JAKARTA - Keselamatan transportasi masih menjadi tantangan serius di Kabupaten Mahakam Ulu.
Aktivitas masyarakat yang bergantung pada angkutan air dan darat menuntut tingkat kewaspadaan tinggi, namun kepatuhan terhadap standar keselamatan dinilai masih rendah. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah melalui Dinas Perhubungan untuk memperkuat edukasi keselamatan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan terhadap potensi kecelakaan. Dishub Mahakam Ulu menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi kunci utama. Tanpa kesadaran individu, berbagai fasilitas dan aturan keselamatan tidak akan memberikan dampak maksimal bagi perlindungan pengguna transportasi.
Keselamatan Transportasi Jadi Perhatian Utama Daerah
Penggunaan sarana transportasi di Mahakam Ulu memiliki karakteristik tersendiri. Selain jalur darat, angkutan sungai menjadi moda utama bagi sebagian masyarakat. Namun, di lapangan masih ditemukan berbagai pelanggaran keselamatan yang berisiko tinggi.
Di sejumlah titik transportasi sungai, penumpang masih terlihat tidak menggunakan life jacket. Padahal, alat keselamatan tersebut sangat penting untuk mengurangi risiko fatal apabila terjadi kecelakaan di perairan. Kondisi serupa juga terjadi pada transportasi darat, khususnya pengendara roda dua.
Pengendara sepeda motor kerap mengabaikan penggunaan helm dengan alasan jarak tempuh yang dekat. Kebiasaan ini dinilai membahayakan dan berpotensi meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas. Dishub Mahakam Ulu menilai persoalan ini perlu ditangani melalui pendekatan edukatif.
Kebiasaan Masyarakat Pengaruhi Tingkat Keselamatan
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Dishub Mahakam Ulu, Papilius Panyu, menyampaikan bahwa rendahnya kesadaran keselamatan tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat sehari-hari. Pola pikir yang menganggap risiko kecil sering kali membuat aturan keselamatan diabaikan.
Menurut Papilius, keselamatan berkendaraan harus menjadi kebutuhan utama, bukan sekadar kewajiban administratif. Kesadaran ini perlu dibangun secara perlahan melalui pemahaman yang benar tentang risiko dan dampak kecelakaan.
“Keselamatan berkendaraan, khususnya roda dua, wajib menggunakan helm sebagai alat pelindung diri, meskipun jaraknya dekat,” ujar Papilius kepada RRI.co.id, Minggu, 25 Januari 2026. Pernyataan ini menegaskan pentingnya disiplin dalam berlalu lintas.
Ia menambahkan bahwa perubahan kebiasaan membutuhkan waktu dan konsistensi. Oleh karena itu, Dishub Mahakam Ulu terus melakukan pendekatan persuasif agar pesan keselamatan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.
Helm dan Life Jacket Sebagai Pelindung Utama
Papilius menjelaskan bahwa helm memiliki fungsi perlindungan yang sangat vital. Selain melindungi kepala saat terjadi kecelakaan, helm juga berperan menjaga mata dan kulit dari paparan sinar ultraviolet serta debu jalanan. Fungsi ini sering kali tidak disadari oleh pengendara.
Paparan sinar ultraviolet secara langsung dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan mata. Menurut Papilius, kondisi tersebut berisiko menyebabkan gangguan penglihatan hingga penyakit seperti katarak apabila terjadi terus-menerus. Oleh karena itu, penggunaan helm menjadi bentuk perlindungan ganda.
Sementara itu, untuk angkutan air, life jacket menjadi alat keselamatan yang tidak boleh diabaikan. Sungai memiliki risiko arus deras dan kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Tanpa pelampung, keselamatan penumpang sangat rentan apabila terjadi insiden.
Dishub Mahakam Ulu menilai pemahaman fungsi alat keselamatan harus terus disosialisasikan. Dengan mengetahui manfaat nyata, masyarakat diharapkan lebih sadar dan mau mematuhi standar keselamatan yang berlaku.
Sosialisasi Langsung untuk Bangun Kesadaran
Sebagai langkah konkret, Dishub Mahakam Ulu terus menggencarkan sosialisasi langsung kepada masyarakat. Edukasi dilakukan melalui berbagai kesempatan, baik di titik transportasi, kegiatan masyarakat, maupun forum informal. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjangkau masyarakat secara langsung.
Sosialisasi tidak hanya berisi imbauan, tetapi juga penjelasan mengenai risiko dan dampak kecelakaan. Dishub berupaya menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dipahami agar masyarakat tidak merasa digurui. Pendekatan humanis menjadi kunci dalam membangun kesadaran.
Papilius menyebutkan bahwa keselamatan transportasi harus dipahami sebagai kebutuhan utama dalam setiap aktivitas. Dengan menjadikan keselamatan sebagai budaya, risiko kecelakaan dapat ditekan secara signifikan. Hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah daerah dalam melindungi warganya.
Selain itu, edukasi juga diarahkan pada generasi muda agar kesadaran keselamatan tumbuh sejak dini. Dengan demikian, perubahan perilaku dapat berlangsung lebih berkelanjutan di masa depan.
Komitmen Berkelanjutan Tekan Risiko Kecelakaan
Dishub Mahakam Ulu memastikan upaya edukasi keselamatan transportasi akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah daerah berkomitmen untuk hadir dan mengingatkan masyarakat tentang pentingnya keselamatan dalam setiap perjalanan. Konsistensi menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.
Dengan meningkatnya kesadaran, diharapkan tingkat kepatuhan terhadap penggunaan helm dan life jacket juga meningkat. Hal ini akan berdampak langsung pada penurunan risiko kecelakaan dan korban jiwa. Keselamatan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh pengguna transportasi.
Pemerintah daerah berharap masyarakat dapat menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama. Setiap perjalanan, baik jarak dekat maupun jauh, memiliki potensi risiko yang sama. Oleh karena itu, disiplin dalam menerapkan standar keselamatan harus terus ditanamkan.
Melalui edukasi yang intensif dan berkelanjutan, Dishub Mahakam Ulu optimistis budaya keselamatan transportasi dapat tumbuh dengan kuat. Dengan demikian, aktivitas transportasi di wilayah tersebut dapat berlangsung lebih aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat.