Rupiah

Rupiah Menguat Awal Pekan Dolar AS Tertekan Sentimen Global

Rupiah Menguat Awal Pekan Dolar AS Tertekan Sentimen Global
Rupiah Menguat Awal Pekan Dolar AS Tertekan Sentimen Global

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini memberi sinyal berbeda dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. 

Setelah sempat mencatatkan level terlemah sepanjang sejarah, rupiah justru membuka perdagangan Senin dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa faktor eksternal masih menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang domestik, terutama ketika sentimen global mengalami perubahan signifikan.

Pada pembukaan perdagangan Senin, 19 Januari 2026, rupiah bergerak menguat seiring pelemahan dolar AS di pasar internasional. Penguatan ini menjadi sorotan pelaku pasar karena terjadi setelah tekanan cukup berat pada akhir pekan lalu. Kondisi tersebut sekaligus menegaskan bahwa volatilitas pasar valuta asing masih tinggi dan responsif terhadap perkembangan global.

Rupiah Bangkit Setelah Tekanan Pekan Lalu

Mengacu pada data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi dengan penguatan sebesar 0,18 persen dan berada di level Rp16.850 per dolar AS. Posisi ini mencerminkan perbaikan sentimen pasar setelah rupiah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Kamis 15 Januari 2026, ditutup melemah 0,15 persen ke level Rp16.880 per dolar AS.

Penutupan tersebut sebelumnya tercatat sebagai level terlemah rupiah sepanjang masa. Oleh karena itu, penguatan pada awal pekan ini dipandang sebagai bentuk koreksi teknikal sekaligus respons atas perubahan sentimen global yang sementara berpihak pada mata uang negara berkembang.

Meski demikian, pelaku pasar menilai penguatan rupiah ini masih bersifat terbatas. Pasalnya, tekanan struktural terhadap mata uang domestik belum sepenuhnya mereda dan masih sangat bergantung pada arah kebijakan ekonomi global.

Dolar AS Melemah di Pasar Global

Sejalan dengan penguatan rupiah, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah cukup dalam. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat turun 0,31 persen ke level 99,082.

Pelemahan dolar AS ini menjadi faktor utama yang membuka ruang penguatan bagi rupiah. Investor global mulai mengurangi eksposur terhadap dolar seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat, yang kembali mencuat dalam beberapa hari terakhir.

Tekanan terhadap dolar menunjukkan bahwa pasar mulai meragukan prospek jangka menengah greenback, terutama di tengah kebijakan proteksionis yang berpotensi memicu perlambatan ekonomi global.

Sentimen Tarif AS Jadi Pemicu Utama

Pergerakan rupiah pada perdagangan pertama pekan ini diperkirakan sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Salah satu faktor utama adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali melontarkan ancaman tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland.

Ancaman tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai eskalasi tensi dagang global. Pasar menilai langkah ini berpotensi menekan hubungan ekonomi Amerika Serikat dengan mitra utamanya di Eropa, sekaligus memperbesar risiko ketidakpastian perdagangan internasional.

Sentimen negatif ini membuat investor bersikap lebih hati-hati dan meninjau ulang prospek dolar AS. Kondisi tersebut berdampak langsung pada pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.

Respons Eropa dan Sikap Investor Global

Sejumlah negara Uni Eropa merespons keras pernyataan Amerika Serikat dan menilai ancaman tarif tersebut sebagai bentuk tekanan sepihak. Reaksi ini menambah panjang daftar faktor yang memperkeruh sentimen pasar keuangan global.

Dalam situasi tersebut, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Investor global terlihat lebih selektif dalam menempatkan dana, sambil mencermati arah kebijakan lanjutan dari Amerika Serikat serta respons negara-negara mitra dagangnya.

Kondisi ini turut mempengaruhi persepsi terhadap dolar AS. Alih-alih menjadi aset aman utama, greenback justru ikut tertekan, menandakan adanya keraguan pasar terhadap keberlanjutan dominasinya di tengah dinamika geopolitik dan kebijakan proteksionis.

Arus Dana ke Aset Safe Haven

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, arus dana internasional tercatat mengalir ke aset safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss. Pola ini mencerminkan sikap defensif investor dalam menghadapi potensi gejolak lanjutan di pasar keuangan.

Namun, berbeda dari pola risk-off sebelumnya, dolar AS justru tidak sepenuhnya diuntungkan. Tekanan terhadap greenback menunjukkan bahwa pasar mulai mempertimbangkan risiko kebijakan domestik Amerika Serikat sebagai faktor yang turut melemahkan daya tarik dolar.

Investor juga masih mengingat gejolak besar pasca pengumuman tarif besar-besaran Amerika Serikat pada April 2025. Peristiwa tersebut sempat memicu krisis kepercayaan terhadap aset berdenominasi dolar dan meninggalkan trauma di kalangan pelaku pasar global.

Peluang dan Risiko Rupiah ke Depan

Tekanan terhadap dolar AS pada akhirnya membuka ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pada awal perdagangan hari ini, kondisi tersebut memberikan sentimen positif bagi pasar domestik.

Meski demikian, penguatan rupiah masih dibayangi sejumlah risiko. Volatilitas pasar keuangan global tetap tinggi, sementara arah kebijakan ekonomi dan perdagangan Amerika Serikat belum menunjukkan kejelasan. Faktor-faktor tersebut berpotensi memicu pembalikan arah secara cepat.

Pelaku pasar pun diperkirakan akan terus mencermati perkembangan kebijakan AS serta respons global dalam beberapa waktu ke depan. Selama ketidakpastian masih mendominasi, pergerakan rupiah diperkirakan tetap fluktuatif, meskipun peluang penguatan jangka pendek masih terbuka pada awal pekan ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index