Batu Bara

Harga Batu Bara Global Menguat Didorong Strategi Energi China

Harga Batu Bara Global Menguat Didorong Strategi Energi China
Harga Batu Bara Global Menguat Didorong Strategi Energi China

JAKARTA - Penguatan harga batu bara kembali menjadi sorotan pasar komoditas global di tengah dinamika kebijakan energi negara konsumen terbesar dunia. 

Pergerakan harga pada akhir pekan mencerminkan respons investor terhadap arah kebijakan China yang tetap memberi ruang besar bagi batu bara, meski transisi energi bersih terus berjalan. Sentimen ini menjaga optimisme pasar, sekaligus menegaskan bahwa peran batu bara masih signifikan dalam peta energi global.

Pada perdagangan Kamis, harga batu bara kembali menguat. Dorongan utama datang dari rencana China untuk menambah lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Rencana tersebut muncul di saat impor batu bara China justru tercatat menurun sepanjang tahun lalu, menciptakan kombinasi sentimen yang menarik bagi pelaku pasar.

Harga batu bara Newcastle untuk Januari 2026 turun US$ 0,6% ke level US$ 10,4 per ton. Sementara itu, kontrak Februari 2026 melesat US$ 0,7 menjadi US$ 110,7 per ton. Adapun Maret 2026 terkerek US$ 0,65 menjadi US$ 110,85 per ton, menunjukkan tren penguatan pada kontrak berjangka yang lebih panjang.

Arah Pasar Batu Bara Global

Dari kawasan Eropa, pergerakan harga batu bara juga menunjukkan dinamika yang beragam. Harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2026 melemah US$ 0,1 menjadi US$ 97,35 per ton. Namun, kontrak Februari 2026 justru terkerek US$ 0,2 menjadi US$ 95,35 per ton. Pada Maret 2026, harga naik US$ 0,25 menjadi US$ 94,25 per ton.

Perbedaan arah pergerakan ini mencerminkan perbedaan kebutuhan dan ekspektasi pasar di masing-masing wilayah. Investor menilai pasar Asia, khususnya China, masih menjadi penentu utama arah harga batu bara dunia. Setiap sinyal kebijakan dari Beijing kerap memicu respons cepat di pasar berjangka.

Dikutip dari Tradingview, harga batu bara naik mendekati US$ 110 per ton dan bergerak menuju level tertinggi dalam satu bulan. Penguatan ini terjadi seiring kesiapan China meluncurkan lebih dari 100 PLTU batu bara yang diperkirakan akan memasok listrik ke berbagai wilayah dunia pada tahun ini.

Peran Strategis China dalam Permintaan

China masih memegang peran sentral sebagai konsumen, produsen, sekaligus importir batu bara terbesar di dunia. Ketergantungan ini membuat kebijakan energi China selalu menjadi barometer bagi pasar global. Meski ekspansi energi terbarukan terus berlanjut, batu bara tetap menjadi tulang punggung pasokan listrik untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah China menilai batu bara masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Kebutuhan listrik yang tinggi, terutama dari sektor industri dan manufaktur, membuat PLTU batu bara tetap menjadi pilihan andalan. Kondisi ini memberikan sinyal bahwa permintaan batu bara belum akan surut dalam waktu dekat.

Namun demikian, Beijing juga telah menyampaikan komitmen untuk mulai mengurangi penggunaan batu bara secara bertahap sebelum 2030. Langkah ini sejalan dengan target jangka panjang China dalam menekan emisi dan memperluas bauran energi bersih, meski implementasinya dilakukan secara hati-hati.

Impor Menurun dan Produksi Domestik

Di tengah rencana penambahan PLTU, data terbaru menunjukkan impor batu bara China turun 9,6% pada tahun lalu menjadi 490 juta ton. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya produksi domestik yang mampu menutup sebagian besar kebutuhan dalam negeri. Selain itu, terjadi penurunan langka dalam pembangkit listrik tenaga termal.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya pergeseran struktur pasokan, di mana China lebih mengandalkan sumber dalam negeri dibandingkan impor. Meski demikian, volume impor yang masih besar menegaskan bahwa China tetap menjadi pemain kunci dalam perdagangan batu bara internasional.

Penurunan impor juga dipengaruhi oleh efisiensi pembangkit serta peningkatan kontribusi energi terbarukan. Meski porsinya belum dominan, energi bersih mulai memberikan dampak nyata terhadap kebutuhan batu bara, terutama pada periode tertentu.

Transisi Energi dan Prospek Harga

Sebuah laporan swasta mencatat bahwa pembangkitan listrik dari batu bara turun baik di China maupun India pada 2025. Penurunan ini menjadi yang pertama secara bersamaan dalam setengah abad. Fenomena tersebut terjadi seiring kedua negara mempercepat penambahan kapasitas energi bersih dalam jumlah rekor.

Meski demikian, pasar menilai transisi energi tidak akan serta-merta menghilangkan peran batu bara. Dalam jangka menengah, batu bara masih dibutuhkan sebagai sumber energi yang stabil dan terjangkau, terutama bagi negara dengan kebutuhan listrik besar dan pertumbuhan ekonomi tinggi.

Kondisi inilah yang menjaga harga batu bara tetap berada di level relatif tinggi. Selama permintaan dari negara-negara besar masih kuat dan pasokan dijaga ketat, harga diperkirakan akan tetap bergerak dalam rentang tinggi. Rencana China menambah PLTU menjadi salah satu faktor utama yang menopang sentimen positif pasar saat ini.

Dengan berbagai faktor tersebut, harga batu bara dinilai masih memiliki ruang untuk bergerak menguat. Meski tantangan transisi energi terus membayangi, kebijakan strategis China kembali menegaskan bahwa batu bara masih memegang peran penting dalam lanskap energi global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index