurkan masjid, mempererat silaturahmi, dan membuka ruang bagi aktivitas keagamaan lain seperti tadarus serta kajian singkat.
Kehadiran jamaah di masjid menjadikan Ramadhan terasa lebih hidup. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berkumpul dalam suasana ibadah yang khidmat dan penuh kebersamaan.
Tradisi ini bukan hanya soal pahala individu, tetapi juga memperkuat ikatan sosial umat. Dari masjid, lahir interaksi yang mempererat ukhuwah dan semangat saling mengingatkan dalam kebaikan.
Dengan demikian, tarawih berjamaah menjadi simbol nyata syiar Islam di tengah masyarakat. Cahaya masjid yang terang di malam Ramadhan mencerminkan semangat kolektif dalam beribadah.
Menghindari menyia-nyiakan keutamaan
“Ketika kita mampu berjamaah, lalu memilih sendirian tanpa alasan syar’i, itu disebut khilaful aula, menyia-nyiakan keutamaan yang besar,” katanya. Pernyataan ini menjadi pengingat agar umat Islam mempertimbangkan keutamaan yang tersedia.
Meski demikian, kondisi tertentu tetap memungkinkan seseorang melaksanakan tarawih sendiri. Faktor kesehatan, jarak, atau uzur syar’i menjadi pertimbangan yang dibenarkan dalam ajaran Islam.
Namun bagi yang memiliki kesempatan dan kemampuan, berjamaah menjadi pilihan yang lebih dianjurkan. Keutamaan pahala serta nilai sosial yang menyertainya menjadi alasan kuat untuk meramaikan masjid.
Pilihan tersebut pada akhirnya kembali pada niat dan kesiapan masing-masing individu. Yang terpenting adalah menjaga kontinuitas ibadah sepanjang Ramadhan.
Menjaga kekhusyukan dan keikhlasan
Namun, ia mengingatkan agar jamaah tetap menjaga kekhusyukan dalam beribadah. Tarawih berjamaah diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan.
Kekhusyukan menjadi ruh utama dalam setiap rakaat yang dikerjakan. Tanpa kehadiran hati, ibadah berpotensi kehilangan makna spiritualnya.
Ramadhan sejatinya adalah madrasah pembinaan diri. Melalui tarawih berjamaah, umat Islam dilatih untuk disiplin, sabar, dan fokus dalam beribadah.
Dengan memahami keutamaan dan menjaga kualitas pelaksanaannya, tarawih berjamaah dapat menjadi jalan meraih pahala besar sekaligus memperkuat ikatan keimanan. Di bulan suci ini, setiap langkah menuju masjid bernilai ibadah yang tak ternilai harganya.