BMKG

Prakiraan Cuaca BMKG Hari Pertama Puasa Jakarta Berpotensi Hujan Ringan

Prakiraan Cuaca BMKG Hari Pertama Puasa Jakarta Berpotensi Hujan Ringan
Prakiraan Cuaca BMKG Hari Pertama Puasa Jakarta Berpotensi Hujan Ringan

JAKARTA - Memasuki hari pertama Ramadan versi pemerintah, kondisi cuaca di Ibu Kota diperkirakan tidak sepenuhnya cerah. 

Warga yang menjalankan ibadah puasa pada Kamis 19 Februari diimbau bersiap menghadapi potensi hujan di sejumlah wilayah. Informasi ini disampaikan berdasarkan prakiraan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi DKI Jakarta mengalami hujan ringan hingga sedang pada hari pertama puasa versi pemerintah, Kamis 19 Februari. Berdasarkan prakiraan cuaca di situs resminya, hujan ringan bakal terjadi di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Kepulauan Seribu. Sementara Jakarta Utara dan Jakarta Barat diprediksi hujan sedang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah DKI Jakarta berpotensi diguyur hujan dengan intensitas berbeda. Aktivitas masyarakat, terutama menjelang waktu berbuka puasa, kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi cuaca ini. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menjadi hal penting bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan.

Potensi Hujan Meluas Ke Wilayah Sekitar Jakarta

Hujan ringan juga diestimasikan akan terjadi di berbagai wilayah di sekitar Jakarta. Misalnya Bogor, Purwakarta, Karawang dan Bekasi dijelaskan bakal hujan ringan. Wilayah penyangga ibu kota ini umumnya memiliki mobilitas tinggi sehingga kondisi cuaca turut berdampak pada arus perjalanan harian.

Situasi tersebut menjadi perhatian mengingat kawasan Jabodetabek saling terhubung dalam aktivitas ekonomi dan sosial. Pergerakan masyarakat dari dan menuju Jakarta tetap berlangsung meski diguyur hujan. Dengan prakiraan ini, masyarakat diharapkan dapat menyesuaikan rencana perjalanan.

Dalam laporan prospek cuaca mingguan untuk periode 17 hingga 23 Februari 2026, BMKG menjelaskan sejumlah wilayah di Indonesia akan mengalami hujan lebat sampai sangat lebat. Informasi ini memperlihatkan bahwa kondisi atmosfer dalam sepekan ke depan cenderung basah. Fenomena ini tidak hanya berdampak di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah lain.

Faktor Atmosfer Pemicu Curah Hujan Tinggi

Cuaca tersebut disebabkan Monsun Asia yang masih aktif menyuplai massa udara serta perpindahan uap air menuju Indonesia. Selain itu diperkuat juga dengan Indeks Surge yang diprediksi signifikan dalam beberapa hari ke depan. Kombinasi ini berkontribusi pada peningkatan pembentukan awan hujan.

Kemudian, sirkulasi siklonik terpantau di Samudera Hindia Barat Daya Lampung, Barat Aceh, Perairan barat Kalimantan Barat, dan Samudera Pasifik utara Papua. Keberadaan sirkulasi ini turut memperkuat dinamika atmosfer di wilayah Indonesia. Dampaknya adalah peningkatan potensi hujan dengan intensitas lebih tinggi di sejumlah daerah.

"Dengan kelembapan udara yang juga masih tinggi, kondisi di atas berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian wilayah Indonesia," tulis BMKG. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa faktor kelembapan menjadi elemen penting dalam pembentukan hujan. Situasi ini membuat potensi hujan lebat perlu diwaspadai.

Pengaruh Fenomena Global Dan Regional

Fenomena atmosfer juga dikatakan memberi pengaruh signifikan pada cuaca Indonesia. Pada skala global, nilai SOI dan Niño3.4 menunjukkan kondisi La Niña lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.

Selain itu, fenomena Madden Julian Oscillation MJO juga diprediksi turut memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Aktivitas MJO diprakirakan masih berada pada fase Indian Ocean dalam beberapa hari ke depan, sehingga turut memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di hampir seluruh wilayah.

Kemudian, kombinasi antara MJO, Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuator dan Low Frequency terpantau aktif di wilayah Samudra Hindia barat Sumatra hingga barat daya Jawa, Perairan barat Sumatra, Sumatra bagian utara hingga tengah, Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Natuna, Selat Karimata, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Samudra Pasifik utara Papua hingga timur laut Papua Nugini. Aktivitas gelombang atmosfer tersebut memperkuat dinamika pembentukan awan hujan.

Daerah Berpotensi Hujan Lebat Awal Ramadan

Berikut wilayah Indonesia berpotensi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat pada awal Ramadhan periode 17 hingga 19 Februari. Sumatra meliputi Aceh, Sumatera Utara dan Jambi. Di Pulau Jawa meliputi Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Bali dan Nusa Tenggara meliputi Bali, NTB dan NTT, serta Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan dan Papua.

Untuk potensi angin kencang pada periode yang sama meliputi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung dan Lampung. Di Jawa meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo dan Papua Selatan juga berpotensi terdampak.

Sementara pada periode 20 hingga 23 Februari, hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Jawa Timur, Bali dan Papua Pegunungan. Untuk angin kencang meliputi Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan serta Maluku bagian tenggara.

Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari setelah sidang isbat di Jakarta pada Selasa 17 Februari malam. Sementara Muhammadiyah menetapkan hari pertama puasa pada 18 Februari. Perbedaan awal puasa ini tidak mengurangi pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi cuaca di berbagai wilayah Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index