BMKG Prediksi Musim Hujan Berakhir, Persiapkan Diri Menyambut Kemarau

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:26:48 WIB
BMKG Prediksi Musim Hujan Berakhir, Persiapkan Diri Menyambut Kemarau

JAKARTA - Sejumlah wilayah Indonesia saat ini masih diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. 

BMKG mencatat beberapa daerah mengalami curah hujan harian antara 50 hingga 100 mm selama beberapa hari terakhir, menandakan puncak musim hujan masih berlangsung.

Pada periode 6–9 Maret 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat di sejumlah wilayah. Curah hujan kategori sangat lebat tercatat di Banten mencapai 141,8 mm per hari dan Jakarta Timur 123,4 mm per hari. Sementara Sulawesi Selatan mencatat 84,4 mm, Bengkulu 82,9 mm, Jambi 78 mm, Sumatera Utara 73,2 mm, dan Jawa Timur 59,8 mm per hari.

BMKG menjelaskan intensitas hujan ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal. Wilayah Indonesia bagian barat telah memasuki puncak musim hujan sejak November–Desember 2025, sedangkan wilayah selatan dan timur mencapai puncak hujan pada Januari–Februari 2026.

Peralihan Musim Hujan ke Musim Kemarau

BMKG memprediksi peralihan dari musim hujan ke musim kemarau akan dimulai pada akhir Maret hingga April 2026. Sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai mengalami kemarau pada bulan April, termasuk pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan awal musim kemarau tahun 2026 diprediksi lebih cepat dibanding rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir. Dari total 699 zona musim di Indonesia, sekitar 46,5 persen atau 325 ZOM akan memasuki musim kemarau lebih awal.

Sementara itu, 24,7 persen atau 173 ZOM diperkirakan mengalami musim kemarau sesuai periode normal, dan 10,3 persen atau 72 ZOM diprediksi mengalami kemarau lebih lambat dari biasanya.

Durasi Musim Kemarau Lebih Panjang

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan awal kemarau yang lebih cepat berpotensi membuat durasinya lebih panjang. Hal ini dapat berdampak pada ketersediaan air, pertanian, dan sektor energi, sehingga perlu antisipasi dini dari pemerintah dan masyarakat.

BMKG memperkirakan pada Mei 2026, sebanyak 184 ZOM (26,3 persen wilayah) akan mengalami kemarau, diikuti 163 ZOM (23,3 persen wilayah) pada Juni 2026. Kondisi ini menunjukkan peralihan musim yang bertahap namun signifikan bagi sebagian besar daerah di Indonesia.

Kemarau 2026 Cenderung Lebih Kering

BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Sekitar 451 zona musim atau 64,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air.

Kondisi ini berbeda dengan musim kemarau 2025 yang cenderung normal. Oleh karena itu, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan disarankan melakukan antisipasi sejak dini, termasuk mitigasi risiko kekeringan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Saran BMKG untuk Masyarakat dan Pemerintah

BMKG mengimbau masyarakat dan sektor terkait untuk memanfaatkan informasi prediksi musim kemarau sebagai peringatan dini. Data ini diharapkan bisa menjadi dasar untuk aksi cepat, baik di sektor pertanian, energi, lingkungan, maupun mitigasi bencana hidrometeorologi.

Masyarakat juga diminta memantau perkembangan prakiraan cuaca melalui kanal resmi BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari, termasuk penggunaan air, pengelolaan lahan, dan antisipasi bencana akibat kekeringan.

Kesiapsiagaan di Sektor Penting

Prediksi kemarau yang lebih panjang dan kering menuntut kesiapsiagaan dari berbagai sektor. Petani perlu menyiapkan irigasi tambahan, pemerintah daerah harus menyiapkan cadangan air, dan sektor energi memperhitungkan pasokan listrik dari PLTA yang bergantung pada curah hujan.

Dengan pemahaman dan persiapan yang matang, masyarakat dan pemerintah dapat meminimalkan dampak musim kemarau 2026, sekaligus memanfaatkan momen awal kemarau untuk perencanaan pembangunan dan aktivitas ekonomi yang lebih optimal.

Terkini