BMKG Prediksi Riau Lebih Kering Tahun 2026 Risiko Karhutla Meningkat Tajam

Jumat, 06 Maret 2026 | 15:35:08 WIB
BMKG Prediksi Riau Lebih Kering Tahun 2026 Risiko Karhutla Meningkat Tajam

JAKARTA - Perubahan pola cuaca diperkirakan akan memengaruhi kondisi iklim di sejumlah wilayah Indonesia pada 2026. 

Salah satu daerah yang diprediksi mengalami perubahan cukup signifikan adalah Provinsi Riau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan wilayah ini akan menghadapi kondisi cuaca yang lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya.

Situasi tersebut menjadi perhatian karena kondisi cuaca kering berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Wilayah Riau selama ini memang dikenal sebagai salah satu daerah yang cukup rentan terhadap bencana kebakaran hutan, terutama saat memasuki puncak musim kemarau.

BMKG menilai perubahan dinamika iklim global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Oleh karena itu, berbagai pihak diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah bersama sejumlah instansi terkait juga mulai menyiapkan langkah mitigasi agar potensi bencana tersebut dapat diminimalkan. Upaya ini penting dilakukan untuk menjaga lingkungan sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kabut asap yang sering muncul akibat karhutla.

Prediksi Cuaca Lebih Kering di Tahun 2026

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi iklim pada 2026 diperkirakan berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan perubahan fenomena iklim global yang memengaruhi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Ia mengatakan tahun 2025 diawali dan diakhiri dengan fenomena La Nina lemah yang membuat kondisi cuaca relatif lebih basah. Fenomena tersebut menyebabkan curah hujan di sejumlah daerah meningkat sehingga kondisi lingkungan menjadi lebih lembap.

Namun situasi tersebut diperkirakan berubah pada tahun 2026. Kondisi iklim diprediksi berada pada fase netral dari fenomena El Nino Southern Oscillation atau ENSO yang dapat memengaruhi pola curah hujan.

“Tahun 2025 diawali dan diakhiri dengan La Nina lemah sehingga kondisinya lebih basah. Sementara pada 2026, memasuki April kondisi ENSO diperkirakan netral, sehingga diperkirakan akan lebih kering dibandingkan 2025,” kata Faisal dalam konferensi pers di Pekanbaru, Kamis, 5 Maret 2026.

Curah Hujan Diprediksi Sedikit di Bawah Normal

BMKG menjelaskan bahwa prediksi tersebut didasarkan pada analisis data iklim jangka panjang. Berdasarkan catatan selama 30 tahun terakhir, pola curah hujan di Indonesia menunjukkan kecenderungan tertentu yang dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi di masa mendatang.

Faisal menyebutkan bahwa curah hujan pada 2026 diperkirakan berada sedikit di bawah kondisi normal. Artinya, jumlah hujan yang turun kemungkinan tidak sebanyak tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah wilayah menjadi lebih kering. Daerah yang berada di sekitar garis khatulistiwa seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat termasuk wilayah yang perlu mewaspadai situasi ini.

Saat ini wilayah-wilayah tersebut juga sedang memasuki periode yang dikenal sebagai “kemarau kecil”. Pada fase ini hujan masih bisa terjadi, namun intensitasnya tidak terlalu tinggi.

Periode Kemarau dan Puncaknya di Pertengahan Tahun

Menurut BMKG, periode kemarau kecil biasanya terjadi sebelum memasuki puncak musim kemarau. Pada masa tersebut masih terdapat peluang hujan meskipun tidak berlangsung secara intens dan merata.

Fenomena ini sering kali menjadi masa transisi antara musim hujan menuju musim kemarau. Oleh karena itu kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat dari hujan ke cuaca cerah dalam waktu singkat.

Faisal menjelaskan bahwa puncak musim kemarau pada 2026 diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun. Periode tersebut biasanya berlangsung pada bulan Juni, Juli, hingga Agustus.

“Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus,” ujar Faisal. Pada periode itulah risiko kebakaran hutan dan lahan biasanya meningkat karena kondisi tanah dan vegetasi menjadi lebih kering.

Upaya Pencegahan Melalui Modifikasi Cuaca

Melihat potensi peningkatan risiko karhutla, BMKG menilai langkah pencegahan perlu dilakukan sejak dini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menjaga kondisi lahan agar tetap lembap sebelum memasuki puncak musim kemarau.

Faisal menjelaskan bahwa membasahi lahan sejak awal menjadi strategi penting untuk menekan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan. Tanah yang memiliki kadar air cukup cenderung lebih sulit terbakar dibandingkan lahan yang sangat kering.

Saat ini BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan operasi modifikasi cuaca. Upaya ini bertujuan untuk memicu hujan buatan di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.

“Ketika masih memungkinkan dilakukan penyemaian awan, kita upayakan mendatangkan hujan untuk membasahi lahan agar lebih jenuh sebelum memasuki puncak musim kemarau,” kata Faisal.

Koordinasi Antarlembaga Mengantisipasi Karhutla

BMKG juga terus memantau perkembangan berbagai fenomena iklim global yang dapat memengaruhi cuaca di Indonesia. Salah satu fenomena yang menjadi perhatian adalah kemungkinan munculnya El Nino pada tahun-tahun mendatang.

Jika fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan angin monsun Australia yang bersifat kering, maka Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan di berbagai wilayah.

Karena itu BMKG terus memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak. Lembaga ini bekerja sama dengan pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan, serta instansi penanggulangan bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.

Langkah koordinasi tersebut diharapkan mampu mempercepat respons jika terjadi kebakaran hutan. Selain itu, upaya pencegahan juga dapat dilakukan lebih awal sehingga dampak bencana dapat diminimalkan.

“BMKG siap mendukung semua pihak agar lebih siap dan sigap dalam menghadapi ancaman karhutla,” ujarnya. Dengan sinergi berbagai lembaga, diharapkan potensi kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan meskipun kondisi cuaca diperkirakan lebih kering pada 2026.

Terkini