JAKARTA - Tekanan masih membayangi pasar aset digital pada perdagangan Kamis, 5 Februari 2026.
Sejak pagi hari, pergerakan harga kripto utama menunjukkan kecenderungan melemah secara seragam. Kondisi ini menandakan kehati-hatian investor yang masih tinggi di tengah sentimen global dan dinamika industri kripto yang belum stabil. Koreksi harga tidak hanya terjadi pada Bitcoin, tetapi juga merata ke altcoin utama hingga koin meme.
Berdasarkan pantauan pada pukul 06.45 WIB, mayoritas kripto papan atas masih bertahan di zona merah. Data Coinmarketcap menunjukkan pelemahan terjadi baik dalam rentang harian maupun mingguan. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan pun ikut tergerus, mencerminkan tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda di pasar.
Bitcoin Dan Ethereum Masih Tertekan
Sebagai aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, Bitcoin kembali mencatatkan pelemahan. Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin turun 3,46 persen, sementara secara mingguan terkoreksi hingga 17,78 persen. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di level USD 73.250 per koin atau setara sekitar Rp 1,23 miliar dengan asumsi kurs Rp 16.807 per dolar Amerika Serikat.
Tekanan yang dialami Bitcoin turut diikuti oleh Ethereum. Kripto terbesar kedua ini ambles 3,65 persen dalam sehari terakhir dan melemah cukup dalam secara mingguan sebesar 28,03 persen. Dengan koreksi tersebut, harga Ethereum kini berada di kisaran Rp 36,2 juta per koin. Pelemahan ini mencerminkan sentimen pasar yang masih belum pulih pascareli besar sebelumnya.
Altcoin Utama Ikut Melanjutkan Koreksi
Sejumlah altcoin utama juga belum mampu keluar dari tren negatif. Binance Coin atau BNB tercatat melemah cukup tajam. Dalam 24 jam terakhir, BNB turun 7,47 persen dan terkoreksi 22,11 persen dalam sepekan. Kondisi ini membuat BNB saat ini diperdagangkan di kisaran Rp 11,7 juta per koin.
Cardano juga masih berada di zona merah. ADA tercatat turun 1,44 persen secara harian dan melemah 19,68 persen dalam sepekan. Harga ADA kini berada di level Rp 4.818 per koin. Sementara itu, Solana mencatatkan penurunan yang lebih dalam dengan koreksi 5,48 persen dalam sehari dan 25,81 persen dalam sepekan, sehingga diperdagangkan di kisaran Rp 1,55 juta per koin.
XRP Dan Dogecoin Masih Melemah
Tekanan jual juga dirasakan oleh XRP yang kembali bergerak di area negatif. Dalam satu hari terakhir, XRP turun 3,66 persen dan melemah 20,17 persen secara mingguan. Dengan pergerakan tersebut, XRP kini dibanderol di level Rp 25.497 per koin.
Koin meme Dogecoin tidak luput dari koreksi. DOGE tercatat melemah 1,60 persen dalam 24 jam terakhir dan turun 16,39 persen dalam sepekan. Harga Dogecoin saat ini berada di kisaran Rp 1.748 per token. Melemahnya DOGE menunjukkan bahwa sentimen spekulatif di pasar kripto masih cenderung tertahan.
Stablecoin Relatif Stabil Di Tengah Gejolak
Berbeda dengan kripto lainnya, stablecoin relatif bergerak stabil. Tether (USDT) dan USD Coin (USDC) masih diperdagangkan di sekitar level USD 1,00. Meski demikian, keduanya tercatat melemah sangat tipis masing-masing 0,01 persen dan 0,02 persen. Stabilitas stablecoin ini mencerminkan fungsinya sebagai aset lindung sementara bagi investor di tengah volatilitas pasar.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global hari ini berada di level USD 2,48 triliun atau setara Rp 41.681 triliun. Angka tersebut melemah sekitar 3,39 persen dalam sehari terakhir, menandakan bahwa tekanan masih cukup luas di seluruh pasar aset digital.
Kasus BitRiver Jadi Sorotan Industri Kripto
Di luar pergerakan harga, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada perkembangan kasus di industri penambangan kripto global. Pendiri perusahaan penambangan kripto terbesar di Rusia, BitRiver, Igor Runets, kini berada dalam tahanan rumah. Ia dituduh menggelapkan pajak dan diduga menyembunyikan aset untuk menghindari kewajiban perpajakan.
Mengutip Yahoo Finance, Igor Runets ditahan pada Jumat lalu dan menghadapi tiga tuduhan terkait kasus tersebut. Tim hukumnya memiliki waktu terbatas untuk mengajukan banding sebelum penahanan rumah diberlakukan sepenuhnya. Jika banding tidak dilakukan atau tidak berhasil, Runets akan tetap menjalani tahanan rumah selama proses hukum berlangsung.
Runets dikenal sebagai pelopor industri penambangan kripto di Rusia. Ia mendirikan BitRiver pada 2017 dan mengembangkannya menjadi 15 pusat data dengan lebih dari 175.000 server serta kapasitas 533 megawatt. Pada 2022, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada BitRiver setelah invasi Rusia ke Ukraina.
Tantangan Dan Potensi Dampak Ke Depan
Selain persoalan hukum pendirinya, BitRiver juga menghadapi tekanan bisnis serius. Kantor berita Kommersant melaporkan adanya potensi kebangkrutan setelah anak usaha En+ Group mengajukan klaim insolvensi di pengadilan arbitrase regional. Perselisihan ini terkait tuduhan kegagalan pengiriman peralatan penambangan yang telah dibayar di muka dengan nilai klaim lebih dari USD 9,2 juta.
Pembekuan rekening yang diperintahkan pengadilan berpotensi mengganggu operasional perusahaan yang sebelumnya mengendalikan lebih dari separuh kapasitas penambangan kripto Rusia. Sejumlah pusat data bahkan dilaporkan telah ditutup, sementara sebagian besar manajemen senior meninggalkan perusahaan dalam setahun terakhir.
Analis menilai, jika BitRiver benar-benar runtuh, kondisi tersebut dapat mempercepat konsolidasi di sektor penambangan kripto Rusia. Situasi ini juga diperkirakan akan memengaruhi ekspektasi permintaan listrik dari industri penambangan kripto ke depan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis secara mendalam sebelum membeli atau menjual aset kripto. Media tidak bertanggung jawab atas keuntungan maupun kerugian yang timbul dari keputusan investasi.