Pinhome Optimistis Pasar Properti Domestik Bangkit di 2026 Meski Tantangan

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:19:32 WIB
Pinhome Optimistis Pasar Properti Domestik Bangkit di 2026 Meski Tantangan

JAKARTA - Pasar properti domestik diprediksi menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada 2026, meski sepanjang paruh kedua 2025 masih dibayangi tekanan ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan. 

Platform teknologi properti Pinhome menilai, dengan strategi tepat, pasar rumah siap huni memiliki peluang kuat untuk menarik minat pembeli. Analisis ini dirangkum dalam Indonesia Residential Market Report Semester II 2025 & Outlook 2026.

Kondisi Pasar Sepanjang 2025

Kondisi pasar sepanjang 2025 menunjukkan konsumen lebih berhati-hati dalam membeli properti akibat ketidakpastian global dan domestik. Lanskap pasar pun berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Salah satu temuan utama adalah stagnasi inventori rumah primer, dengan penambahan bulanan turun hingga 14%, menandakan suplai rumah baru berkurang.

Peluang bagi Pengembang Rumah Siap Huni

Stagnasi inventori rumah primer membuka peluang bagi pengembang yang memiliki stok rumah siap huni. Permintaan beli cepat menjadi peluang strategis, apalagi kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) masih berlaku hingga akhir 2027. Strategi ini memungkinkan pengembang menjangkau konsumen yang menginginkan kepastian ketersediaan rumah segera.

Sebaliknya, inventori rumah sekunder justru meningkat 5% per bulan, terutama di kawasan penyangga DKI Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Tangerang Selatan. Tren ini tercermin dari meningkatnya listing properti dengan label “Butuh Uang (BU)” atau “Jual Cepat”, menunjukkan tekanan ekonomi mendorong sebagian pemilik melepas aset hunian.

Perbedaan Permintaan Kawasan Industri dan Residensial

Permintaan properti di kawasan industri tetap positif, seiring ekspansi sektor manufaktur. Di Cikarang, misalnya, permintaan rumah tumbuh 16% pada semester II 2025. Sementara itu, kawasan residensial komuter seperti Bekasi mengalami koreksi. Tambun turun 22% dan Cibitung melemah 9%, menegaskan kedekatan hunian dengan pusat aktivitas kerja menjadi faktor kunci pembentukan permintaan.

Menurut CEO Pinhome, Dayu Dara Permata, tekanan ekonomi termasuk gelombang PHK dan kenaikan biaya hidup mendorong pemilik properti melepas aset untuk menjaga likuiditas. Kondisi ini menciptakan dinamika berbeda antara kebutuhan hunian primer dan sekunder, memengaruhi strategi penjualan dan pengembangan properti.

Tren Pembiayaan Rumah dan KPR

Data Pinhome menunjukkan meningkatnya minat KPR dengan tenor panjang dan plafon lebih rendah, sebagai strategi menekan cicilan bulanan dan menjaga fleksibilitas arus kas. Rumah sekunder kini lebih diminati untuk menghindari beban ganda cicilan dan sewa. Skema Take Over dan Top Up mendominasi 74% transaksi, disertai preferensi tenor lebih panjang.

Tren ini mencerminkan fokus konsumen pada mitigasi risiko suku bunga, efisiensi utang, dan pilihan unit siap huni. Strategi ini menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar properti, sekaligus mendukung pemulihan permintaan di tengah tantangan ekonomi.

Optimisme Pemulihan Properti di 2026

Meski pasar properti masih dibayangi dinamika global, seperti konflik geopolitik, inflasi, dan ketegangan rantai pasok, Pinhome dan Permata Bank tetap optimistis. Resiliensi pasar regional menjadi penopang, terutama di Sumatera. Desember 2025, indeks permintaan rumah di Palembang naik 24% dan Pekanbaru tumbuh 23% dibanding bulan sebelumnya.

Di Jawa Barat, proyek infrastruktur seperti Kereta Cepat Whoosh meningkatkan minat properti. Pencarian rumah di Cileunyi naik 18% dan Rancaekek melonjak 31%, seiring progres pembangunan Tol Getaci. Di luar Pulau Jawa, kebijakan hilirisasi sumber daya alam mendongkrak permintaan, misalnya Maluku Utara naik 11% dan Sulawesi Tengah 8%.

Munculnya Pusat Pertumbuhan Properti Baru dan Kolaborasi Kebijakan

Tren ini menandai lahirnya pusat-pusat pertumbuhan properti baru di luar kota besar tradisional. Pengembangan kawasan industri, akses transportasi, dan proyek infrastruktur mendorong ekspansi pasar. Namun, tantangan tetap pada keterjangkauan dan distribusi hunian yang merata, yang menjadi perhatian utama pengembang dan pemerintah.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menekankan perlunya kolaborasi kebijakan di sektor pembiayaan, pembangunan, dan infrastruktur. Pendekatan ini penting agar program perumahan meningkatkan keterjangkauan dan memenuhi kebutuhan masyarakat secara strategis. Kuncinya adalah sinergi antara pengembang, pemerintah, dan lembaga keuangan.

Penutup dan Strategi Pasar Properti 2026

Pasar properti domestik 2026 menunjukkan peluang pemulihan meski dibayangi tekanan global dan domestik. Strategi stok rumah siap huni, KPR fleksibel, dan fokus pada kawasan industri menjadi kunci. Tren pertumbuhan di pusat-pusat baru dan proyek infrastruktur menegaskan optimisme Pinhome dan Permata Bank. Kolaborasi kebijakan tetap dibutuhkan untuk memastikan pasar properti pulih secara inklusif dan berkelanjutan.

Terkini