JAKARTA - Sorotan terhadap pasar modal Indonesia kembali mengemuka setelah sejumlah lembaga internasional memberikan catatan penting.
Di tengah isu kenaikan porsi saham beredar atau free float, Danantara justru menekankan aspek yang lebih mendasar. Transparansi dan akuntabilitas dinilai menjadi fondasi utama untuk memperkuat persepsi global.
Sovereign Wealth Fund Daya Anagata Nusantara melihat dinamika ini sebagai momentum pembenahan. Bagi lembaga pengelola investasi negara tersebut, penguatan komunikasi publik sama pentingnya dengan reformasi struktural. Kepercayaan investor disebut tidak semata ditentukan oleh angka free float.
Di tengah peringatan dari MSCI hingga Moody’s, arah kebijakan pasar modal menjadi perhatian. Pelaku pasar global masih mencermati konsistensi regulasi dan koordinasi antarotoritas. Kondisi ini mendorong Danantara untuk menyuarakan pentingnya satu narasi yang solid.
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menyampaikan bahwa persoalan utama bukan hanya teknis pasar. Ia menilai ada isu mendasar yang perlu dibereskan bersama. Penegasan itu disampaikan dalam wawancara publik pekan lalu.
Free Float Bukan Satu Satunya Isu
Sovereign Wealth Fund Daya Anagata Nusantara menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penguatan pasar modal Indonesia. Sorotan lembaga internasional seperti MSCI hingga Moody’s menjadi pengingat pentingnya tata kelola yang baik. Danantara menilai komunikasi strategis harus diperbaiki.
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir mengatakan pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan pasar modal ke depan. Ia berpandangan isu free float bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi persepsi lembaga indeks global terhadap Indonesia. Menurutnya, ada aspek lain yang lebih krusial.
"MSCI warning itu bukan soal free float. Kalau kita mau jujur, the elephant in the room itu adalah transparansi dan accountability," dalam wawancara acara Closing Bell Media pekan lalu.
Dalam kesempatan terpisah, Pandu menambahkan komunikasi yang konsisten antarotoritas menjadi kebutuhan mendesak. Arus modal asing dan kedalaman pasar sangat bergantung pada kepastian kebijakan. Koordinasi yang solid dinilai mampu memulihkan sentimen.
Respons Terhadap Peringatan Moody’s
Danantara memastikan merespons serius peringatan dari Moody’s Ratings terkait koordinasi dan arah kebijakan. Pandu menegaskan bahwa lembaga tersebut membutuhkan kepastian yang jelas. Kepastian ini menjadi kunci menjaga kepercayaan investor.
“Poin utama dari Moody’s itu adalah soal komunikasi dan arahan. Mereka perlu kepastian. Itu tugas kami dan saya rasa semua unsur dari yang berkomunikasi ke luar itu ya harus satu suara,” ujar Pandu di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Menurut Pandu, tindak lanjut atas catatan Moody’s tidak hanya dilakukan secara internal. Koordinasi intensif juga dilakukan dengan Kementerian Keuangan dan institusi terkait. Momentum ini dianggap sebagai peluang memperkuat narasi ekonomi nasional.
Revisi prospek terhadap sejumlah BUMN oleh Moody’s dinilai sebagai ujian awal efektivitas tata kelola Danantara. Sedikitnya tujuh korporasi terdampak, lima di antaranya BUMN seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), Telkomsel, PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), serta PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID. Selain itu, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR) turut masuk daftar.
Strategi Investasi Danantara
Di sisi investasi pasar saham, Pandu menegaskan strategi Danantara tidak terbatas pada emiten BUMN. Saham swasta dengan fundamental kuat juga menjadi sasaran. Pendekatan berbasis fundamental disebut sebagai prinsip utama.
“Kami tidak pilih-pilih. Kami melihat saham fundamental, bukan berarti hanya saham BUMN. Saham perusahaan private juga banyak yang bagus, kami harus lihat mereka juga,” ujarnya.
Pandu mengungkapkan Danantara telah berinvestasi rutin di pasar modal. Namun, ia enggan membeberkan besaran dana yang disiapkan. Keterbukaan nominal investasi dinilai berpotensi memicu distorsi pasar.
“Sudah [ada dananya], tapi tidak bakal disebut. Karena nanti dianggap market distorsi dan hal-hal yang lain, tapi kami investasi setiap hari,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari strategic asset allocation, Danantara menempatkan dana pada obligasi dan ekuitas publik. Lembaga tersebut tidak menetapkan target pembelian harian secara terbuka. Hal ini untuk menghindari spekulasi pelaku pasar.
“Kami tidak ada target. Kami melihat dari market ya kami pasti membeli, yang penting kami beli terus. Kalau kami bilang target, nanti pemain-pemain bursa pada tahun semua nanti kan,” pungkas Pandu.
Dukungan Demutualisasi dan Fundamental Himbara
Danantara juga menyatakan dukungan terhadap rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia. Transformasi ini dinilai lazim dilakukan bursa regional untuk memperkuat kelembagaan. Daya saing pasar modal diharapkan meningkat.
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menilai saham Himpunan Bank Milik Negara tetap mengikuti fundamental masing-masing emiten. Volatilitas pasar disebut tidak mengubah kinerja dasar perusahaan. Fundamental perbankan dinilai solid.
“Buat saya saham itu akan mengikuti fundamental. Dan saya sangat percaya bahwa fundamental perusahaan-perusahaan BUMN, termasuk perbankan, saat ini sangat baik,” ujar Dony di Jakarta, Selasa malam.
Secara kinerja, Bank Mandiri membukukan laba Rp56,3 triliun pada 2025, naik dari Rp55,78 triliun tahun sebelumnya. BNI mencatat laba bersih Rp20,11 triliun hingga Desember 2025. Sementara BTN meraih laba Rp3,5 triliun dengan aset Rp527,79 triliun, tumbuh 12,4 persen tahunan.
Perampingan BUMN dan Konsolidasi
Di luar strategi investasi, Danantara menyiapkan perampingan portofolio BUMN melalui merger dan konsolidasi lintas sektor. Targetnya jumlah entitas dipangkas menjadi sekitar 300 perusahaan. Skala ekonomi signifikan menjadi tujuan utama.
“Kita harapkan dari 300 perusahaan yang dimiliki oleh BUMN ke depan, itu adalah perusahaan-perusahaan yang secara skala itu cukup signifikan untuk berkompetisi, memiliki kemampuan secara finansial dan juga memiliki kapabilitas secara orang,” ujar Dony.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) direncanakan memangkas 66 anak usaha menjadi belasan entitas. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) akan menutup 17 perusahaan, sedangkan PT Pupuk Indonesia melikuidasi hingga 47 anak usaha. Di sektor infrastruktur, merger tujuh BUMN Karya ditargetkan rampung pertengahan 2026.
Langkah konsolidasi ini diharapkan memperkuat struktur korporasi nasional. Dengan tata kelola yang lebih ringkas dan transparan, Danantara optimistis kepercayaan investor global dapat kembali meningkat. Transparansi dan komunikasi yang selaras menjadi pesan utama dalam agenda besar tersebut.