JAKARTA - Rencana penguatan modal PT Garuda Indonesia Tbk kembali mencuat setelah Danantara Indonesia membuka peluang penyuntikan dana lanjutan.
Langkah ini menjadi sorotan karena sebelumnya lembaga tersebut telah menggelontorkan dana besar untuk maskapai pelat merah itu.
Danantara Indonesia diketahui telah memberikan modal sebesar USD1,4 miliar atau sekitar Rp23 triliun pada November 2025 silam. Tambahan dukungan finansial pun masih dimungkinkan, meski belum menjadi agenda utama dalam waktu dekat.
Hal itu dikatakan Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas. “Capital injection harus ada nanti next,” kata Rohan Hafas menanggapi pertanyaan soal potensi injeksi modal susulan bagi maskapai pelat merah tersebut, Selasa, 3 Maret 2026.
Meski demikian, Rohan menegaskan bahwa penyuntikan modal tambahan belum menjadi prioritas Danantara saat ini. Lembaga sovereign wealth fund tersebut lebih memusatkan perhatian pada agenda restrukturisasi internal maskapai BUMN.
Fokus Holdingisasi Maskapai BUMN
Menurut Rohan, fokus utama Danantara saat ini adalah menyelesaikan proses holdingisasi atau merger maskapai BUMN. Targetnya, proses tersebut dapat rampung pada semester I-2026 sehingga struktur armada dan operasional menjadi lebih efisien.
“Merger dulu lebih bagus digabung supaya jumlah armadanya menjadi efisien,” jelas Rohan. Pernyataan itu menegaskan bahwa efisiensi dianggap lebih mendesak dibandingkan ekspansi armada baru dalam waktu dekat.
Ia menambahkan, percepatan holdingisasi dinilai lebih realistis dibandingkan pembelian pesawat baru. Proses pembelian pesawat, termasuk Boeing, memerlukan waktu tunggu panjang yang bisa mencapai tujuh tahun bagi maskapai.
Dengan integrasi armada yang ada, Garuda Group diharapkan dapat memaksimalkan kapasitas tanpa harus segera melakukan belanja besar. Pendekatan ini dipandang lebih strategis dalam fase konsolidasi perusahaan.
Kondisi Armada Garuda Dan Citilink
Hingga 31 Oktober 2025, Garuda Indonesia tercatat memiliki 78 pesawat serviceable. Armada tersebut terdiri dari 46 pesawat berbadan kecil atau narrow body dan 32 berbadan lebar atau wide body, termasuk enam unit yang sedang dihentikan sementara.
Sementara itu, Citilink sebagai anak usaha Garuda memiliki 64 armada serviceable. Rinciannya meliputi 56 pesawat Airbus, tujuh turboprop, satu fighter, dan tujuh pesawat dalam tahap penghentian sementara.
Data tersebut menunjukkan bahwa Garuda Group masih memiliki basis armada yang cukup signifikan. Optimalisasi penggunaan pesawat yang ada menjadi bagian penting dari strategi transformasi bisnis.
Langkah efisiensi melalui holdingisasi diharapkan mampu menekan biaya operasional. Dengan manajemen armada terpadu, rute dan kapasitas dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar secara lebih presisi.
Rencana Pembelian Lima Puluh Pesawat Boeing
Terkait rencana pembelian 50 pesawat Boeing dari Amerika Serikat, Rohan menjelaskan bahwa prosesnya masih dalam tahap pembahasan G2G atau government-to-government. Artinya, negosiasi dilakukan pada level antar pemerintah.
“Danantara siap membeli 50 pesawat Boeing itu, tapi pihak Boeing belum menyampaikan berapa unit yang bisa disediakan,” ujarnya. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kepastian jumlah unit masih menunggu kesiapan produsen.
Rohan juga menjelaskan bahwa sumber pendanaan pembelian pesawat tidak selalu berasal dari Danantara atau kas internal Garuda Group. Skema pembiayaan dapat bervariasi sesuai kesepakatan bisnis.
“Suppliers credit juga ada dari Boeing. Bisa dicicil atau tunai, tergantung kesepakatan. Namanya orang mau beli, orang mau jual, harus ketemu di titik yang sama-sama senang, termasuk soal bunga dan pembayaran,” terang Rohan.
Sementara itu, Komisaris Utama GIAA, Fadjar Prasetyo saat dihubungi menyarankan agar persoalan tersebut ditanyakan langsung kepada direksi. “Mungkin lebih baik ke direksi saja ya,” kata mantan KSAU ini melalui pesan singkat WhatsApp WA, Selasa, 3 Maret 2026.
Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani mengatakan saat ini pihaknya dan Boeing tengah melakukan komunikasi secara intensif. Pembahasan difokuskan pada detail kebutuhan armada yang sesuai dengan pangsa pasar Garuda.
Ia menyebut rencana pembelian pesawat merupakan langkah strategis jangka panjang dalam upaya penyehatan Perseroan. "Melalui transformasi bisnis dengan penguatan armada dan optimalisasi jaringan penerbangan dalam lima tahun ke depan," ujar dia dalam keterbukaan informasi, Senin, 21 Juli 2025.
Wamildan menambahkan bahwa pembelian tersebut telah disetujui oleh Menteri BUMN saat itu, Erick Thohir, serta sebelumnya mendapat persetujuan Presiden Indonesia, Prabowo Subianto pada 23 Juni 2025. "Perseroan juga secara paralel tengah menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak pemberi dana potensial," katanya.
Menurutnya, penambahan armada akan menunjang transformasi bisnis Garuda dari aspek network dan fleet. Rasionalisasi jaringan rute dilakukan berdasarkan profitability uplift potential dan strategic network serta ekspansi armada yang align dengan permintaan market.
Meski demikian, Wamildan menegaskan komitmen menjaga efisiensi operating cost tetap menjadi perhatian utama. "Saat ini Perseroan dan Boeing melanjutkan komunikasi secara intensif untuk membahas lebih komprehensif terkait detail kebutuhan armada yang sesuai dengan pangsa pasar Perseroan, termasuk terkait dengan waktu delivery pesawat. Hal ini juga mempertimbangkan dari sisi kesiapan Boeing untuk menyediakan tipe pesawat yang dibutuhkan oleh Perseroan," pungkasnya.
Pembelian pesawat tersebut juga berkaitan dengan kesepakatan tarif 19 persen yang dicanangkan Amerika Serikat terhadap produk Indonesia. Dalam persyaratan, Indonesia diharuskan membeli 50 pesawat buatan Boeing serta membeli energi dan mengimpor produk pertanian dari Negeri Paman Sam.
Tak hanya itu, Presiden AS, Donald Trump menyatakan barang ekspor AS ke Indonesia tidak akan dikenakan biaya atau nol persen. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari paket kesepakatan dagang yang turut memengaruhi rencana pengadaan armada Garuda Indonesia.