Harga Minyak Dunia Turun Usai Reli Kuat Pekan Lalu

Selasa, 24 Februari 2026 | 10:14:11 WIB
Harga Minyak Dunia Turun Usai Reli Kuat Pekan Lalu

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia kembali melemah setelah mencatat lonjakan signifikan pada pekan sebelumnya. 

Koreksi ini terjadi di tengah dinamika geopolitik dan kebijakan perdagangan yang menambah lapisan ketidakpastian baru di pasar global. Investor kini mencermati berbagai sentimen yang berpotensi memengaruhi keseimbangan suplai dan permintaan energi.

Pada Senin, 23 Februari 2026, harga minyak tercatat turun tipis. Pelaku pasar mempertimbangkan prospek putaran ketiga pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Di saat yang sama, kebijakan tarif terbaru dari Amerika Serikat turut membayangi pergerakan harga.

Dikutip dari Investing.com pada Selasa, 24 Februari 2026, kontrak berjangka minyak Brent yang berakhir April turun 0,1 persen menjadi USD71,22 per barel. Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate juga turun 0,1 persen menjadi USD66,41 per barel.

Penurunan ini terjadi setelah kedua kontrak melonjak hampir enam persen pekan lalu. Reli tersebut dipicu kekhawatiran potensi konflik Amerika Serikat dan Iran serta penurunan tak terduga dalam stok minyak mentah Amerika Serikat.

Pasar Menanti Pembicaraan Nuklir AS Iran

Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis di Jenewa. Pertemuan ini menghadirkan harapan akan deeskalasi ketegangan geopolitik yang sebelumnya memicu kekhawatiran pasar energi.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Face the Nation CBS pada hari Minggu bahwa ada peluang bagus untuk mencapai solusi diplomatik dan bahwa solusi tersebut berada dalam jangkauan mereka. Komentar itu ditafsirkan pasar sebagai sinyal kesediaan untuk berkompromi.

Iran merupakan produsen utama dalam Organisasi Negara Negara Pengekspor Minyak atau OPEC. Negara tersebut juga memiliki salah satu cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia. Peran Iran dalam rantai pasok global menjadikannya faktor krusial dalam pembentukan harga.

Selain itu, Iran berada di sepanjang Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima minyak yang diangkut melalui laut secara global. Eskalasi apa pun berisiko mengganggu arus distribusi serta meningkatkan biaya pengiriman dan asuransi.

Kebijakan Tarif Baru Tambah Ketidakpastian

Di sisi lain, kebijakan perdagangan Amerika Serikat menambah tekanan pada harga minyak. Presiden Donald Trump mengumumkan penerapan tarif global baru yang memicu kekhawatiran pelaku pasar.

Trump awalnya menetapkan bea masuk sepuluh persen untuk impor, sebelum menaikkannya menjadi lima belas persen selama seratus lima puluh hari. Kebijakan ini diambil setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan program tarifnya yang lebih luas sebelumnya.

Tarif tersebut merupakan batas maksimum yang diizinkan berdasarkan undang undang yang relevan. Langkah ini menambah ketidakpastian dalam arus perdagangan global serta prospek permintaan energi dunia.

Kenaikan tarif berpotensi mengganggu rantai pasokan dan memicu tindakan balasan dari mitra dagang. Volume perdagangan yang lebih lambat dan produksi industri yang melemah biasanya berdampak pada turunnya konsumsi bahan bakar.

Pandangan Analis Soal Permintaan Global

Analis pasar senior di Trade Nation David Morrison menyampaikan pandangannya terkait situasi ini. Ia menyebut bahwa meskipun perkembangan geopolitik memberikan dukungan mendasar, kekhawatiran atas pertumbuhan permintaan global menahan harga untuk saat ini.

Ia juga menilai kenaikan tarif Presiden Trump telah menimbulkan kekhawatiran terhadap pertumbuhan global yang lebih lambat. Arus perdagangan yang melemah dapat membebani konsumsi energi. Risiko itu meningkat jika ketegangan perdagangan berlanjut atau memicu tindakan balasan.

Komentar tersebut mencerminkan sikap hati hati pelaku pasar dalam merespons berbagai sentimen. Harga minyak tidak lagi hanya dipengaruhi oleh isu pasokan, tetapi juga oleh dinamika makroekonomi global.

Dengan berbagai faktor yang saling tarik menarik, pasar energi berada dalam fase sensitif. Setiap perkembangan diplomatik maupun kebijakan ekonomi dapat langsung tercermin pada harga komoditas.

Proyeksi Harga Dari Goldman Sachs

Di tengah ketidakpastian, Goldman Sachs merevisi proyeksi harga minyak mentah untuk kuartal keempat 2026. Bank investasi tersebut menaikkan perkiraan Brent dan West Texas Intermediate masing masing sebesar USD6 menjadi USD60 dan USD56.

Penyesuaian itu didasarkan pada penurunan stok OECD, meskipun Goldman tetap berasumsi tidak akan ada gangguan pasokan terkait Iran. Mereka juga mempertahankan pandangan mengenai surplus pasokan pada tahun ini.

Untuk keseluruhan tahun, Brent diperkirakan rata rata USD64 per barel, naik dari USD56 sebelumnya. Sementara WTI diproyeksikan rata rata USD60 per barel, meningkat dari USD52.

Dalam catatan tertanggal Minggu, Goldman menyebut perkiraan Brent sebesar USD60 mencerminkan penurunan bertahap dari premi risiko USD6 jika ketegangan geopolitik mereda. Perkiraan tersebut juga memasukkan asumsi penurunan nilai wajar USD5 akibat meningkatnya stok di Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau OECD.

Terkini