JAKARTA - Perjalanan industri kendaraan listrik nasional memasuki babak baru pada 2026.
Setelah dua tahun terakhir menikmati lonjakan pertumbuhan signifikan, pasar kini diprediksi menghadapi fase penyesuaian yang tidak ringan. Berakhirnya berbagai stimulus pemerintah menjadi faktor utama perubahan arah tersebut. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar soal keberlanjutan tren mobil listrik.
Euforia kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang dalam dua tahun terakhir tumbuh pesat diprediksi akan menghadapi perlambatan pada 2026. Berakhirnya berbagai insentif pemerintah yang selama ini menjadi pendorong utama dinilai akan menjadi tantangan besar, khususnya bagi segmen pasar kelas menengah. Dinamika ini diperkirakan memengaruhi permintaan secara signifikan. Pelaku industri pun mulai bersiap menghadapi fase baru tersebut.
Fase Normalisasi Industri EV Nasional
Pakar Otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai tahun 2026 sebagai periode normalisasi yang cukup berat bagi industri EV nasional. Ia melihat kondisi pasar tidak lagi seagresif dua tahun sebelumnya. Dukungan kebijakan yang sebelumnya menjadi pendorong utama kini mulai dihentikan. Situasi ini membuat industri harus berdiri lebih mandiri.
“Tren EV di 2026 menjadi fase normalisasi EV yang keras, karena motor pertumbuhan 2024–2025 berupa insentif fiskal dan relaksasi impor berhenti, sementara daya beli dan kredit belum sepenuhnya longgar,” ujarnya melansir. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tantangan utama bukan hanya pada sisi produksi. Permintaan konsumen juga menghadapi tekanan. Kombinasi faktor ini dinilai cukup krusial.
Selama periode 2024–2025, insentif fiskal dan kemudahan impor menjadi mesin penggerak utama penjualan EV. Program tersebut membuat harga kendaraan listrik relatif kompetitif. Namun ketika stimulus dihentikan, harga berpotensi mengalami penyesuaian. Hal inilah yang dikhawatirkan memengaruhi minat beli.
Daya Beli dan Kredit Belum Sepenuhnya Pulih
Meski suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) berada di level 4,75 persen dan inflasi relatif terkendali, penurunan bunga kredit kendaraan dinilai tidak berjalan secepat yang diharapkan. Kondisi ini membuat cicilan kendaraan listrik masih cukup tinggi. Konsumen massal menjadi kelompok paling terdampak. Segmen kelas menengah dinilai paling sensitif terhadap perubahan cicilan.
Akibatnya, cicilan kendaraan listrik masih tergolong tinggi bagi konsumen massal. Situasi tersebut diperparah dengan berakhirnya skema PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk EV rakitan dalam negeri (CKD) dengan TKDN minimal 40 persen, serta dihentikannya relaksasi impor mobil listrik utuh (CBU) pada akhir 2025. Kebijakan ini sebelumnya membantu menjaga harga tetap terjangkau. Tanpa dukungan tersebut, beban biaya meningkat.
Penghentian insentif fiskal membuat struktur harga kendaraan listrik berubah. Produsen harus menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif. Di sisi lain, konsumen menghadapi opsi pembelian dengan beban finansial lebih besar. Hal ini berpotensi menahan laju pertumbuhan penjualan.
Segmen Kelas Menengah Paling Terdampak
Segmen pasar kelas menengah menjadi kelompok yang paling merasakan dampak perubahan kebijakan. Sebelumnya, insentif membuat harga mobil listrik mendekati kendaraan konvensional. Kini, selisih harga berpotensi melebar kembali. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan pembelian.
Konsumen di segmen ini biasanya sangat mempertimbangkan cicilan bulanan. Ketika suku bunga kredit belum sepenuhnya turun, minat beli pun cenderung tertahan. Selain itu, persepsi harga yang lebih tinggi juga bisa menjadi hambatan psikologis. Pasar pun memasuki fase yang lebih selektif.
Meski demikian, normalisasi tidak selalu berarti kemunduran permanen. Fase ini bisa menjadi periode penyesuaian menuju pasar yang lebih stabil. Industri dituntut untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi. Persaingan harga dan teknologi diperkirakan semakin ketat.
Tantangan dan Adaptasi Industri Otomotif
Industri kendaraan listrik nasional kini menghadapi tantangan untuk mempertahankan momentum. Tanpa insentif fiskal, produsen harus mencari cara lain menjaga daya tarik produk. Efisiensi produksi dan peningkatan kandungan lokal menjadi opsi strategis. Upaya tersebut diharapkan mampu menekan biaya.
Selain itu, penguatan ekosistem kendaraan listrik tetap menjadi faktor penting. Infrastruktur pengisian daya dan dukungan pembiayaan menjadi kunci. Jika ekosistem berkembang baik, minat konsumen dapat kembali meningkat. Adaptasi kebijakan juga berpotensi muncul sesuai dinamika pasar.
Fase normalisasi pada 2026 menjadi ujian bagi ketahanan industri EV nasional. Meski menghadapi tekanan harga dan daya beli, peluang pertumbuhan jangka panjang tetap terbuka. Transisi menuju kendaraan ramah lingkungan masih menjadi agenda global. Tantangannya kini adalah menjaga keseimbangan antara harga, insentif, dan kemampuan pasar.