Harga Batu Bara Jatuh Pasca Lonjakan Dua Hari, Dampak Energi Global

Kamis, 05 Maret 2026 | 13:30:04 WIB
Harga Batu Bara Jatuh Pasca Lonjakan Dua Hari, Dampak Energi Global

JAKARTA - Harga batu bara kembali melemah setelah sebelumnya mencatat kenaikan signifikan selama dua hari berturut-turut. 

Kontrak batu bara April pada perdagangan Rabu ditutup di level US$132,9 per ton, turun 3,7 persen, memutus tren positif yang sempat melonjak 17,2 persen pada dua hari sebelumnya.

Pelemahan harga ini dipengaruhi kondisi energi global yang melemah. Meski harga minyak mentah masih naik, kenaikannya tidak setajam pada awal minggu. Di sisi lain, harga gas Eropa turun hampir 4 persen, sehingga batu bara sebagai pengganti energi turut mengalami koreksi harga.

Lonjakan sebelumnya mencapai sekitar US$138 per ton pada Selasa, level tertinggi sejak November 2024. Kenaikan ini dipicu oleh penghentian operasi langka fasilitas gas alam cair (LNG) di Qatar, yang memicu peningkatan permintaan untuk fuel switching di sektor pembangkit listrik.

Dampak Ketegangan Timur Tengah pada Pasar Energi

Serangan drone Iran terhadap pusat ekspor LNG utama Qatar meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Fasilitas ini menyumbang sekitar 20 persen pasokan LNG global dan belum pernah sepenuhnya berhenti beroperasi selama 30 tahun terakhir.

Ketegangan ini memaksa beberapa negara Asia mempertimbangkan pembangkitan listrik berbasis batu bara sebagai alternatif sementara. Taiwan, misalnya, menyiapkan kemungkinan meningkatkan penggunaan batu bara jika gangguan pasokan LNG berlanjut.

Sementara itu, kenaikan harga minyak global pada awal minggu menjadi pendorong tambahan bagi pasar batu bara. Namun, laju kenaikan yang melambat pada Rabu membuat koreksi harga terjadi.

Permintaan Global Tetap Kuat Mendukung Pasar

Ekspektasi permintaan global yang kuat menjadi faktor penting bagi pasar batu bara. China, sebagai produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia, terus menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menjaga keamanan energi dan stabilitas jaringan.

Pasar domestik China untuk batu bara termal menunjukkan kinerja positif pada Februari 2026, didorong permintaan pembangkit listrik yang solid pasca musim dingin. Sentimen pasar bullish juga muncul dari kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Faktor-faktor pendukung ini memberikan bantalan bagi harga batu bara meski terjadi koreksi jangka pendek. Pasokan yang tidak murah dari luar negeri dan ketergantungan China pada batu bara untuk menjaga stabilitas jaringan membuat pasar tetap memiliki penopang.

Musim Pemanas Berakhir Tekan Permintaan

Meski permintaan tetap kuat, beberapa faktor mulai menekan pasar. Salah satunya adalah berakhirnya musim pemanas di China. Dengan suhu lebih hangat, konsumsi listrik untuk pemanas di wilayah utara menurun, sehingga penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik ikut melemah.

Persediaan batu bara di enam kelompok pembangkit listrik pesisir utama tercatat mencapai 13,82 juta ton, naik 2,3 persen dibanding sebelum libur Tahun Baru Imlek. Kenaikan stok ini membuat pembeli menjadi lebih berhati-hati terhadap harga yang dianggap tinggi.

Kondisi ini memicu koreksi harga meski permintaan untuk kebutuhan industri dan utilitas masih relatif stabil. Pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap harga tinggi yang terbentuk akibat lonjakan dua hari sebelumnya.

Strategi China Menjaga Keamanan Energi

China tetap mengandalkan batu bara untuk menjaga keamanan energi dan stabilitas jaringan listrik. Kebijakan ini menjadi penopang pasar domestik, meski harga global sempat melemah.

Selain itu, impor batu bara yang tidak murah juga membuat pembangkit di China tetap memilih sumber energi domestik. Strategi ini menjaga keseimbangan pasokan dan mengurangi risiko ketergantungan terhadap pasar global yang fluktuatif.

Dengan demikian, koreksi harga tidak serta-merta menandai penurunan permintaan jangka panjang. Pasar batu bara tetap didukung oleh faktor-faktor struktural dan kebijakan energi nasional China.

Prospek Pasar Batu Bara ke Depan

Para pelaku pasar memperkirakan momentum kenaikan harga mungkin tidak bertahan hingga akhir Maret. Faktor musim yang memengaruhi konsumsi listrik dan kenaikan stok memicu kehati-hatian di kalangan pembeli.

Namun, sebagian analis menilai harga batu bara masih memiliki penopang kuat. Pasokan impor yang relatif mahal dan ketergantungan China pada batu bara menjadi alasan harga domestik tetap terjaga meski terjadi koreksi jangka pendek.

Dengan begitu, pasar batu bara diperkirakan akan mengalami fluktuasi moderat, menyesuaikan antara faktor permintaan global, kondisi geopolitik, dan kebijakan energi domestik. Keseimbangan ini menjadi kunci bagi stabilitas harga dalam beberapa minggu ke depan.

Terkini